Selamat Datang Bagi Para Pecinta, yang Bersedia Menumbuh-Suburkan Cinta Demi Kedamaian di Dunia Ini!
Tampilkan postingan dengan label sakinah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label sakinah. Tampilkan semua postingan

Rabu, November 20, 2013

Pintu Terlarang Bernama "Curhat"


Sebelum menikah, Nisa, sebut saja begitu, sering menjadi “terminal curhat” beberapa teman dekatnya tentang berbagai masalah yang menimpa mereka baik yang sudah menikah maupun sesama lajang. Bahkan ada yang mengalami permasalahan rumah tangga begitu berat hingga diselingkuhi suami beberapa kali. Takpernah terbayang dalam benak Nisa, kalau dia pun harus mengalami masalah serupa dalam rumah tangganya.

Tiga tahun usia pernikahannya, orang bilang ini adalah masa-masa rawan mulai munculnya riak-riak kecil dalam rumah tangga. Namun, yang dihadapi Nisa bukanlah riak kecil, tapi masalah yang maha dahsyat hingga hampir meruntuhkan mahligai rumah tangganya. Nisa menikah dengan Agung, seorang duda beranak dua yang ditinggal mati istrinya. Saat itu anak pertama suaminya masih duduk di kelas 1 SMP sedangkan anak kedua sekolah di TK. Tahun pertama dan kedua Nisa fokus mengurus kedua anak tirinya hingga rela keluar dari pekerjaannya sebagai editor sebuah penerbit. Seminggu sekali Nisa dan suami mengunjungi anak pertamanya yang tinggal di pesantren. Seiring berjalannya waktu, Alhamdulillah Nisa bisa mulai dekat dengan anak pertamanya hingga dia bisa kembali ceria sepeninggal ibu kandungnya. Suaminya kemudian memberikan tugas baru kepada Nisa untuk melakukan pendekatan dengan anak keduanya yang tinggal bersama kakak kandungnya (ipar Nisa) di kota J. Sejak ditinggal mati istrinya, Agung tidak bisa merawat anak keduanya sendiri karena dia harus bekerja dari pagi hingga petang. Karenanya dia menitipkan anaknya ini kepada kakaknya .

Nisa pun menunaikan tugas baru sebagai ibu bagi anak kedua dan harus rela meninggalkan suaminya di kota B menuju kota J, tempat anak keduanya tinggal. Meski butuh pendekatan ekstra dan kesabaran penuh akhirnya anak keduanya pun bisa dekat dengannya. Bahkan anak keduanya ini seolah tidak bisa bobo malam kalau tidak dininabobokan dulu oleh Nisa. Akhirnya, Nisa dan Agung memutuskan untuk membawa anak keduanya ini ke kota tempat tinggal mereka agar lebih fokus mengurusnya. Namun, pertentangan datang dari kakak dan orang tua Agung di kota J. Mereka tidak setuju anak yang dulu dititipkan kepada mereka diambil begitu saja karena mereka sudah terlanjur sayang. Nisa tidak banyak bicara soal ketidaksetujuan mereka atau menentang mereka dengan kata-kata. Dengan sepenuh hati dan kesabaran Nisa tetap mengurus anak keduanya di kota J hingga kakak iparnya melihat kesungguhannya dalam mengurus anak tirinya ini. Mereka pun akhirnya mengikhlaskan keponakannya ini untuk dibawa ke kota B.

Keluarga kecil mereka akhirnya kembali utuh tinggal di rumah mereka sendiri. Anak kedua yang sekolah di SDIT Alhamdulillah bisa menjadi juara menghafal Al Qur’an pada levelnya di sekolah atas bimbingan Nisa. Sebuah kebahagiaan tersendiri bagi Nisa bisa membimbing anak tirinya untuk mencintai Al Qur’an dan menghafalkannya padahal ibu-ibu lain yang notabene seorang ibu kandung banyak yang merasa sulit membimbing anaknya menghafal Al Qur’an. Setahun kemudian anak pertama mereka lulus dari pesantren dan memilih meneruskan sekolah di dekat rumah sehingga mereka benar-benar tinggal dalam satu atap sebagai keluarga yang utuh, ada Ayah-Ibu dan kedua anak mereka. Hubungan Nisa dan kedua anaknya pun semakin dekat. Mereka sudah menganggap Nisa seperti ibu kandungnya sendiri, Nisa pun menyayangi mereka seperti anak kandung sendiri.

Ketika Prahara Datang

Tidak ada sebuah rumah tangga yang dijalani tanpa ujian dari Allah Swt. Saat keluarga kecil ini seolah menikmati kebahagiaan seutuhnya selayaknya keluarga lain, ujian itu datang. Menginjak usia pernikahan ketiga, tiba-tiba Agung, suami Nisa membawa kabar yang mengoyak hatinya. Dengan berderai air mata bahkan dengan menahan sakit perut yang dideritanya sehari sebelumnya, Agung mengakui kalau dirinya sedang jatuh cinta dengan teman kerjanya di kantor cabang. Mereka menjalin komunikasi melalui email dan telepon. Agung pernah ditugaskan untuk mengisi training di kantor cabang tempat kerja perempuan itu, sebut saja namanya Laras. Awalnya Laras hanya kagum dengan Agung yang dalam pandangannya adalah seorang yang bijaksana dan suka menasehati. Kebetulan saat itu Laras sedang mengalami masalah dengan pacarnya. Dia dikhianati pacarnya padahal hubungan mereka sudah sangat dekat bahkan sudah memiliki tabungan bersama untuk rumah tangga mereka kelak. Meski tidak diceritakan secara detail oleh Agung karena hal-hal privasi yang tidak mungkin dibuka, Nisa bisa menebak kalau hubungan Laras dengan pacarnya sudah sangat jauh.

Dalam dilema, Laras yang selama ini tertutup dan tidak memiliki teman dekat yang bisa dipercaya menumpahkan curahan hatinya kepada Agung, suami Nisa, melalui email. Lama kelamaan curhat Laras disambung melalui telepon kantor. Selama dua bulanan komunikasi mereka terjalin intensif hingga Agung yang sebelumnya tidak pernah menerima curhatan dari perempuan lain kecuali istrinya merasa kasihan dan bersimpati dengan permasalahan yang menimpa Laras. Laras sering menangis di telepon yang katanya hanya bisa tertumpah saat curhat dengan Agung. Keluarga Laras bahkan tidak tahu permasalahan Laras yang sebenarnya. Agung tidak tega mendengar perempuan menangis sedangkan istrinya sendiri nyaris tidak pernah menangis di depannya. Salahnya, emosi Agung ikut terlibat dalam menyikapi curhatan Laras hingga dia sampai merasa tidak rela orang seperti Laras yang dalam pandangannya adalah perempuan baik-baik harus hidup dengan laki-laki “bejat” seperti pacarnya. Dari rasa simpati, kasihan, akhirnya muncul rasa sayang di hati Agung kepada Laras. Satu rasa yang tidak seharusnya hadir karena tidak direkat dalam ikatan suci pernikahan apalagi Agung sudah memiliki istri dan anak-anak. Perasaan Agung ternyata tidak bertepuk sebelah tangan, Laras pun menyayanginya selayaknya sayangnya seorang kekasih. Laras bahkan sudah sangat benci dengan pacarnya itu meski di depan keluarganya dia masih tetap bersikap baik dengan pacarnya.

Selama ini Agung berprinsip tidak mau pacaran. Ketika mencintai seorang wanita maka hanya ada dua pilihan baginya, menikahi perempuan itu atau memutuskan “rasa” itu sama sekali. Tidak rela melihat Laras menderita jika harus hidup dengan laki-laki yang tidak menghargai wanita seperti pacar Laras membuat Agung merasa tergerak menjadi “pahlawan penyelamat” untuk menikahi Laras. Melalui sms, Agung pun melamar Laras. Laras yang merasa sedang dalam dilema yang sangat berat merasa bebannya bertambah dengan lamaran itu karena sadar tidak mudah menikah dengan pria yang sudah beristri. Padahal menurut pengakuan Agung mereka sudah membicarakan rencana hubungan hingga ke pernikahan dan berapa banyak anak yang akan mereka memiliki kelak. Namun, kondisi psikis Laras yang memang sedang labil membuatnya semakin tertekan hingga tidak membalas sms Agung bahkan tidak mau menerima telepon darinya hingga dua harian.

Saat kondisi genting seperti itulah Agung memberanikan diri menceritakan semua perasaan hatinya yang “terlarang” itu kepada Nisa istrinya. Reaksi Nisa saat itu “datar” saja seolah tidak ada rasa sakit hati atau cemburu. Entahlah, mungkin yang ada dalam pikiran Nisa adalah bagaimana membantu suaminya sembuh dari sakit perutnya. Sejak dua hari digempur permasalahan yang menyiksa batinnya, Agung memang didera sakit perut hingga membuatnya sulit makan dan istirahat. Ketika pulang dari kantor wajahnya kuyu dan tampak sangat lelah. Namun, Nisa tahu kalau lelah yang dialami suaminya pasti bukan lelah fisik. Kalau sekadar lelah fisik biasanya Agung akan meminta Nisa memijiti kakinya. Sebentar kemudian lelahnya pun hilang. Namun, lelah yang ditampilkan wajah suaminya saat itu sangat tidak biasa. Nisa mencoba bertanya kenapa, apa karena masalah pekerjaan? Atau ada masalah dengan rekan kerja? Tapi Agung masih diam. Baru pada hari kedua saat sakit perutnya sudah mulai membaik Agung menceritakan semuanya kepada Nisa.

Nisa hanya bilang kalau dia tetap sayang sama Agung sebagai suaminya dan juga anak-anak. Hanya saja Nisa menyayangkan kenapa suaminya mudah menerima curhat dari perempuan yang bukan muhrim. Padahal, komunikasi intensif antara dua manusia lawan jenis via email dan saling bertelepon ria bisa menumbuhkan rasa suka dan sayang walaupun tidak bertemu langsung. Hal ini dialami sendiri oleh Nisa. Sebelum menikah Nisa juga pernah menjalin komunikasi dengan seorang pria di luar negeri. Saking intensifnya komunikasi sempat memunculkan rasa saling suka padahal mereka belum pernah bertemu muka. Namun, mereka tidak berjodoh hingga tidak sampai menikah. Dari sana Nisa sadar kalau “curhat” antara laki-laki dan perempuan yang bukan muhrim lebih banyak menimbulkan efek negatif. Maka sejak menikah Nisa berkomitmen dalam diri untuk tidak akan menerima curhatan dari laki-laki mana pun selain suaminya. Padahal dulu sebelum menikah Nisa sering menerima curhatan dari teman-teman cowoknya. Namun, tidak disangka ternyata justru suaminya malah menerima curhatan dari wanita lain.

“Mama tidak menghalangi Ayah untuk menikah lagi kalau memang itu yang terbaik untuk rumah tangga kita. Mama tetap sayang sama Ayah dan anak-anak. Tapi Mama ingin keputusan itu didasarkan atas hasil istikharah, bukan emosi sesaat. Libatkan Allah dalam masalah kita. Nanti malam kita sama-sama istikharah memohon keputusan terbaik dari Allah.” Kata Nisa datar sambil menyandarkan kepalanya di dada suaminya.

Suaminya langsung memeluk Nisa erat. Seolah berterima kasih karena tidak marah atau sakit hati dengan perasaan “terlarang”-nya kepada perempuan lain itu.

