Ketika mendengar berita Merapi bergolak kembali saya langsung teringat
dengan sahabat lama saya sesama kru Tabloid MQ, hanya saja dia koresponden
untuk wilayah Jogjakarta dan sekitarnya. Sebenarnya saya jarang bertemu dia,
kalau dihitung mungkin hanya dua kali, saat dia berkunjung ke Bandung, ke
kantor Tabloid MQ dan saat saya dan beberapa rekan kru Tabloid MQ meliput
kondisi pascagempa Jogja tahun 2006 lalu.
Meski jarang bertemu, bukan berarti tidak harus peduli dengan penderitaan
dia dan orang-orang di kampungnya saat Merapi kembali beraksi. Winarno, sahabat
saya ini lahir dan besar di Magelang hingga menikah dan punya anak. Wajar jika
dia sudah sangat akrab dan mengenal betul dengan Merapi dan segala tingkahnya.
“Biasanya saat Merapi beraksi orang-orang sibuk turun ke bawah mencri tempat
aman, tapi saya malah asyik mengambil gambar Merapi beraksi,” kata Winarno yang
hobi fotografi dan Merapi sering menjadi objek favoritnya.
“Tapi aksi Merapi kali ini membuat saya takut dan trauma bukan main.
Mendengar dero motor saja sudah membuat jantungku bedebar keras seolah
mendengar gemuruh Merapi saat beraksi,” lanjut Winarno yang selama ini dikenal
tegar dan kuat menghadapi segala “kenakalan” Merapi.
Yah, aksi Merapi 2010 ini memang terasa berbeda, bukan hanya dirasakan oleh
Winarno yang usianya baru sekitar 35 tahunan. Seorang bapak yang tinggal di
sebuah desa Stabelan, radius 5 km dari Merapi pun mengungkapkan hal yang sama. “Merapi
sekarang beda dari tahun-tahun kemarin. Biasanya seminggu beraksi sudah reda.
Sekarang, sudah lebih dari dua minggu masih belum ada kepastian kapan akan
berhenti,” ungkap seorang bapak yang saya temui di dekat lahannya saat kembali
dari mengungsi.
Usia bapak ini sekitar 65 tahunan. Dia asli kampung ini, lahir dan besar di
dekat Merapi. Seperti halnya Winarno, dia pun sudah mengenal Merapi. Ternyata
dia pun mengalami ketakutan dan debaran yang sama dengan penduduk kampungnya,
apalagi kampungnya lebih dekat dibanding kampungnya Winarno. Sudah lebih dari
dua minggu dia mengungsi beserta orang-orang di kampungnya ke tempat yang lebih
aman. Setelah peristiwa meninggalnya Mbah Marijan pada 26 Oktober 2010, banyak
masyarakat kampung sekitar Merapi yang mengungsi karena status "Awas" Merapi yang
belum juga turun.
Baru sekitar dua hari sebelumnya (18-19 Nopember 2010) dia bisa naik lagi menengok rumah dan
lahannya. Biasanya dia naik ke kampungnya mulai pagi hari untuk mengurus ternak
dan melihat-lihat sawahnya atau membersihkan rumah. Mulai siang hari sekitar
pukul 14.00 atau menjelang asar dia kembali ke barak pengungsian. Tidak semua
orang kampungnya pulang kembali ke kampung saat pagi hingga siang hari, hanya
beberapa orang saja. Suasana kampung yang berbatasan dengan Boyolali ini pun
sepi, hampir seperti kota mati. Apalagi debu vulkanik sisa-sisa hujan debu
Merapi masih melekat di setiap bagian kampung, dari mulai jalanan aspal,
halaman rumah, atap rumah, dan sebagainya. Mungkin karena hujan sudah banyak
mengguyur kampung ini, debu-debu di jalanan aspal sudah tidak begitu tebal,
tetapi masih tampak sisa-sisanya sehingga membuat jalanan licin. Suasana seperti ini juga didaptkan di Desa Trinjing yang berjarak 4 km dari Merapi.
 |
Desa
Trinjing, kampung tertinggi di ujung Merapi, sekitar 4 km dari Merapi.