Nisa tampak tegar menerima curhatan suaminya yang sedang jatuh cinta dengan perempuan lain seolah dia sedang menghadapi/menerima curhatan orang lain, seolah yang sedang diselingkuhi itu bukanlah dirinya. Apalagi Nisa memang sudah sering menerima curhatan dari teman-temannya. Entah apa yang ada dalam benak Nisa hingga mampu bersikap datar tanpa emosi apalagi marah dan menyalahkan suaminya. Mungkin karena dia sudah kenyang dengan ujian pahitnya kehidupan pada masa lalu sebelum menikah sehingga ketika menerima kepahitan hidup sekali lagi hatinya seolah “datar” saja. Yang ada dalam benaknya saat itu hanya bagaimana membantu suaminya sembuh dari sakit fisik dan beban mental yang maha berat bagi suaminya ini.
Usai mengungkapkan semua isi hatinya, Agung menyeka air matanya. Aneh, seharusnyaNisa yang nangis, bukan Agung.

“Ma, Ayah mau tidur dulu!” kata Agung menyudahi pembicaraan saat itu.

Nisa pun memberi kesempatan kepada suaminya untuk beristirahat. Tidak berapa lama suaminya pun terlelap dalam tidur seolah semua kepenatan hatinya hilang. Kini, gantian Nisa yang tidak bisa tidur.
Hingga malam larut Nisa masih sulit memejamkan mata. Hatinya dipenuhi kegundahan luar biasa. Akhirnya Nisa bangun untuk mengambil air wudhu dan mengenakan mukena. Dia tunaikan shalat istikharah mengadukan semua kegundahan hatinya kepada Sang Pencipta dirinya, yaitu Allah Swt.

Usai shalat, dengan masih mengenakan mukena, dia dekati suaminya dan mencium pipinya, “Ayah nggak solat tahajud?” Suaminya malah melingkarkan tangan Nisa ke dalam pelukannya. Nisa pun memeluk suaminya, diciumnya sekali lagi, dielusnya rambut suaminya penuh kasih sayang.

“Jam berapa, Ma? Biasanya Ayah shalat jam tiga pagi.” kata suaminya sambil mengambil HP untuk melihat jam.

Saat itu tepat pukul 03.00 dini hari. Suaminya lalu bangun dan mengambil air wudhu. Mereka berdua shalat tahajud. Mungkin ini tahajud pertama mereka yang dilakukan secara berjamaah. Nisa mengakui akhir-akhir ini jarang sekali tahajud. Dia mengakui kondisi batinnya sedang futur, ibadah sunah mulai jarang dilakukan. Mungkin karena itulah Allah mengujinya dengan masalah seperti ini agar dia kembali bersujud kepada-Nya. 

Usai shalat, Agung dan Nisa ngobrol berdua. Nisa memulai pembicaraan dengan mencoba berempati kenapa sampai lahir “rasa yang tidak seharusnya” di hati suaminya kepada perempuan lain. Semua berawal dari “curhat”. Nisa sadar bahwa perselingkuhan hati bisa menimpa siapa saja, hatta seorang ustad. Nisa menceritakan kepada Agung tentang kasus seorang ustad di Bdg, kota tempat kerja Nisa dulu sebelum menikah. Di sana ada seorang ustad yang memiliki banyak jamaah pengajian. Dia juga punya yayasan yang mengurusi masalah umat, salah satunya menampung masalah konsultasi rumah tangga. Namun, salahnya ustad tersebut menghadapi sendiri klien muslimah, tidak diserahkan kepada konsultan muslimah juga. Suatu ketika ada salah satu muslimah yang datang untuk berkonsultasi kepadanya. Entah bagaimana awalnya, akhirnya konsultasi antara ustad dan klien muslimah ini malah menimbulkan rasa saling jatuh cinta di antara mereka. Karena tidak mau terjerumus dalam dosa mereka pun menikah padahal sang ustad sudah memiliki anak dan istri. Banyak jamaahnya yang menghujat ustad tersebut. Mungkin karena tidak tahan dengan tekanan sana-sini belum lagi konon muslimah itu pun bermasalah sehingga sang ustad akhirnya menceraikan istri keduanya ini.

Semua berawal dari “curhat”. Yah, seorang ustad yang dibentengi ilmu agama kuat pun bisa terjerumus apalagi suaminya yang bukan siapa-siapa, bukan seorang ustad dan bukan lulusan pesantren. Untungnya Agung segera sadar dengan perasaannya yang salah dan segera mengakuinya di hadapan Nisa, istrinya. Menurut pengakuan Agung, “rasa terlarang” itu baru muncul seminggu sebelum dia mengakuinya di hadapan Nisa. Namun, meski belum lama tapi obrolan antara Agung-Laras sudah sampai pada rencana ke jenjang pernikahan (meski harus poligami).

Orang yang sedang jatuh cinta kadang logika berfikirnya tidak berjalan sempurna, lebih didominasi oleh emosionalnya. Karenanya Nisa mencoba membantu suaminya untuk membuka logikanya.

“Mama paham kenapa Ayah ingin menolong Laras dengan menikahinya. Karena Ayah tidak rela orang sebaik Laras menikah dengan laki-laki bejat seperti pacarnya itu kan? Tapi pertanyaannya, apakah setelah Ayah menikahinya maka semua masalah Laras pasti selesai? Atau malah bertambah? Bagaimanapun, menjalani pernikahan poligami itu tidak mudah. Terutama bagi perempuan. Dia butuh keluasan hati, ketegaran jiwa, kekuatan mental, kesabaran, dan sebagainya. Menghadapi masalahnya yang sekarang saja Laras sebegitu stresnya, apalagi nanti ketika dia dibawa ke dalam pernikahan poligami, apa nggak semakin stres dia? Menolong kan tidak harus dengan menikahinya, Ayah.” Kata Nisa menggambarkan resiko ke depan.

“Kalau Ayah memang butuh untuk menikah lagi, Mama sarankan tidak menikah dengan perempuan seperti Laras. Dia sendiri sedang galau dengan dilema masalahnya, apalagi jiwanya masih sangat labil. Kalau mau menikah lagi carilah perempuan yang paham dengan pernikahan dalam Islam, terutama tentang poligami dengan segala permasalahan di dalamnya. Bagaimanapun istri Ayah nanti adalah calon ibu bagi anak-anak Ayah, maka carilah perempuan yang benar-benar mampu mengemban peran ibu ini dengan baik. Apalagi dengan pernikahan poligami yang memang tidak mudah menjalaninya. Mama butuh wanita yang bisa menjadi patner buat Mama, bukan malah menjadi musuh.” kata Nisa menambahkan.

Agung hanya tersenyum dan memeluk Nisa erat.
“Kalau gitu Mama saja yang nyariin istri buat Ayah. Syaratnya sederhana saja, asal dia bisa menghargai Mama. “ kata Agung tampak sedikit sumringah.

“Memang Mama ikhlas kalau Ayah menikah lagi?” tanya Agung penasaran.

“Ya…ikhlas nggak ikhlas Mama harus terima kalau memang takdir Allah Swt. mengharuskan kita menjalani kehidupan poligami. Kalau Mama nggak terima sama saja Mama nggak mau nerima takdir Allah.” Jawab Nisa.

Bukan berarti Nisa ikhlas sepenuhnya menjalani hidup berpoligami, tapi dia sedang menyiapkan mentalnya untuk siap menghadapi kemungkinan itu. Bagaimanapun tidak ada orang yang tahu takdir hidupnya ke depan. Yang harus kita lakukan adalah menyiapkan mental kita untuk siap menghadapi semua takdir Allah, pahit maupun manis.

Dalam masa-masa ujian berat itu, Nisa meminta Agung untuk tidak saling berkomunikasi dulu dengan Laras karena khawatir akan semakin mengotori hati. Bagaimanapun perasaan yang terlanjur lahir di hati mereka adalah salah di mata Allah. Maka tidak ada jalan lain kecuali menghindarinya sampai ada keputusan terbaik dari Allah akan nasib hati mereka, apakah akan berlanjut hingga jenjang pernikahan atau harus berakhir. Nisa mengambil inisiatif menjadi mediasi komunikasi antara mereka bertiga; dia, Agung, dan Laras.

Agung sadar dalam kondisi seperti itu dia tidak mungkin lagi bebas berkomunikasi dengan Laras. Namun, Agung tidak mau kalau masalah ini akan semakin membuat Laras terpuruk apalagi sampai bunuh diri. Kalau sampai itu terjadi tentu Agung akan manjadi orang yang paling merasa bersalah kepada Laras. Sepertinya kekhawatiran Agung sangat berlebihan, mungkin karena besarnya rasa sayang Agung kepada Laras. Sebagai perempuan Nisa yakin Laras mampu menghadapi masalahnya dan tidak akan bertindak senekad itu. Toh Allah tidak akan menguji hamba-Nya di luar batas kemampuannya. Namun, itulah cinta hingga seorang pecinta tidak akan rela melihat orang yang dicintainya menderita.

Keesokan harinya Nisa menelepon Laras. Sebisa mungkin Nisa berusaha berbicara dengan nada datar tanpa marah sedikit pun. Nisa bilang kalau Agung sudah menceritakan semua tentang perasaan sayangnya kepada Laras. Nisa malah meminta maaf atas nama suaminya yang sudah lancang melamar Laras meski untuk tahun 2015. Padahal Agung tahu Laras sedang menghadapi dilema masalah yang berat. Agung hanya tidak mau semakin terjerumus dalam dosa (seperti orang pacaran) sehingga mengajak Laras menuju jalan yang halal di mata Allah, yaitu nikah meski harus berpoligami. Nisa memaklumi kalau Laras yang saat itu sedang menghadapi masalah butuh seorang teman curhat seperti suaminya. Suaminyalah yang salah karena membiarkan dirinya menerima curhatan dari perempuan yang bukan muhrim. Laras juga meminta maaf kalau masalahnya menjadi seperti ini. Dia mengaku kaget dengan lamaran Agung kepadanya padahal dia sedang menghadapi masalah berat. Khawatir keputusannya hanya sebatas pelarian dari masalahnya padahal dia masih muda dan memiliki masa depan yang panjang. Laras juga memohon kepada Nisa untuk menyampaikan maafnya kepada Agung. Nisa menyanggupi.

Obrolan di telepon itu serasa belum menuntaskan masalah yang ada. Nisa pun mengirimkan email kepada Laras. Dalam email sepanjang tiga halaman, Nisa sedikit mengulas dan menegaskan obrolan di telepon bahwa dia sudah memaafkan Agung dan Laras betapapun dia sudah dikhianati. Namun, Nisa meminta mereka tidak saling berkomunikasi dulu sambil istikharah memohon jalan terbaik dari Allah. Nisa juga menulis kilas balik kehidupannya pada masa lalu ketika Allah mengujinya dengan beban berat. Saat itu dia tidak memiliki sahabat yang bisa dijadikan tempat curhat kecuali buku harian dan mengadu kepada Allah lewat doa dan shalat. Tanpa bantuan teman atau orang lain, memang butuh waktu lama untuk bangkit, hampir dua tahun Nisa terus menangis setiap malam. Namun, ketika mampu keluar dari belenggu kapahitan Nisa mendapatkan semangat hidup yang permanen. Ibarat bangunan pondasinya sudah terpancang kuat sehingga ketika menghadapi goncangan lain pada masa depan bangunan itu tetap mampu berdiri kokoh.

Nisa berharap sharing-nya ini bisa membuka mata hati Laras bahwa di dunia ini bukan hanya dia yang menghadapi kepahitan dalam hidup. Selama masih ada Allah di hati kita akan tetap mampu melihat indahnya kehidupan di tengah kepahitan. Dengan demikian Laras akan tetap tegar dan mampu bersemangat dalam hidup ada atau tanpa Agung suaminya.

Email itu terkirim tanpa balasan dari Laras. Entah terbaca atau tidak oleh Laras. Agung sempat khawatir tidak ada reaksi balasan dari Laras. Agung pun mengusulkan untuk mengirimkan beberapa buku kepada Laras atas nama Nisa agar lebih bisa menetralkan kondisi saat itu. Agung meminta Nisa memberikan note yang sekiranya bisa menyemangati Laras. Kalau semua dilakukan atas nama Agung khawatir akan semakin memupuk perasaan “sayang” di antara mereka, sebuah perasaan yang tidak seharusnya hadir karena tidak terjalin dalam ikatan suci pernikahan.

Selama ini Nisa sudah membuka keran persahabatan untuk Laras demi menetralisir masalah mereka. Padahal ini sangat berat bagi Nisa. Bagaimana dia harus menjadi sahabat bagi wanita idaman lain suaminya? Dari sisi kewanitaan dia menolak, tapi dari sisi kemanusiaan Nisa merasa tidak memiliki pilihan lain kecuali menyanggupinya. Dia tahu banget bagaimana rasanya menjalani kepahitan hidup tanpa ada orang yang bisa dijadikan tempat curhat. Itu sebabnya dia rela membuat tulisan sepanjang tiga halaman demi menyemangati Laras. Namun, semakin hari perhatian dan kekhawatiran Agung kepada Laras tampak begitu besar hingga membuat Nisa cemburu.

“Sebegitu besarkah rasa cinta suamiku kepada Laras? Apakah melebihi cintanya kepadaku?” begitu batin Nisa.

Saat Agung sibuk memikirkan bagaimana menolong dan membangkitkan semangat hidup Laras, tanpa dia sadari pada saat yang sama dia sedang “menancapkan luka” di hati Nisa, istrinya. Agung menjadi sosok “malaikat penolong” bagi Laras tapi “menorehkan luka” bagi Nisa. Meski perih, tapi pengalaman kepahitan hidup pada masa lalu membuat Nisa tidak mudah menumpahkan tangis. Selama beberapa hari dia mengabaikan rasa sakit hatinya karena fokus mengurus suaminya yang sakit lalu berusaha menuntaskan permasalahan dengan Laras. Lama kelamaan tubuhnya tidak mampu lagi menyangga perihnya. Tubuhnya terasa lemas lunglai, tenaganya seperti habis diperas usai membawa beban berton-ton banyaknya. Tidak ada daya untuk melakukan apa pun, bahkan untuk shalat dhuha pagi itu. Mukenanya masih meliliti tubuhnya tapi tidak ada tenaga untuk berdiri menunaikan hajatnya. Akhirnya Nisa tiduran di kasur. Menahan sesak di dada, Nisa pun menuliskan pesan singkat ke HP suaminya.

“Sejak ujian berat menimpa rumah tangga kita, rasa sayang Mama ke Ayah tidak berkurang. Tapi jujur, rasa percaya Mama ke Ayah sudah berkurang. Kalau dulu Mama percaya 100%, sekarang entah tinggal berapa persen. Terserah Ayah mau mengembalikan kepercayaan Mama atau akan menghancurkannya.”

Rasa cemburu, khawatir, sakit hati, dan sebagainya berkecamuk dalam dada Nisa. Pikiran-pikiran negatif tentang suaminya sering menghantui benaknya dan sulit dienyahkan. Dia sulit mengambil rasa percaya untuk suaminya. “Beginikah rasanya dikhianati cinta? Aku sadar kalau aku bukan istri yang sempurna bagi suamiku, tapi apakah karena ketidaksempurnaanku ini suamiku berhak mengkhianati cintaku?” jerit batin Nisa.

Kepala Nisa terasa sangat berat hingga takkuasa menahan kantuk. Nisa pun langsung tertidur setelah meng-sms suaminya. Beberapa kali suaminya menelepon dari kantornya tapi Nisa tidak mengangkatnya. Tubuhnya masih sangat lemas, tulang-tulang tubuhnya seperti ditumbuk hingga takmampu mengangkat telepon.

Tidak disangka, empat jam kemudian suami Nisa pulang ke rumah. Padahal perjalanan dari kantor ke rumah lumayan lama, dua jam. Waktu menerima sms dari Nisa, Agung baru sampai di kantor. Begitu Nisa tidak membalas sms dan tidak mau mengangkat telepon darinya, Agung langsung memutuskan untuk pulang. Agung sempat mampir dulu ke masjid pinggir jalan untuk shalat jumat. Nisa yang sudah tertidur selama empat jam sudah mulai menemukan kekuatan tubuhnya. Dia bangun dan menemui suaminya. Agung sempat menanyakan kepadanya kenapa tidak mengangkat telepon darinya. “Nggak tahu, tubuh Mama rasanya lemas sekali.” Hanya itu jawaban dari Nisa.

Selama ini sebenarnya Nisa sudah terbentur cemburu dengan almarhumah istri Agung yang seolah masih terus kokoh tersemat di hati Agung. Agung sering menceritakan saat-saat kebersamaan dengan almarhumah istrinya. Tentang bagaimana dia mengajari istrinya mengaji alif-ba-ta, mengajari shalat, dan ilmu agama lain. Almarhumah boleh dibilang “awam” dengan Islam meski terlahir dari keluarga muslim. Semua itu seolah menjadi masa-masa terindah dalam hidup Agung. Sementara dengan Nisa hal itu tidak pernah dilakukan karena Nisa lebih mapan dari sisi ilmu agama, apalagi dia lulusan pesantren. Lalu, sekarang harus dibenturkan lagi dengan kecemburuan baru oleh hadirnya Laras yang kalau dilihat dari ilmu agama juga masih butuh bimbingan. Mungkin Agung berharap bisa kembali menikmati masa-masa membimbing ilmu agama kepada istri dengan menikahi Laras, satu hal yang tidak dia dapatkan ketika hidup bersama Nisa. Yah, ironis memang. Seharusnya, ketika memiliki istri yang berkecukupan dari sisi ilmu agama membuat suami lebih giat lagi menuntut ilmu agama sehingga bisa bahu-membahu bersama istri untuk memperbaiki ibadah, keimanan, dan ketauhidan di dalam keluarga, baik antara suami-istri maupun anak-anak. Bukan malah berpikir untuk mencari istri yang notabene ilmu agamanya berada di bawah dia.

Setiap manusia baik laki-laki maupun perempuan pasti ingin memiliki posisi istimewa di hati orang yang dicintainya.  Begitu pula dengan Nisa. Dia pun ingin menjadi istimewa di hati suaminya. Namun, sepertinya itu sulit bagi Nisa. Dia merasa seolah terjepit antara perempuan di masa lalu suaminya dan perempuan yang ingin dikejar suaminya pada masa depan. Nisa seolah hanya pijakan sementara untuk mengisi kelabilan kondisi Agung sepeninggal istrinya. Setelah kondisinya kembali stabil.… entahlah… mungkin perempuan lain yang akan mengisinya. Kondisi ini sering membuat penat hatinya hingga kadang ingin lari dari rumah suaminya. Dia ingin beritikaf berhari-hari di masjid agar dapat berdialog berdua dengan Allah Swt. tanpa dibebani tugas-tugas rutin. Di sana dia bisa fokus untuk beribadah dan mengadukan segala kepenatan hatinya tanpa dilihat orang lain. Hanya berdua dengan Allah Swt. Namun, ketika teringat dengan anak-anak keinginan itu langsung ditepisnya. Siapa yang akan meninabobokan anak keduanya? Siapa yang akan menyediakan makanan untuk anak-anak? Siapa yang akan menyambut anak keduanya di rumah ketika pulang sekolah? Siapa yang akan menemani anak-anak sebelum ayahnya pulang?  

Sebelum menikah Nisa tidak mau pacaran dan sengaja mengosongkan hatinya untuk memberikan tempat itu kepada seorang pria yang benar-benar sah menjadi suaminya kelak. Akhirnya Agung datang menjadi sosok suami baginya. Nisa pun bertekad hanya akan memberikan cintanya 100% kepada suaminya ini, sosok yang dinikahi atas nama Allah. Apalagi Agung adalah tipe suami yang diinginkannya, baik, shalih, cerdas, tidak gengsi untuk membantu pekerjaan rumah dari mulai mencuci baju hingga mencuci piring tanpa diminta. Saking cintanya kepada suami, Nisa bahkan pernah merasa seolah tidak ada yang lebih berharga di dunia ini kecuali suaminya.

Namun, mungkin Allah yang Maha Pencemburu tidak rela kalau hamba-Nya terlalu mencintai makhluk-Nya dibanding Dia. Karena itu Allah memberikan ujian perselingkuhan hati suaminya. Satu hal yang lebih menyakitkan bahwa selama ini Nisa sangat menjaga pergaulan dan dirinya agar tidak disentuh oleh laki-laki mana pun kecuali suaminya. Namun, pria yang dicintainya 100% ini ternyata lebih memilih mencintai wanita yang rela dirinya dijamah oleh laki-laki lain yang belum halal baginya. Seolah dirinya tidak lebih berharga dari perempuan seperti itu.

Selama proses istikharah, meski perih, Nisa tidak pernah menumpahkan setetes air matanya sekali pun di hadapan suaminya. Dia hanya menumpahkan semua kegundahan hatinya kepada Allah lewat sujud-sujud dalam shalat di sudut kamarnya. Di hadapan Penciptanya Nisa lebih mudah menumpahkan tangis dan kepedihan hatinya.

“Ya Allah, jadikan hamba istri terbaik bagi suami hamba,” pinta Nisa dalam doanya kepada Allah Swt.

Keesokan harinya Agung memberi kabar kalau hubungannya dengan Laras sudah berakhir. Laras sudah kembali ke pacarnya dan mereka akan lamaran akhir tahun ini. Legakah hati Nisa? Belum sepenuhnya. Laras memang sudah memutuskan untuk kembali ke pacarnya tapi entahlah dengan hati Agung. Apakah dia mampu mengenyahkan rasa sayangnya kepada Laras atau tidak? Yang pasti keputusan Laras ini mengecewakan Agung dan membuatnya sangat terpukul.

“Ayah sendiri nggak habis pikir kenapa bisa terpedaya oleh anak yang usianya jauh di bawah Ayah. Seolah dia anggap apa Ayah ini? Hanya pelariannya saat dia terpuruk dengan pacarnya? Begitu dia sudah mampu memaafkan pacarnya dia pun kembali kepadanya.” Perih Agung mengadu di hadapan Nisa.

“Hm…” Nisa hanya menarik nafas antara lega dan prihatin.

Lega akhirnya pikiran suaminya terbuka kalau Laras bukan yang terbaik untuknya. Prihatin melihat suaminya yang terluka sedemikian hebat hingga membuatnya terkuras hati, pikiran, bahkan tenaganya hanya memikirkan Laras.

Nisa sadar ujian ini hadir karena Allah ingin mengingatkan dirinya yang telah lalai kepada-Nya, telah salah mengarahkan perasaan cintanya. Dalam keheningan, Nisa mengadu kepada Allah Swt.