Di desa ini pula pos pemantauan didirikan. Namun, saat penulis
berkunjung ke sana petugas pos pemantau Merapi sudah tidak berada di
tempat karena daerah ini sebenarnya sudah disterilkan dan tidak boleh
dikunjungi bahkan oleh penduduk desa ini sekalipun. Mereka sudah
mengungsi, tetapi sesekali masih berkunjung ke desanya.
|
Bila berjalan lebih tinggi ke radius 4 km dari Merapi di atas kampung
Belang Selo-Boyolali yang berbatasan dengan Magelang tersebut, jalanan aspal masih digenangi debu Merapi yang tebalnya sekitar 5 cm.
Saya yang dibonceng sahabat saya dengan mengendarai motor pun sempat jatuh
karena oleng akibat jalanan yang licin oleh debu Merapi. Sepanjang jalanan di
kampung ini benar-benar
masih dipenuhi debu, bahkan pada radius 2 km dari Merapi suasana hampir seperti
kota salju yang seluruhnya putih, hanya saja putihnya bukan karena salju,
tetapi karena debu yang begitu tebal.
Bila ingin aman, masker harus selalu kita kenakan, kaca mata pelindung dan
helm pun harus dipakai. Tentu saja pakain harus serba tertutup memakai baju lengan
panjang dan celana panjang. Bila perlu memakai kaus tangan dan sepatu bot. Saya
yang waktu itu tidak mengenakan kaus tangan dan sepatu bot harus menikmati
setiap debu yang menempel di tangan dan kaki hingga membuat kulit terasa begitu
kering. Meski sudah dicuci dengan air (yang juga sedikit berbau debu Merapi)
tetap terasa kering kecuali setelah memakai
hand-body
lotion. Bagi masyarakat sekitar mungkin sudah terbiasa sehingga tidak berpengaruh,
tetapi bagi saya yang baru menginjakkan kaki di lereng Merapi ini, debu ini
sungguh mengganggu. Meski saya memakai kaus kaki dan sepatu pendek, tetap saja
debu masuk kaki saya. Sepatu saya yang berwarna hitam pun berubah menjadi putih
tertutup abu.
 |
Di perkampungan dengan radius 2 km dari Merapi debu yang melekat bisa setebal ini. Di jalanan aspal saja tebalnya bisa mencapai 5 cm, apalagi di atap rumah. |
Bukan hanya debu yang mengganggu, bau belerang pun mulai terasa pada radius
4 km dari Merapi, baunya semakin menyengat pada radius 2 km Merapi, di Kampung
Belang-Tlogolele, Boyolali (perbatasan Magelang).
Bantuan untuk Para Pengungsi
Bencana seperti apa pun bentuknya tidak ada yang mengenakkan, begitupun
bencana amuknya Merapi ini. Selain banyaknya korban meninggal, juga banyak yang
terbakar terkena hembusan awan panas
“wedus
gembel”. Bila yang terbakar sekujur tubuh tentu pemulihannya butuh
waktu lama. Meski biaya pengobatan
ditanggung pemerintah, tetapi menanggung derita terbakar seperti itu tentu
bukan main penderitaannnya. Siapa pun pasti tidak ingin mengalaminya. Tentang
bagaimana ganasnya akibat “pembakaran” Merapi ini di tubuh manusia bisa membaca
kisah
Maryoto.