“Ya Allah, ampuni hamba yang telah salah mengarahkan rasa cinta ini. Seharusnya hanya kepada Engkaulah hamba serahkan semua cinta ini. Bukan kepada makhluk-Mu sekalipun dia halal untuk hamba cintai. Engkaulah Zat yang tidak akan mengecewakan hamba-hamba-Mu yang berserah diri dan menyerahkan cintanya kepada-Mu. Sementara cinta kepada yang lain hanya akan menyematkan luka pada akhirnya. Ampuni hamba, ya Allah.”
 ***

Kisah nyata ini saya paparkan atas izin Nisa dan Agung dengan harapan semoga bisa menjadi ibrah bagi pembaca semua agar lebih berhati-hati menjaga “hati pasangan” kita. Jangan sampai hatinya terluka karena pengkhianatan cinta kita. Sekali pasangan kita merasa dikhianati selamanya luka itu akan terus tertanam di hatinya. Kalaupun pasangan kita mampu memaafkan, luka itu akan terus menganga. Seperti paku yang kau tancapkan di dinding, kalaupun kau cabut pakunya pasti bekas tusukannya akan tetap tampak melukai dinding.

Karenanya, berhati-hatilah, jangan sampai membuka pintu yang akan menjerumuskan kita pada ruang perselingkuhan. Salah satunya saling curhat antara dua insan berlainan jenis yang bukan muhrim. Jangan sampai kita rela mati-matian mengejar “cinta yang belum pasti” dengan mengabaikan cinta yang pasti sudah menjadi milik kita. Bisa-bisa kita akan kehilangan keduanya. Naudzubillahi min dzalik. @

Senin, November 28, 2011

Memilih atau Terpaksa Menjadi Ibu Rumah Tangga?




“Aku sekarang tinggal di Brebes, Mbak. Suami kerja di Bekasi. Habis bosen di rumah, gakda kerjaan. Paling ketemuan seminggu sekali, kadang suami yang ke Brebes atau aku yang ke Bekasi,” kata seorang adik tingkatku dulu di kampus tentang kabar terbarunya setelah menikah.

Dia baru beberapa bulan menikah, otomatis belum punya anak sehingga waktunya di rumah nyaris santai, hanya menunggu suami pulang kerja sambil mengerjakan pekerjaan rumah yang relatif ringan. Akhirnya malah memilih pulang ke kampung halamannya. Wah, apa nggak bikin budget bulanan membengkak tuh?

“Aku pengen kerja lagi nih, Mbak. Bosen di rumah cuma nungguin suami pulang. Tapi nggak diizinin sama suami,” sms dari teman lain yang juga baru beberapa bulan menikah.

Saya sampai nggak habis pikir kalau ada yang bilang nggak ada kerjaan dan bosen di rumah. Pekerjaan rumahku perasaan nggak habis-habis, deh. Memasak kadang butuh waktu 1  ̶  2 jam, bersih-bersih rumah 1,5 jam. Mencuci baju butuh waktu setidaknya dua jam, tapi hanya dua atau tiga kali dalam seminggu, itu pun masih dibantu suami kalau dia libur. Mencuci piring paling 15 menit, tapi tidak cukup sehari sekali. Sisanya aktivitas pribadi, dari mulai shalat, mandi, dandan, nonton TV, makan, istirahat, dan lain-lain.

Menyetrika sering membutuhkan waktu minimal dua jam, kalau banyak bisa sampai tiga jam, tapi risikonya punggung langsung pegel-pegel. Tapi toh itu tidak setiap hari. Belum nyapu dan ngepel rumah, seharusnya setiap hari karena kalau tidak debu bakal luar biasa mengotori lantai. Maklum Cikarang cukup panas hingga debu lumayan banyak. Awal-awal menikah, saya juga nggak langsung mengasuh anak. Hanya seminggu sekali mengunjungi anak di pesantren (anak dari suami, tentunya). Meski rutinitas seperti itu terus berjalan setiap hari, rasanya saya nggak pernah bosen di rumah meski jarang keluar rumah. Seminggu sekali kadang pergi ke pasar, tapi lebih sering hanya membeli sayuran dari tukang sayur yang lewat di depan rumah. Sesekali mengunjungi tetangga yang sakit. Gimana mau keluar rumah, pekerjaan rumah saja rasanya nggak selesai-selesai. Kalau lagi kambuh rasa males buat ngerjain pekerjaan rumah, paling diisi dengan main internet.

Bedanya dengan mereka, saya punya pelampiasan mengisi waktu luang, yaitu menulis. Untung ada laptop yang menemaniku menuangkan pemikiran dan perasaan. Apalagi sebulan kemudian suami memasilitasi rumah dengan internet, jadi lebih berwarna deh hari-hariku di rumah. Aku bisa chatting-an dengan teman-teman lama, bisa mudah mengakses pekerjaanku (editan) ke pengorder, dan lain-lain.

Namun, lebih dari semua itu, pasti sangat berbeda perempuan yang “terpaksa menjadi ibu rumah tangga” karena tidak ada pilihan lain dengan perempuan yang “memilih menjadi ibu rumah tangga”.

#1 “Kalau sudah menikah ya tinggal di rumah, mau ngapain lagi. Cari kerja susah.”  Atau

#2 “Ya, gimana lagi, suami nggak ngizinin aku kerja.”

Begitu kata perempuan yang terpaksa menjadi ibu rumah tangga. Coba bandingkan dengan kata-kata ini.

#3 “Aku ingin mengoptimalkan peran sebagai ibu rumah tangga dengan baik, ingin menjadi ibu sepenuhnya buat anak-anak yang bisa setiap saat hadir ketika mereka membutuhkanku.” 

#4 “Aku ingin meraih surga dalam peranku sebagai ibu rumah tangga dan mengantarkan anak-anak menuju kesuksesan dunia-akhirat.” Serta berbagai alasan lain.

Pernyataan #1 dan #2 tentu nuansanya terasa berbeda dengan pernyataan #3 dan# 4. Bisa dibayangkan bagaimana booring-nya ibu rumah tangga #1 dan #2 dalam menjalani aktivitasnya sehari-hari. Apalagi pekerjaan ibu rumah tangga banyak menyita aktivitas fisik dan kesabaran hati. Mengurus pekerjaan rumah dari mulai memasak, menyapu dan mengepel lantai, mencuci piring dan baju, menyetrika, merapikan rumah. Semua butuh tenaga ekstra. Bagi perempuan yang tidak biasa mengerjakan semua itu pasti bakal ngedumel. Apalagi kalau suami ternyata tidak mau pengertian untuk turut berbagi meringankan pekerjaan rumah karena menganggap semua itu pekerjaan perempuan.

Namun, akan sangat berbeda bagi ibu rumah tangga #3 dan #4 yang memang menjadikan “ibu rumah tangga” sebagai pilihan hidupnya. Dia akan punya planning dan sasaran yang pasti tentang apa yang akan dilakukannya di rumah. Meski di rumah dan mengerjakan segala aktivitas yang bagi sebagian orang dianggap “pekerjaan pembantu” akan dilakukannya dengan ikhlas dan ringan karena di sanalah peluang surganya didapatkan. Dia akan rela menanggalkan titel kesarjanaan ataupun tawaran karir setinggi langit demi menjadi “ibu rumah tangga sepenuhnya” karena itulah “pilihan hidupnya”. Tentu semua itu akan menjadi lebih ringan dijalani bila didukung pengertian dari suami. Suami yang baik tidak akan membiarkan istrinya mengerjakan pekerjaan-pekerjaan berat di rumahnya sendiri. Apalagi kalau sudah ada anak. Mengurus anak saja sudah mengeluarkan energi dan waktu tersendiri. Hendaknya suami tahu mana yang bisa dilakukannya sendiri dan mana yang khusus dilakukan istri. 

Saya bersyukur dikaruniai kemampuan menulis sehingga tetap bisa berkreasi di rumah sambil tetap mengerjakan pekerjaan-pekerjaan rumah lainnya. Namun, bagi ibu rumah tangga lain yang mungkin merasa tidak berbakat menulis, bukan berarti tidak punya wadah untuk berkreasi. Kuncinya adalah KEMAUN UNTUK TERUS BELAJAR. Bagi ibu rumah tangga baru yang belum memiliki anak, aktivitasnya bisa diisi dengan belajar memasak, misalnya. Saya sendiri waktu awal-awal menikah belum mahir memasak. Waktu suami meminta saya masak untuk menjamu teman kantornya, saya harus menelepon kakak saya di kampung untuk minta resep membuat ayam goreng dan kluban (sayur urab). Itu pun masih butuh tenaga tambahan dari adik ipar. Meski perdana, alhamdulillah tidak mengecewakan suami.

“Masakan Mama sukses,” puji suamiku. “teman-teman Mas sampai habis banyak tuh makannya,” sambungnya.

Padahal ayam gorengnya masih terlalu keras, maklum ngegorengnya terlalu kering, kurang asin lagi. Mereka kan datang pas siang hari, ya pasti laparlah. Makanya habis banyak. Mau makanan apa saja pasti disikat.

Jujur, sebelum menikah, saya hanya bisa masak sayur tumis dan sayur sop. Hehehe …. Teman-teman dan saudara bahkan meragukan kemampuan saya dalam memasak. “Sudah bisa masak belum?” begitu selalu pertanyaan mereka begitu tahu saya sudah menikah. Setelah menikah, suami juga sering meminta dimasakin makanan tertentu, minta bikinin sayur asem, sayur lodeh, dan lain-lain. Setelah ada internet di rumah, saya tinggal tanya sama Mbah Google. Jadi deh. Mau masakan apa saja juga ada resepnya di google.

Bagi ibu muda yang sedang menunggu kelahiran anak juga bisa belajar banyak tentang mengurus bayi dan menangani balita, baik dari kursus-kursus atau dari buku bacaan. Sekarang banyak buku-buku tentang merawat bayi dan balita. Kalau ada internet di rumah, lebih mudah lagi, bisa tanya sama Mbah Google.

Intinya, tidak ada waktu luang yang percuma kok kalau kita mau kreatif memanfaatkan setiap detik demi detik di kehidupan kita, kuncinya itu tadi “KEMAUAN untuk terus BELAJAR”. Tidak ada yang sempurna di dunia ini. Begitu pun saat kita menikah. Pasti banyak hal yang belum kita ketahui dan pelajari dalam hidup berumah tangga. Itu sebabnya kita harus terus belajar. Belajar bisa dari mana saja, bisa dari bacaan, dari pengalaman orang lain, dari apa yang kita lihat di lingkungan, dan lain sebagainya. 

Membangun Ritme Hidup yang Berbeda 180⁰

Kehidupan saya sebelum menikah boleh dibilang sangat berbeda 180 derajat dengan setelah menikah. Sejak kuliah saya terbiasa mengisi waktu dengan seabreg aktivitas selain kuliah, yaitu dengan berorganisasi di beberapa organisasi sekaligus, baik intra maupun ekstra kampus. Organisasi boleh dibilang sebagai kampus kedua bagi saya. Apalagi sejak didaulat sebagai ketua umum di suatu organisasi dan sebagai bendahara umum di organisasi lain dalam waktu bersamaan. Nyaris waktu saya habis di kampus. Kamar kos hanya sebagai tempat numpang tidur dan menyimpan barang-barang doang.