Menangani ratusan ribu pengungsi akibat erupsi Merapi saja bukan hal yang
mudah. Mulai dari mencarikan tempat yang aman dari radius 15 – 20 km dari
Merapi, membuat tempat tinggal sementara (barak) atau menampung di tempat luas
yang bisa menampung banyak orang juga bukan hal yang mudah. Bila mereka
mengungsi di tempat-tempat umum, seperti GOR, sekolahan, barak-barak, pasti
butuh tempat MCK (Mandi, Cuci, Kakus) yang banyak. Ini berarti butuh banyak
sarana air bersih. Selain untuk bersih-bersih, mereka juga butuh air untuk
minum dan makanan siap saji. Sebenarnya bisa saja diberikan mekanan mentah,
mereka toh bisa masak sendiri, tetapi tentu harus ada sarana untuk memasaknya.
 |
Para penduduk Ngampel-Sengi,
Kecamatan Ndukun, Kabupaten Magelang, sekitar 8 km dari Merapi berjalan menjauhi Merapi untuk menghindari amuknya. |
 |
Mereka berjalan kaki dari malam dini hari (Kamis, 4 Nopember 2010 pk. 00.00) menuju km 25 dari Merapi. Tidak ada kendaraan yang mengangkut mereka. Hingga pagi sekitar pk. 08.00 mereka belum sampai di lokasi tujuan. |
Pengalaman Winarno yang waktu itu mengungsi dengan penduduk kampungnya
bahkan sampai harus berpindah tempat hingga empat kali, dari 8 km Merapi
(kampungnya) pindah ke 13 km desa di bawahnya, lalu ke 15 km, 20 km, sampai
akhirnya pindah ke 25 km dari Merapi. Dia dan penduduk kampungnya pernah
tinggal di barak pengungsian yang bocor ketika hari hujan, hawa dingin menyusup
dari celah-celah tenda barak begitu terasa, apalagi bila malam menjelang.
Sedangkan mereka tinggal di barak atau pengungsian lebih sering pada malam
hari. Mulai pagi hingga siang hari biasanya mereka kembali ke kampungnya. Ada
yang ikut tinggal di rumah saudaranya yang aman dari batas “AWAS” Merapi.
Memang tinggal di rumah orang lain (bukan di posko pengungsian resmi yang
disediakan pemerintah) relatif nyaman dari segi fasilitas, seperti air bersih,
tempat tinggal, dan sebagainya. Akan tetapi, risikonya mereka tidak mendapat
bantuan dari pemerintah untuk biaya makan dan lain-lainnya. Begitu pun ketika
ada dana swadaya masyarakat yang memberikan bantuan tentu tidak akan sampai ke
tangan mereka kerena tidak semua masyarakat tahu dia pengungsi Merapi.
Hal ini pun pernah dialami Winarno dan orang-orang sekampungnya. Winarno dan
keluarganya (orang tua, anak, dan istrinya) pada awalnya hanya ikut di rumah
saudaranya (Bu liknya) yang berjarak 25 km dari Merapi. Namun, warga desanya
yang lain ternyata ingin ikut ke tempat Winarno mengungsi yang berada di perumahan
yang tergolong elit di Megelang (Perum Prayudan). Akhirnya Winarno meminta izin
kepada warga kompleks Bu liknya untuk mengizinkan mereka tinggal di masjid
kompleks mereka. Malah ada yang berbaik hati meminjamkan rumah mereka yang masih
kosong. Akhirnya sekitar 300 warga pengungsi tinggal di kompleks perumahan
tersebut tinggal dalam beberapa rumah. Satu rumah ada yang dihuni 30 – 40
orang. Buliknya beserta beberapa warga kompleks pun membuat kepanitiaan untuk
mengurusi sekitar 300-warga. Mereka harus mencari nasi rames untuk makan malam sekitar
300-an warga tersebut. Ketua panitia membagi-bagi tugas membuat rames itu
kepada beberapa rumah di kompleks tersebut. Ternyata pada malam harinya
bertambah lagi sekitar seratus pengungsi dari kampung Ndukun (tempat tinggal
Winarno). Penitia pun sempat sedikit kalang kabut untuk mencari seratus nasi
bungkus tambahan dalam waktu singkat. Namun, subhanallah, ketika nasi yang
terkumpul dibagikan ke semua warga pengungsi, ternyata bisa cukup, bahkan lebih
beberapa bungkus. Ternyata, ada orang yang mengaku dari kota mengirimkan rames
seratus bungkus, pas sesuai kekurangan yang mereka butuhkan. Ketika orang yang
menerima nasi itu dikorfirmasi siapa yang memberikan nasi tersebut, dia mengaku
tidak mengenalnya, “Dia cuma bilang dari kota”. Subhanallah. Pertolongan Allah
benar-benar tidak disangka-sangka datang dari sisi mana pun.
 |
Masyarakat kampung Ngampel-Sengi, Kecamatan Ndukun, Kabupaten Magelang setelah sampai tujuan, mendapat tempat tinggal layak dan bantuan logistik. Namun, semua ini swadaya masyarakat. |
Tempat tinggal enak, setidaknya lebih enak dibandingkan para pengungsi yang
tinggal di barak-barak atau di GOR dan tempat-tempat umum lain. Akan tetapi,
panitia harus ekstra keras mencari bantuan ke sana-kemari untuk memenuhi
kebutuhan sekitar 400-an warga pengungsi, terutama kebutuhan logistik. Winarno,
herus berperan ganda, sebagai pengungsi sekaligus relawan yang mencari bantuan
untuk semua warga yang mengungsi bersamanya. Dia sudah melaporkan ke pemerintah
jumlah pengungsi dan kebutuhannya. Akhirnya mengucur dana bantuan dari
pemerintah Rp 4.500.-/orang pengungsi setiap hari. Tentu saja dana ini tidak
cukup. Panitia terus mencari dana swadaya, selain dari warga kompleks, juga
dari kenalan-kenalan Winarno atau penitia lain di beberapa kota lain.
Tinggal di perumahan elit ternyata bukan berarti hidup tanpa masalah. Bagi
masyarakat kampung yang tidak terbiasa dengan peralatan mahal ternyata
menimbulkan masalah dan cerita lucu tersendiri. Ada rumah yang kamar mandinya
“tidak biasa” dalam pandangan mereka. Ketika seseorang masuk kamar mandi, pintu
langsung terkunci. Karena terburu-buru seseorang masuk tanpa tahu bagaimana
membuka pintu tersebut. Ketika selesai menunaikan hajatnya di kamar mandi dan
hendak membuka pintu , dia bingung bagaimana membuka pintu tersebut. Sementara
pintu tersebut hanya bisa dibuka dari dalam. Karena tidak ada cara lain,
pemilik rumah pun menginstruksikan untuk membobol pintu itu.
Ada lagi peristiwa di dapur yang membuat “kelucuan” dan sedikit kekacauan. Meja dapur rumah
itu terbuat dari kaca. Ketika salah seorang pengungsi di tempat tersebut
selesai memasak, seperti kebiasaan dia di rumah, langsung menaruh panci di
meja. Dalam kondisi panas, panci pun ditaruh di atas meja kaca tersebut. Bisa
ditebak apa yang terjadi. BRAK! Kaca pun pecah. Padahal, pasti meja kaca itu
tidak murah harganya. Panitia di kompleks itu pun harus mengganti kaca meja
tersebut. Lucu dan menggelikan. Begitulah hidup dengan banyak orang dan aneka
kebiasaan yang berbeda-beda.
Sebuah Ironi
Ada yang peduli, ada juga yang memanfaatkan keadaan. Bukan berita baru bila
para pengungsi ini ada yang kehilangan hewan ternaknya saat mereka mengungsi. Kalau
hewan ternak mati pasti ada bangkainya. Ini, sama sekali nggak ada tanda-tanda
matinya binatang tersebut.
“Kok tega ya, mengambil barang milik pengungsi?!” Padahal, mereka sudah sangat
menderita dengan musibah Merapi yang menimpa mereka. Seharusnya bencana ini memberikan
pelajaran bahwa hidup di dunia hanya sementara sehingga amal kebajikanlah yang
harus selalu kita tanam sepanjang hari. Harta benda sebanyak apa pun tidak ada
yang kita bawa. Eh…lha kok malah
“nyolong”
alias mencuri. Entah siapa yang mencuri, apakah warga kampung itu sendiri atau
dari luar. Ada yang bilang, mereka mengaku “relawan” yang ingin mengamankan
hewan ternak warga. Lha kok dibawa kabur.