Begitu masuk dunia kerja, terutama sejak menjadi wartawati di sebuah media Islami di Bandung, waktu saya pun nyaris habis hanya untuk menulis dan menulis. Demi mengejar deadline tulisan, kadang saya sampai camping di kantor hingga pagi, baik dengan rekan-rekan kerja lain maupun sendiri. Habis shalat shubuh di kantor terus pulang buat istirahat sejenak. Pukul 10.00 atau 11.00 baru nongol lagi di kantor. Begitu seterusnya hingga kerjaan kelar. Hari Minggu pun kadang harus rela kerja kalau ada jadwal wawancara dengan nara sumber yang hanya punya waktu di hari Minggu. Hampir sebulan sekali keluar kota, terutama ke Jakarta, untuk mewawancarai nara sumber yang sebagaian besar berdomisili di Jakarta. Kadang sampai menginep 2  ̶  3 hari di sana. Pernah juga hingga ke Pangandaran untuk meliput tsunami, ke Jogja untuk meliput gempa, dan lain sebagainya. Boleh dibilang, pekerjaan wartawan memang tidak mengenal waktu. Harus siap 24 jam. Saya bahkan pernah mewawancarai Menteri Pertanian, Pak Anton Apriantono, pukul 06.00. Saat itu saya bahkan belum sempat mandi, hanya sikat gigian, ganti baju, dan semprot wewangian sedikit. Berangkat deh.

Setelah menjadi Senior Editor di sebuah penerbit buku, baru ritme hidup saya sedikit santai karena ruang kerjanya sudah "di kandang" sepenuhnya. Maksudnya selalu berada di kantor dan jarang keluar kota. Meski demikian, lembur-lembur kadang masih menyusupi hari-hari saya.

Saat ini, ketika status “Ibu Rumah Tangga” saya sandang, waktu saya justru hampir sepenuhnya dihabiskan di rumah. Keluar rumah hanya Sabtu-Minggu karena menunggu suami libur. Waktu masih lajang saya terbiasa kemana-mana sendiri, sekarang nggak enak rasanya kalau pergi-pergi tanpa didampingi suami. Begitu anak ikut dengan kami, baru saya lebih sering keluar rumah, tetapi untuk bermain bola dengan anak lelaki saya atau bermain sepeda dengannya keliling kampung.

Mungkin, bagi teman-teman yang tahu bagaimana kehidupan saya sebelum menikah, akan merasa heran dan bertanya-tanya, “Kok bisa?”, “Apa nggak sayang ilmu yang selama ini dimiliki kalau akhirnya hanya mengendap di rumah?”, “Apa nggak booring setiap hari di rumah?”. Begitu mungkin di antara sekian banyak pertanyaan yang keluar.

Bapak saya sendiri sempat protes waktu tahu saya sudah tidak bekerja lagi dan memilih tinggal di rumah sebagai ibu rumah tangga saja. “Dikuliahin tinggi-tinggi, dapat IPK bagus, kok cuma tinggal di rumah,” begitu protes Bapak.

Setiap insan pasti akan selalu dihadapkan dengan berbagai pilihan dalam hidup, termasuk pilihan yang saya ambil sekarang. Setiap pilihan pasti akan menghadirkan risiko tertentu. Dengan ritme hidup yang berbeda memang membutuhkan penyesuaian-penyesuaian baru. Bagi saya, hidup adalah SEBUAH PROSES BELAJAR. Kalau sebelum menikah saya banyak belajar tentang segala hal di luar rumah, maka setelah menikah saya belajar tentang segala hal di dalam rumah. Bukankah hal ini justru membuat hidup saya menjadi seimbang? Alhamdulillah, proses belajar yang saya jalani ini tetap terasa ringan dengan didasari niat tulus untuk memberikan yang terbaik bagi keluarga kecil saya yang saya cintai ini. Hingga detik ini saya tidak pernah merasa bosan tinggal di dalam rumah. Kalau sesekali harus menyesap rindu dengan suami saat dia di kantor, saya pikir itu wajar, toh tidak sampai membuat saya merasa kesepian. Justru rasa rindu ini yang akan semakin mengeratkan cinta kami. 

Bagi perempuan yang menjadikan “ibu rumah sebagai pilihan” berbahagialah karena insya Allah dari Andalah akan lahir generasi bangsa yang lebih baik dan berkarakter. Meski oleh sebagian orang “ibu rumah tangga” dianggap bukan pekerjaan yang “keren” dan “bergengsi”, tetapi insya Allah di hadapan Allah justru menjadi pekerjaan yang sangat mulia. Hampir tidak pernah terbayangkan sebelumnya saat kita kecil dulu untuk bercita-cita menjadi “ibu rumah tangga” bukan? Ketika seorang anak ditanya apa cita-citamu? Hampir semua bilang ingin jadi dokter, insinyur, wartawan, pilot, tentara, guru, ilmuwan, dan lain sebagainya. Hampir tidak ada yang menyatakan diri, “ingin menjadi ibu rumah tangga seperti ibuku”. Namun, bila kini hal itu menjadi pilihan kita, yakinlah bahwa kita telah memilihnya dengan tepat. Yakinlah bahwa “ibu rumah tangga” pun merupakan karir terbaik untuk kita. Di tangan ibu sejati masa depan seorang anak menjadi gemilang sehingga nasib bangsa pun menjadi lebih baik. Dari sebuah keluarga kecil dengan ketulusan seorang istri yang bersedia menyediakan waktu sepenuhnya untuk keluarga insya Allah kebahagiaan akan lebih dekat merasuk ke dalam sanubari penghuninya.

Bagi perempuan yang merasa terpaksa atau bahkan merasa “terjebak” sebagai ibu rumah tangga, mulailah ikhlas menerima hal itu sebagai pilihan yang mulia. Bagaimanapun di tangan seorang ibu yang siap sedia dan ikhlas mengemban amanah keibuan, insya Allah akan lahir keluarga yang harmonis dan anak-anak yang memiliki dunia keceriaan dengan penuh kehangatan kasih seorang ibu.

Bagaimanapun, memilih dengan keikhlasan akan lebih meringankan langkah kita ke depan dengan hasil yang lebih baik, daripada “terpaksa memilih”.

Salam hangat buat para ibu rumah tangga yang berbahagia, yang dengan kebahagiaannya akan menghangatkan rumah dengan tebaran kasih sayang.@

Selasa, Agustus 16, 2011

Indahnya Hidup tanpa Mengomel



Kutatap wajah cintaku, kuberikan dia senyuman lalu kukecup keningnya.

“Mama kok tetap bisa tersenyum walaupun lagi nggak punya uang?” tanya suamiku, cintaku.

“Trus mo ngapain? Marah? Ngapain juga marah-marah, ngabisin energi. Rugi amat, udah nggak punya uang, marah-marah lagi. Mending tetap senyum,” jawabku enteng yang langsung disambut dengan pelukan oleh suami.

Setiap rumah tangga pasti pernah mengalami masa-masa sulit seperti yang sedang kami alami sekarang. Uang belanja menipis, tinggal Rp10.000. Pada saat yang sama, bensin motor suami juga sudah minta diisi, air mineral galon di rumah habis. Baru dua hari lagi kami kemungkinan mendapatkan suntikan dana tambahan. Dua bulan ini boleh dibilang kami harus menguras dana yang kami miliki untuk kebutuhan anak-anak. Untuk daftar ulang sekolah anak saja menghabiskan sekitar 2 jutaan, begitupun untuk acara liburan mereka. Maklum, kami mengajak anak-anak liburan di dua tempat, di Banyumas (kampung halamanku) dan di Jogja (kampung halaman suami). Untuk transportasi dari Bekasi ke kampung saja sudah cukup menguras dana, apalagi buat kebutuhan selama liburan di sana. Asal anak-anak senang kami pun turut senang karena bagi kami kebahagiaan anak-anak adalah prioritas. Masa kecil mereka tidak akan terulang, sedangkan kami baru bisa berkumpul bersama-sama hanya pada saat liburan. Jadi, berapa pun biayanya liburan bersama ini harus tetap kami jalani. Namun, risikonya ya seperti sekarang ini. Kami harus mengirit pengeluaran belanja setelahnya.
***

“Liat rumah berantakan kayak kapal pecah kok gak marah?” kata suamiku pada awal-awal pernikahan kami.

“Ngapain ngomel dan marah-marah. Kalo rumah berantakan ya tinggal dibersihin. Emang kalo ngomel-ngomel rumah bisa jadi bersih dan rapi?” jawabku sambil memberesi rumah.

“Bagus,” kata suami menyunggingkan senyum.

Pada awal menikah, kami memang masih tinggal berjauhan, saya di Bandung sedangkan suami di Bekasi. Saat weekend, kadang suami yang ke kosan saya di Bandung atau saya yang ke Bekasi. Jadi, otomatis saya belum bisa sepenuhnya mengurus rumah suami saya ini. Sedangkan suami, karena kesibukan kerja kantor juga tidak terlalu telaten untuk bersih-bersih rumah. Walhasil, begitu saya ke Bekasi sering mendapat sambutan kondisi rumah yang super kotor.

Mungkin, perempuan identik dengan “cerewet dan suka ngomel” kali, yah? Makanya suamiku aneh ngeliat istrinya ini malah nyante menyikapi kondisi rumah tangga kami yang bagi sebagian wanita dapat menaikkan sedikit emosinya.

Yah, saya hanya nggak mau dibuat pusing saja sama keadaan. Kalo soal materi, alhamdulillah saya sudah terbiasa hidup sederhana. Meskipun keluarga kami tidak terlalu kesulitan dari sisi ekonomi, tapi sedari kecil ibu saya sudah mengajarkan hidup sederhana kepada anak-anaknya. Jadi, saya tidak terlalu kaget atau stres menghadapi kondisi seperti ini. Tinggal bersabar sedikit apa salahnya. Masa sih, Allah akan menelantarkan hamba-Nya tanpa diberi makan? Di luar sana pasti banyak orang yang lebih sulit kondisinya dari kami.

Mungkin ada istri yang suka marah dengan suaminya ketika uang belanjanya kurang atau habis sebelum waktu gajian tiba. Menurut saya, marah dalam kondisi seperti itu tidak akan menyelesaikan masalah. Kita akan rugi sendiri dan hanya buang-buang energi. Bagi suami, hanya akan membuatnya stres sehingga sulit berpikir jernih. Intinya, marah dan ngomel sama sekali tidak memberikan dampak positif untuk memperbaiki keadaan. Daripada ngomel dan marah-marah, saya lebih suka mengingat perjuangan suami dalam mencari nafkah. Dia sudah menguras tenaga dan pikirannya di kantor demi menafkahi kami, istri dan anak-anaknya. Apalagi rumah kami jauh dari tempat kerjanya. Dia harus menempuh sekitar dua jam perjalanan untuk sampai ke kantornya. Pulang-pergi berarti memakan waktu empat jam setiap hari. Peluh dan lelah tidak dia pedulikan asal bisa memenuhi kebutuhan hidup keluarganya. Apa jadinya kalau saya sebagai istrinya malah marah-marah saat uang belanja kami habis sebelum waktunya? Padahal dia sudah menyerahkan semua uang gajinya kepada saya.

Sabar dan berpikir jernih, insya Allah ada jalan keluar yang mungkin tidak kita sangka-sangka datangnya. Saya yakin dengan hal itu. Seperti kondisi kami kemarin, meski akhirnya kami harus menjual barang yang mungkin tidak terpakai lagi di rumah, setidaknya bisa kami gunakan untuk menyambung hidup. Daripada barang itu teronggok mengotori dan menyempitkan ruangan, dijual ternyata malah lebih bermanfaat.