Na’udzubillahi
min dzalik.
Ada juga tingkah warga yang serakah. Memang mereka berhak dengan bantuan
dari berbagai pihak, dari pakaian baru hingga pakaian bekas layak pakai,
sembako, dan sebagainya. Ada saja pengungsi yang serakah ingin menguasai
sendiri. Datang ke posko mengatasnamakan beberapa orang di kelompok ngungsinya
untuk meminta bantuan, dari mulai sembako maupun baju layak pakai. Beberapa kali
meminta selalu dikasih oleh petugas posko. Saat salah seorang anggota
kelompoknya yang lain mengajukan bantuan yang sama (ini benar-benar butuh),
petugas di posko mengecek catatan dan ternyata bantuan untuk kelompok tersebut
sudah tersalurkan. Otomatis tidak bisa mengambil jatah yang sudah diberikan. Usut
punya usut, orang pertama yang meminta bantuan ke posko tidak menyampaikan
(membagikannya) kepada anggotanya yang lain, tetapi malah dibawa pulang ke
rumah pribadinya. Padahal, saat saya lihat rumahnya, lumayan bagus. Lebih bagus
dari rumah-rumah tetangganya. Boleh dibilang dia termasuk keluarga berpunya di
lingkungannya.
Saat orang lain sibuk mengumpulkan harta pribadinya untuk membantu para
korban Merapi, ternyata ada segelintir orang (bahkan korbannya) yang malah
mengumpulkan hasil bantuan tersebut untuk kepentingan pribadinya. Inilah ironisme
yang memprihatinkan. Ternyata kaya dan miskin bukan soal uang, tetapi soal “paradigm
berfikir”. Seorang anak SD kelas 1 dari keluarga berekonomi lemah bisa jadi
lebih kaya dibanding “Bapak pengungsi” tadi. Nun jauh dari Merapi, seperti yang
saya lihat pada tayangan TV swasta, ada seorang anak SD berekonomi lemah yang
memiliki keinginan kuat untuk membantu para korban Merapi. Subhanallah.
Di sudut salah satu sungai yang biasa dialiri lahar dingin Merapi sudah
mulai dilakukan penambangan pasir oleh orang luar Merapi saat para penduduk
asli Merapi sibuk mengungsi dan menyelamatkan jiwa mereka. Seharusnya ini
menjadi hak para masyarakat sekitar Merapi. Setidaknya bisa menjadi mata pencaharian
mereka selama lahan pertanian mereka belum pulih dan bisa ditanami kembali. Padahal,
mata pencaharian mereka selama ini kebanyakan dari bertani dan beternak. Bila
lahan hancur akibat Merapi, tentu butuh waktu lama untuk memulihkannya kembali.
Minimal sekitar enam bulan ke depan. Namun, bila mata pencaharian alternatif pun
“dilahap” pihak luar Merapi, bagaimana dengan nasib mereka? Inilah yang menjadi
pemikiran sahabat saya Winarno melihat nasib orang-orang kampungnya pascaerupsi
Merapi.
 |
Kondisi sungai yang dialiri lahar dingin Merapi. |
 |
Kerusakan tanaman akibat erupsi Merapi. Seharusnya sudah siap panen, tapi gagal panen karena tersirami debu vulkanik yang begitu tebal. Ada juga beberapa tanaman yang benar-benar kering akibat tersapu awan panas "wedus gembel". |
Kita hanya bisa berharap semoga Merapi bisa kembali bersahabat dengan warga
di sekitarnya dan kehidupan mereka pulih seperti sedia kala. Amiiin.@
 |
Penulis (Indah) saat meliput dan napak tilas kegiatan Merapi di Bendungan/Dam Senowo. |
|
|
 |
Winarno, penduduk asli Merapi saat menemani penulis berkeliling Merapi. |