Salam penuh takzim buat para istri dan calon istri yang sedang berjuang untuk memberikan kebahagiaan bagi keluarga. Apa pun yang terjadi dalam kehidupan rumah tangga kita, semoga kita tetap tidak kehilangan senyum termanis kita untuk keluarga. Percayalah, “ngomel” dan “marah-marah”─yang membuat perempuan dicap “cerewet”─tidak akan menyelesaikan masalah. Sepahit apa pun hidup yang kita alami, itulah cara kehidupan menyentuh kita. Saat manisnya hidup menyapa kita, berarti kehidupan sedang “mengelus” kita. Bila kepahitan yang menyapa maka berarti kehidupan sedang “mencubit” kita. Kebahagiaan/kesengsaraan hadir bukan bergantung pada “elusan” atau “cubitan” kehidupan, tetapi bergantung dari bagaimana cara kita menyikapinya. “Elusan kehidupan” akan terasa menyakitkan bila ada bisul di tubuh kita. Sebaliknya, “cubitan kehidupan” bisa jadi lebih terasa nikmat bila kita menyikapinya dengan penuh kearifan, kita anggap itulah cara kehidupan “mencandai” kita. Ayo, kita “candai” lagi kehidupan ini agar terasa lebih berwarna!

Tanpa mengomel dan marah-marah, insya Allah anak-anak tetap bisa diajak menjadi baik.
Tanpa mengomel dan marah-marah, insya Allah kita tetap bisa menyampaikan keinginan kita dengan baik kepada suami.
Tanpa mengomel dan marah-marah, insya Allah kita tetap bisa memperbaiki keadaan rumah tangga kita.
Tanpa mengomel dan marah-marah, insya Allah kita akan tampil menjadi ibu yang lebih bijaksana.
Tanpa mengomel dan marah-marah, insya Allah kita bisa menjadi istri yang lebih disayang suami.

Bagi para suami yang memiliki istri yang kadung “cerewet”, bersabarlah. Ada baiknya kita mengambil hikmah dari kisah Khalifah Umar bin Khathab r.a.

Dikisahkan, suatu hari ada seorang laki-laki berjalan tergesa-gesa menuju kediaman Khalifah Umar bin Khathab r.a. Dia ingin mengadu pada khalifah karena tidak tahan dengan kecerewetan istrinya. Begitu sampai di depan rumah khalifah, laki-laki itu tertegun. Dari dalam rumah terdengar istri Umar sedang ngomel dan marah-marah. Cerewetnya melebihi istrinya. Akan tetapi, tidak sepatah kata pun terdengar keluhan dari mulut khalifah. Umar diam saja sambil terus mendengarkan istrinya yang sedang gundah. Akhirnya, lelaki itu mengurungkan niatnya untuk melaporkan istrinya kepada Umar.
          Apa yang membuat seorang Umar bin Khathab yang disegani kawan maupun lawan berdiam diri saat istrinya ngomel? Mengapa dia hanya mendengarkan, padahal di luar sana dia selalu tegas kepada siapa pun?
          Saat Umar diam mendengarkan keluhan istrinya, ternyata dia sedang mencoba berempati kepada istrinya, “Mungkin dia capek, mungkin dia jenuh dengan segala beban rumah tangga di pundaknya,” ungkapnya.
          Menurut Umar, seorang istri telah berperan besar dalam lima hal: (1) istri telah berusaha membentengi suami dari api neraka (saat godaan syahwat menghampiri), (2) memelihara harta suami saat suami tidak berada di rumah, (3) menjaga penampilan suami, (4) mengasuh anak-anak, dan (5) menyediakan hidangan untuk keluarganya.
          Untuk segala kemurahan hati sang istri itulah Umar rela mendengarkan keluh kesah buah lelah istrinya. Umar lebih memilih untuk mengingat kebaikan-kebaikan istrinya daripada mencela kekurangannya. Bila istri sudah puas menumpahkan kata-katanya, barulah dia menasihati dengan cara yang baik, kadang malah dengan bercanda sehingga terhindar dari caci maki yang tidak terpuji. 

Semoga dengan meneladani sikap Umar bin Khathab ini, para suami bisa lebih bersabar menghadapi kecerewetan istri dan melihat sisi lain kelebihan istrinya. Dengan demikian, rumah tangga akan dilingkupi kedamaian dan tenteram. Apa jadinya kalau istri yang bertabiat cerewet dihadapi dengan emosional pula? Bisa terjadi perang dunia ketiga deh dalam rumah tangga kita.@

Rabu, Agustus 10, 2011

Menakar Kewibawaan Suami



Dulu, sebelum menikah, saya selalu berdoa kepada Allah Swt., “Ya Allah, pertemukan hamba dengan seorang suami yang taat kepada-Mu agar ketaatan hamba kepadanya bermuara kepada-Mu. Buatlah dia memiliki wibawa di mata hamba agar mudah bagi hamba untuk menaatinya.”

Kenapa saya berdoa seperti itu? Karena bagaimana pun tugas utama seorang istri adalah menaati suami. Seperti sabda Rasulullah saw. dalam sebuah hadits berikut ini.
"Seandainya aku boleh menyuruh seseorang agar sujud kepada orang lain, niscaya aku akan menyuruh seorang istri agar sujud kepada suaminya." (HR At Tirmidzi, sanadnya sahih)

Lalu, mengapa saya meminta kepada Allah Swt. seorang suami yang memiliki wibawa di mataku? Karena seorang suami yang berwibawa akan membuat seorang istri mudah untuk tunduk menaatinya.

Mendengar kata “wibawa” mungkin yang terbayang dalam benak kita adalah seorang yang tinggi besar seperti SBY, atau berpendidikan tinggi dengan titel serenceng, atau orang yang memiliki harta berlimpah dan keturunan keluarga terpandang, atau orang yang memiliki pekerjaan bagus dengan gaji selangit, atau seorang pejabat yang berpengaruh dan memiliki kedudukan tinggi di masyarakat, atau seorang yang memiliki tubuh berotot dan kuat seperti Ade Ray, atau bahkan seorang pemberang seperti preman sehingga orang lain tunduk takut kepadanya.

Membahas masalah “wibawa suami” sering berbanding terbalik dengan bahasan “Suami Takut Istri”. Tidak sedikit artikel yang membahas masalah “Suami Takut Istri” yang mengaitkan dengan tidak adanya wibawa suami. Saya tidak ingin berteori tentang apa yang membuat seorang suami menjadi takut dengan istrinya sendiri sehingga tidak memiliki wibawa di hadapan istrinya. Saya hanya ingin sharing tentang bagaimana wibawa seorang pria (baca: suamiku) di mataku. Bukan untuk menguliti dirinya, tapi semoga tulisan ini akan membuka cara pandang kita tentang “wibawa suami” yang sebenarnya.

Hal apa saja yang membuat seseorang tampak berwibawa?
  • Harta dan kedudukan?
Apakah kekayaan dan kedudukan yang membuat suamiku tampak berwibawa di mataku? Realitasnya, dia lahir dari keluarga biasa yang secara ekonomi boleh dibilang masih di bawah keluarga saya. Pekerjaan dan penghasilan bulanannya sekadar cukup untuk kebutuhan keluarga dan pendidikan anak. Namun, dia menjadi berwibawa di mataku karena dia seorang yang bertanggung jawab dan memiliki kesadaran penuh tentang bagaimana seharusnya menafkahi keluarganya. Dia sangat all out memberikan waktu, tenaga, dan materi yang dia miliki untuk keluarganya. Dia tidak pernah gengsi memberikan tangannya untuk membantuku mencuci baju dan menyetrikanya dengan suka rela tanpa diminta. Dia juga tidak gengsi pergi ke dapur membuatkan mie instant untuk kami makan sepiring berdua. (Satu pekerjaan yang oleh sebagian orang dianggap menurunkan derajat kaum pria). Namun, bagiku ini bentuk rasa sayang dan perhatian suamiku kepada saya sebagai istrinya. Pemberian materi kepada keluarga memang penting, tetapi pemberian waktu dan kasih sayang untuk keluarga jauh lebih penting. Terima kasih untuk suamiku yang telah memberikan semua yang kau miliki dan mampu kau lakukan untuk keluarga kita.

Satu hal yang saya suka darinya, dia tidak pernah tampak minder di hadapan keluargaku meski secara ekonomi keluargaku boleh dibilang lebih mapan. (Pede itu penting, bro. Itulah yang dimiliki suamiku. Pede abis dan sedikit nekat itu pula “modal”-nya saat menikahiku). Minder hanya akan membuat “wibawa” seseorang hilang.

  • Berpendidikan tinggi dengan titel serenceng?
Karena kondisi ekonomi, suami saya hanya sempat menyelesaikan pendidikan terakhirnya di tingkat SMA. Meski saya bolah dibilang berpendidikan lebih tinggi hingga sarjana, tetapi kami tetap bisa nyambung dalam berkomunikasi. Bukankah inti dari komunikasi adalah “bisa nyambung” dengan lawan bicara? Meski kita berbicara dengan seorang doktor sekalipun, tetapi kalau kita tidak bisa “nyambung” dan paham dengan apa yang dia bicarakan─dan dia juga tidak paham dengan apa yang kita bicarakan─itu berarti komunikasi tidak berjalan efektif. Meski tidak berpendidikan tinggi, tetapi suamiku seorang yang sangat cinta ilmu, mau terus belajar dan memperbaiki diri. Dia juga hobi membaca. Koleksi bukunya bisa jadi lebih banyak dari koleksiku. Kami bisa sharing apa pun sesuai tema yang kami inginkan. Meski bukan lulusan pesantren, tetapi dia sangat giat belajar agama di berbagai majelis taklim (dan mengamalkannya). Bagiku, ini cukup membuatnya tampak berwibawa di mataku karena menurutku orang seperti dialah “pembelajar sejati”. Seorang sarjana sekalipun belum tentu bisa disebut “pembelajar sejati” bila proses belajarnya berhenti hanya sampai ketika dia mendapatkan selembar ijazah kesarjanaan. Apalagi bila ilmu yang didapat selama ini tidak diamalkan. 

  • Kekuatan fisik?
Orang sering menyetarakan wibawa dengan kondisi fisik seseorang; tinggi besar seperti SBY mungkin, atau sekuat Ade Ray, atau segarang preman. Realitasnya, suami saya hanya pria biasa yang berperawakan sedang meski tetap lebih besar dan tinggi dibanding saya (maklum saya kan imut. hehehe). Konon ceritanya waktu kecil dia malah sering sakit-sakitan. Dia tidak pernah tampil garang dan pemarah di hadapanku hingga membuatku tunduk dalam ketakutan. Dia juga tidak pernah menyuruhku dengan tegas dan otoriter. Bahkan, kadang rengekan dan kemanjaannya malah mudah membuatku luluh untuk menurutinya.

Tidak sedikit pria yang menggunakan ototnya untuk menguasai perempuan (baca: istrinya). Bila istrinya tidak taat dia gunakan tangannya untuk menampar dan menyakiti istrinya sendiri secara fisik. Padahal, istri seharusnya dilindungi dan disayangi. Mungkin itulah cara yang dianggap efektif untuk membuat istrinya tunduk patuh kepadanya. Kekuatan fisik mungkin ampuh membuat seorang istri tunduk kepada suaminya, tetapi “ketundukan” yang menakutkan. Padahal, yang dibutuhkan seorang suami sebenarnya adalah “ketaatan yang penuh ketakziman” dari istrinya. Ketaatan seperti ini pula yang seharusnya diberikan oleh istri, bukan “ketundukan yang membuatnya terkungkung dalam rasa takut”.

Seorang suami yang memberikan cinta dan kasih sayang kepada istrinya akan membuat istri pun tergerak hati untuk memberikan cinta dan kasih sayang kepadanya. Pemimpin yang penuh kasih sayang akan membuat orang yang dipimpinnya memberikan ketaatan kepadanya dengan sukarela penuh ketakziman. Bagaimanapun, seorang istri memiliki hak untuk dipimpin oleh suami dengan penuh kasih sayang seperti yang Rasulullah saw. ajarkan.

Rasulullah saw. pernah ditanya tentang apa hak istri yang wajib dipenuhi oleh suami? Lalu, beliau menjawab, "Kamu memberi makan kepadanya, jika kamu makan. Dan kamu memberi pakaian untuknya, jika kamu memakai pakaian. Dan janganlah kamu memukul wajah, menjelek-jelekkannya, dan jangan pula kamu mendiamkannya kecuali di dalam rumah." (HR. Ahmad dan Abu Daud)

  • Kekuatan psikis?
Bila tugas utama seorang istri adalah “taat” kepada suami sesuai hadits yang telah saya sebutkan sebelumnya, maka tugas utama seorang suami adalah menjadi “imam” atau “leader” bagi keluarganya. Seseorang yang memiliki jiwa “leader” (pemimpin) secara psikis akan memiliki kemampuan mempengaruhi orang lain untuk mengikuti perintahnya tanpa membuat orang tersebut merasa disuruh. Kekuatan mempengaruhi ini bisa jadi dipengaruhi oleh “wibawa” atau “kharisma” yang dimiliki seseorang.

Seorang pria (baca: suami) boleh saja lemah secara fisik, cacat atau lumpuh sekalipun seperti Ahmed Yassin (pemimpin Palestina), tetapi dia tidak boleh lemah secara psikis. Dia boleh miskin materi tapi tidak boleh miskin hati. Dia boleh tidak punya kedudukan berarti di mata manusia, tetapi tidak boleh menjadi hina di mata Allah Swt.

Bila poin-poin sebelumnya tidak berlaku bagi saya, tetapi untuk yang terakhir ini sangat berpengeruh bagi saya tentang kesan seorang yang berwibawa. Suamiku memang tidak sekaliber Ahmed Yassin dalam memimpin umat, tetapi dia mampu memimpin hatiku dalam ketaatan kepada-Nya, bisa menjadi imam shalat yang baik, siap menegurku ketika lalai dalam ibadah sesuai yang disyariatkan Rasulullah saw. Bagiku, ini cukup membuatku untuk “menaatinya”. Ketaatan yang membuatku semakin menyayanginya, bukan ketaatan yang mengungkungku dalam ketakutan. Ketaatan yang semoga bermuara pada ketaatan kepada Allah Swt.

Tidak peduli apa kata orang lain tentang suamiku, yang penting bagiku dia tetap seorang suami yang penuh wibawa di mataku. Saya bersyukur Allah Swt. telah mengabulkan doa hamba-Nya yang lemah ini.

Tidak ada manusia sempurna di dunia ini, begitupun suamiku. Namun, kekurangannya justru membuatku sadar dan bersyukur karena berarti aku menikahi manusia biasa, bukan malaikat. Kalau dia mampu menerima kekuranganku yang jauh lebih banyak daripada kekurangannya, kenapa saya tidak mampu menerima kekurangannya yang mungkin hanya sepele?

Kalau saya menulis materi ini bukan berarti telah sempurna ketaatanku kepada suami. Saya sadar bahwa saya masih harus berusaha keras untuk menjadi istri yang taat kepada suami dalam ketaatan kepada-Nya sambil terus berdoa, “Ya Allah, bimbing hamba agar mampu menaati suami dalam koridor ketaatan kepada-Mu.”

Tulisan ini sekadar sharing. Semoga mampu menggugah para istri atau calon istri untuk semakin menguatkan “ketaatan” kepada suami dalam syariat-Nya. Bila mungkin memiliki suami yang tampak belum “berwibawa”, mintalah kepada Allah Swt. agar dia dibimbing oleh Allah menjadi suami yang memudahkan Anda untuk menaatinya dalam syari’at-Nya, atau ditunjukkan “wibawa”-nya kepada Anda sehingga memudahkan Anda untuk menaatinya.

Bagi para suami atau calon suami, semoga tulisan ini memotivasi Anda untuk menjadi “imam” yang sebenarnya bagi istri dan anak-anak. Apa pun kondisi istri Anda, apakah dia lebih dari Anda secara materi, pendidikan, status sosial, dan sebagainya, kendali tetaplah di tangan Anda sebagai “leader”. Bimbinglah istri dalam ketaatan kepada-Nya. Bila mendapati istri Anda belum taat, janganlah terburu-buru menyalahkan istri Anda, tetapi introspeksilah, apakah Anda termasuk suami yang “patut” untuk ditaati?Jadikan Anda seorang yang taat kepada Allah Swt. sehingga pantas untuk ditaati oleh istri Anda dan dia pun akan menaati Anda karena-Nya. @


Kamis, Agustus 04, 2011

Menentukan Prioritas Rumah Tangga



Setiap orang yang membangun rumah tangga─kalau bisa─pasti ingin memiliki kehidupan sempurna; memiliki pasangan hidup yang saling mencintai dan setia, anak-anak manis yang pintar dan saleh dengan pendidikan tinggi, berkecukupan secara materi (memiliki rumah megah, mobil mewah, dan uang setampah). Dari sisi pribadi bisa terus meningkatkan pendidikan dan karier dengan kedudukan atau status sosial tinggi di masyarakat.

Namun, realitasnya kehidupan tidaklah sesempurna itu. Bila semua itu tidak mungkin diraih secara bersamaan, mana yang harus diprioritaskan? (1) Mengejar pemenuhan materi rumah tangga terlebih dahulu sehingga bisa segera memiliki rumah bagus sesuai harapan, memiliki mobil yang nyaman sebagai sarana mobilitas, serta tabungan yang cukup untuk hari tua, (2) Mengembangkan karier setinggi mungkin, termasuk membekali diri dengan terus meningkatkan strata pendidikan, (3) Memiliki anak-anak yang pintar dan saleh dengan menyekolahkan di sekolah terbaik meski dengan biaya yang tidak sedikit (tentu kasih sayang dan pendidikan orang tua tetap diprioritaskan), (4) atau prioritas lain.

Semuanya sah-sah saja kita lakukan. Namun, perlu diingat bahwa akan ada risiko lain yang kadang harus ditanggung bila mengejar salah satu prioritas tersebut. Saya tidak akan menyalahkan siapa pun dengan apa pun prioritas seseorang dalam membangun rumah tangganya. Saya hanya akan mengajak berfikir bersama kira-kira risiko apa yang akan kita tanggung bila mengambil satu prioritas tersebut, atau mungkin prioritas yang lain.

Prioritas pertama, Mengejar pemenuhan materi rumah tangga terlebih dahulu sehingga bisa segera memiliki rumah bagus sesuai harapan, memiliki mobil yang bagus dan nyaman sebagai sarana mobilitas, serta tabungan yang cukup untuk hari tua. Kebutuhan inilah yang menjadi prioritas utama pada banyak rumah tangga, apalagi keluarga baru. Bukankah sedari SD dulu kita diajarkan tentang prioritas kebutuhan manusia? Ada kebutuhan primer, sekunder, dan tertier. Kebutuhan primer (seperti yang selama ini kita kenal) adalah sandang, pangan, dan papan. Kebutuhan sandang dan pangan sejak sebelum menikah pun biasanya sudah terpenuhi. Karenanya, saat menikah, kebutuhan lain yang sering menjadi prioritas adalah “rumah sebagai tempat berteduh”. Bisa ngontrak rumah, tinggal di mertua indah, dan bila materi mencukupi bisa langsung mengambil kredit rumah atau bahkan membeli secara cash.

Pada awalnya, rumah memang merupakan kebutuhan pokok karena bagaimana pun kita harus memiliki tempat berteduh yang layak. Namun, dalam perkembangannya, memiliki rumah sering diiringi dengan kebutuhan akan prestice atau kebanggaan. Kalau ada teman, saudara, atau keluarga yang berkunjung ke rumah kita, bangga rasanya bila mereka terkagum-kagum dengan desain rumah dan keunikan furniture rumah yang kita miliki. Tidak cukup hanya dengan memiliki rumah, kebanggaan lain yang sering menjadi pemikat prestice seseorang adalah memiliki mobil mewah sehingga kalau kita pergi kemana-mana akan ada orang yang berdecak kagum dengan kendaraan kita. (Padahal, apakah kebanggaan seperti ini yang sebenarya kita cari dalam hidup?) 

Memang, sah-sah saja kita memiliki semua itu asal halal. Saya hanya ingin memberikan satu ilustrasi kisah yang semoga bisa membuka kesadaran kita akan prioritas kebutuhan rumah tangga yang sebenarnya. Semoga kita tidak salah dalam memilih prioritas dalam rumah tangga kita. Kesalahan menentukan prioritas bisa jadi akan menghilangkan tujuan menikah yang sebenarnya, yaitu untuk mendapatkan "kebahagiaan". Jangan sampai kita mengejar prioritas yang hanya sebatas "prestice", tetapi kebahagiaan yang sesungguhnya kita butuhkan malah melayang jauh dari jangkauan kita. Na'udzubillahi min dzalik.



Fahri dan Rifa (sebut saja begitu), pasangan suami-istri yang baru beberapa bulan menikah ini memiliki impian untuk punya rumah dengan desain tertentu dan dirasa unik. Setelah melakukan kalkulasi kebutuhan dana untuk pembangunan rumah itu, tersebutlah angka yang tidak sedikit. Demi memenuhi “nominal angka” tersebut, kedua pasangan ini berpikir keras bagaimana cara untuk segera mendapatkan sejumlah uang yang mereka anggarkan demi mewujudkan rumah impian mereka. Akhirnya diambillah keputusan mereka untuk bahu-membahu mencari alternatif sumber-sumber ekonomi tambahan. Fahri sebagai suami, selain bekerja kantoran sebagaimana biasa, juga mencoba membuka peluang usaha rekanan dengan temannya. Sementara Rifa melamar kerja ke beberapa perusahaan dan akhirnya diterima sebagai sekretaris di sebuah perusahaan besar di kotanya dengan gaji lumayan.

Sebulan, dua bulan, setahun, dua tahun, waktu terus berjalan dan mereka masih mengejar mimpi untuk membangun rumah impian mereka. Rupiah demi rupiah pun terkumpul hingga mereka bisa membeli tanah yang dirasa strategis untuk membangun rumah tersebut. Sampai akhirnya mereka bisa mulai membangun rumah. Tidak langsung sempurna sesuai keinginan mereka, tetapi setidaknya rumah itu sudah bisa ditempati sambil terus melakukan pembangunannya. Mereka pun tidak sabar ingin segera menyelesaikan rumah impian mereka. Karenanya, mereka terus memacu diri lebih keras dalam mengumpulkan rupiah hingg tanpa sadar ada sesuatu yang hilang dalam rumah tangga mereka, yaitu kebersamaan dan perhatian antarpasangan.

Fahri mulai merasakan perhatian Rifa kepadanya sudah berkurang, tidak ada lagi kopi dan sarapan pagi buatan istri tercintanya, tidak ada lagi ciuman tangan istri saat menyambutnya pulang dari kantor. Pagi-pagi sekali Rifa sudah pergi ke kantor hingga urusan masak dan menyiapkan makanan beralih ke tangan pembantu. Saat pulang kerja, istrinya kadang belum pulang ke rumah karena ada lembur di kantor, atau ada di rumah tapi sudah lelap dalam tidurnya.

Rifa pun ternyata merasakan hal yang sama. Keromantisan Fahri seperti hilang entah ke mana. Tidak ada lagi candaan suaminya ketika menjelang tidur, tidak ada lagi ciuman hangat suami yang selama ini selalu dirindukannya. Suasana panas selalu melingkupi hati mereka ketika berada di rumah. Masalah kecil saja bisa memantik kemarahan dan pertengkaran.

Rifa justru merasakan kenyamanan ketika mendapatkan perhatian dari bosnya. Pria yang juga sudah menikah ini seolah memberikan perhatian dan kasih sayang lebih daripada Fahri, suaminya. Akhirnya, jalinan kasih terlarang itu pun terbina di antara mereka. Tanpa sepengetahuan Rifa, Fahri pun ternyata punya "hubungan gelap” dengan rekan kerjanya di kantor. Sinta, wanita single yang terkenal seksi di kantornya ini begitu mengagumi kinerja Fahri yang rajin dan ulet. Di matanya, Fahri adalah lelaki impiannya selama ini. Dia bahkan tidak malu-malu untuk menyatakan kekagumannya ini kepada Fahri. Sebagai pria yang tidak lagi mendapat penghargaan apalagi sanjungan dari istri merasa begitu melambung ketika mendapat sanjungan dan perhatian dari wanita lain.

Berbilang bulan, “hubungan gelap” masing-masing pasangan ini pun terus berlanjut hingga membuat mereka terperosok begitu jauh. Mereka tidak lagi menganggap pasangan sahnya─sebagai suami-istri─menjadi pasangan yang menyenangkan lagi. Rumah sudah menjadi seperti neraka bagi mereka ketika pertengkaran demi pertengkaran terus membakar rumah mereka. Atau bisa menjadi seperti kuburan bila mereka sedang melakukan perang dingin. Rumah impian mereka “belum jadi sempurna” seperti yang mereka inginkan, mungkin tinggal sedikit melakukan renovasi tambahan lagi. Namun, ironisnya rumah tangga mereka malah hancur sebelum mereka bisa menikmati rumah impian itu. Na’udzubillahi min dzalik. Semoga kita tidak mengalami hal demikian.


Prioritas kedua, mengembangkan karier setinggi mungkin, termasuk membekali diri dengan terus meningkatkan strata pendidikan. Banyak alasan mengapa seseorang harus mengembangkan karier termasuk meningkatkan pendidikannnya. Alasan utama biasanya untuk mandapatkan penghasilan lebih demi memenuhi kebutuhan hidup sehingga perlu meningkatkan strata kariernya, bisa juga untuk mengejar prestice. Begitu pun dalam meningkatkan strata pendidikan, biasanya karena tuntutan pekerjaan yang mengharuskan karyawannya memiliki strata pendidikan tertentu. Meski ada juga yang murni karena ingin menuntut ilmu.

Banyak yang memulai bekerja dengan bekal ijazah SMA, dengan lamanya waktu bekerja, posisinya pun sedikit demi sedikit meningkat hingga perusahaan menuntutnya untuk memiliki ijazah sarjana atau minimal D3, bagi yang S1 dituntut memiliki ijazah S2, dan seterusnya. Pada saat yang sama kebutuhan rumah tangga, terutama pendidikan anak, terus meningkat. Dia seolah dihadapkan dengan pilihan untuk memilih meningkatkan strata pendidikannnya sendiri sehingga dapat memuluskan peningkatan kariernya (termasuk meningkatkan gajinya), tetapi di sisi lain dia harus berbagi atau mengurangi jatah dana pendidikan anaknya.

Dengan dana yang ada, dia harus membiayai kuliahnya dan juga pendidikan anaknya. Kalau dia memakai dana itu sepenuhnya untuk pendidikan anak, dia bisa menyekolahkan anaknya di sekolah yang bagus (yang notabene berbiaya mahal). Namun, bila harus berbagi untuk membiayai juga kuliahnya, otomatis dia hanya bisa menyekolahkan anak di sekolah seadanya, bila perlu di sekolah negeri yang gratis. Bila ditunjang dengan pendidikan orang tua di rumah yang memadai, tentu tidak masalah, anaknya bisa tetap berprestasi meski dia bersekolah di sekolah biasa. Namun, bila anak bisa bersekolah di sekolah yang banyak memberikan keunggulan dibanding sekolah umum, biasanya potensi anak pun akan lebih terasah. Apalagi sekarang banyak sekolah yang menawarkan pengembangan potensi anak bukan hanya sisi kognisi atau intelektualnya semata, tapi juga sisi religi, leadership, dan lain-lain. Namun, harganya tentu berbeda jauh dengan sekolah umum.


Saya punya kisah nyata seorang sahabat seputar masalah karier ini. Sebut saja namanya Zahra. Dia bekerja di sebuah perusahaan makanan dengan modal ijazah SMA. Pada awalnya dia bekerja sebagai Cleaning Service. Kinerjanya yang rajin mulai dilirik atasannya sehingga dia menjanjikan untuk menaikkan posisi kerja yang otomatis akan menaikkan pula gajinya. Namun, dengan syarat dia harus memiliki ijazah D3. Tergiur dengan posisi yang menjanjikan dan keinginan untuk menaikkan taraf hidup dan pendidikan, dia pun mengambil kuliah program D3. Berbagi waktu dengan pekerjaan kantor, kuliah, dan mengurus anak, membuat kuliahnya sedikit tersendat hingga baru bisa menyelesaikan kuliah empat tahun kemudian.
Pada saat yang sama, di perusahaan tempatnya bekerja terjadi restrukturisasi karyawan. Bosnya yang dulu pernah menjanjikan sebuah posisi yang lebih baik malah terkena PHK. Jadi, meski saat itu dia sudah mengantongi ijazah D3, tetapi tetap tidak bernilai apa-apa di perusahaannya. Dia bisa naik posisi, tapi harus dipindahkan ke perusahaan cabang yang lebih jauh dari tempat tinggalnya. Akhirnya, dia malah memilih keluar dari pekerjaan. Dengan ijazah D3 yang dimiliki akhirnya dia bisa diterima sebagai pengajar di sebuah SMK di kotanya. Namun, gajinya masih jauh dari yang diharapkan. Akhirnya, dia hanya bertahan satu semester lalu kembali keluar. Kini, dia malah nyaman menjadi ibu rumah tangga. Usahanya untuk meningkatkan taraf pendidikan memang tidak sia-sia karena dia mendapatkan ilmu dari sana. Namun, bila tujuannya untuk meningkatkan posisi dalam kariernya, realitasnya itu malah jauh dari genggamannya. Sementara, dia sudah kehilangan banyak waktu yang seharusnya dipergunakan untuk mendidik anak-anaknya.

Prioritas ketiga, memiliki anak-anak yang pintar dan saleh dengan menyekolahkan di sekolah terbaik meski dengan biaya yang tidak sedikit. Bila dana yang kita miliki cukup atau bahkan berlebih mungkin tidak menjadi masalah. Namun, bagaimana bila dana yang dimiliki sebenarnya terbatas?

Saya pernah melihat sebuah keluarga sederhana, tetapi menurut saya sangat terpelajar. Suaminya seorang guru PNS dengan gaji tergolong biasa. Maklum, ijazahnya hanya SPG. Sementara istrinya seorang ibu rumah tangga biasa tanpa memiliki penghasilan tambahan lain. Namun, mereka ternyata mampu menyekolahkan kelima anaknya hingga menjadi sarjana. Bila mereka memiliki penghasilan besar, tentu memiliki lima anak yang bertitel sarjana merupakan hal mudah. Namun, dengan kondisi ekonomi yang serba terbatas mereka tetap mampu menyekolahkan kelima anaknya hingga perguruan tinggi adalah hal yang luar biasa. Tentu saja ada risiko yang harus mereka tanggung. Hingga kelima anaknya menjadi sarjana, rumah mereka masih sangat sederhana, hanya rumah berdinding kayu dan lantai berkalang tanah. Subhanallah. Anak-anak mereka pasti bangga memiliki orang tua seperti mereka yang rela hidup sederhana demi memberikan pendidikan terbaik bagi anak-anaknya.

Prioritas ketiga inilah yang sekarang sedang dibangun dalam rumah tangga kami. Saya menikah dengan seorang duda beranak dua. Rumahnya sangat sederhana, tipe 21 dengan cicilan masih beberapa tahun lagi. Namun, beberapa bagian rumah sudah minta direnovasi. Saya saja sampai harap-harap cemas kalau hujan tiba karena ada bagian rumah kami yang bocor. Namun, saya tetap bangga dengan suamiku, terutama dengan caranya mendidik anak-anak. Demi menyekolahkan anak-anaknya di sekolah terbaik sesuai kemampuan, dia rela menunda pembangunan rumahnya ini. Padahal, rekan-rekan kerja seangkatannya yang gajinya kurang lebih sama sudah memiliki rumah bagus.

Bukan hanya itu, dia juga rela mengesampingkan kesempatan peningkatan karier di kantornya demi fokus memberikan sarana pendidikan terbaik bagi anak-anaknya. Dengan ijazah SMA yang dimilikinya memang agak sulit untuk mencapai posisi di atas staf. Bila ingin mencapai jenjang karier lebih tinggi dia harus memiliki ijazah S1. Namun, pada saat yang sama anak pertamanya membutuhkan biaya sekolah yang tidak sedikit. Maklum, dia memilih menyekolahkan anaknya di SDIT yang biayanya tidak sedikit. Uang masuknya saja waktu itu sudah mencapai 4,5 juta.

“Biarin Mas begini saja asal anak-anak bisa sekolah di tempat terbaik. Kini masanya untuk perbaikan pendidikan mereka, bukan pendidikan Mas. Yang penting Mas masih bisa membiayai mereka.” begitu jawaban suamiku kalau ditanya tentang alasannya.

Namun, pengorbanannya menurut saya tidaklah sia-sia. Kini, anak pertama kami itu sudah duduk di kelas II MTs (setingkat SMP) dengan prestasi yang bisa dibanggakan. (Semoga ini bukan untuk tujuan riya' atau sum'ah, tapi sharing saja) Sedari SD rangkingnya tidak kurang dari 3, bahkan pernah 2x rangking 1. Semester kemarin dia juga rangking pertama. Alhamdulillah. Meski kini anak kami jauh dari kami karena tinggal di pesantren, tetapi kami masih terus memantau perkembangannya dengan mengunjunginya seminggu sekali. Alhamdulillah, kini dia sudah memiliki hafalan Al Qur’an 5 juz. Semoga dia bisa istiqamah menjadi hafidzah. Amiin.

Kini tinggal membimbing anak kedua kami yang masih sekolah di TKIT. Kalau kakaknya mulai serius menghafal Al Qur’an sejak SMP, kami berharap anak kedua bisa menjadi penghafal Al Qur’an lebih dini, yakni sejak sekolah dasar. Bagi kami, anak-anak inilah prioritas utama dalam rumah tangga kami. Saya akan dengan sukarela menyimpan ijazah sarjana saya demi fokus mendidik mereka. Allah…bimbing hamba menjadi ibu terbaik bagi anak-anak kami, anak-anak yang akan menjadi generasi penentu masa depan bangsa.

Setiap rumah tangga pasti memiliki prioritas tujuan yang berbeda-beda. Namun, satu hal yang perlu diingat, masa depan bangsa bisa jadi berawal dari prioritas setiap rumah tangga ini. Apakah prioritasnya sebatas pemenuhan ekonomi (sukses materi), prestice diri (sukses diri pribadi), atau menyukseskan anak-anak untuk membangun generasi bangsa ke depan yang salih, tangguh, dan berkepribadian utuh?

Semoga tulisan kecil ini memberikan sumbangsih besar bagi bangsa ini. Amiin.