Selamat Datang Bagi Para Pecinta, yang Bersedia Menumbuh-Suburkan Cinta Demi Kedamaian di Dunia Ini!
Tampilkan postingan dengan label cinta. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label cinta. Tampilkan semua postingan

Selasa, Desember 14, 2010

Kearifan Cinta




Kearifan cinta akan hadir;
Saat dicintai tidak membuat seseorang sombong dan berbangga diri,
lupa akan kekurangan dan ketidaksempurnaan kita sebagai manusia.
Saat tidak dicintai tidak membuat seseorang frustasi,
lalu tidak bisa melihat kelebihan dan potensi dirinya lagi.
Saat cinta merasuk dalam diri,
Seseorang tetap mampu mengendalikan cintanya, mampu menjauhkan diri dari dosa dan kemaksiatan.
Saat cinta berbenturan dengan kepentingan orang tua,
Seseorang tetap mampu mengompromikan dan menghormati orang tuanya,
Saat cinta terbelit permasalahan dengan orang lain,
Seseorang tetap mampu menghormati orang yang bermasalah.

Cinta itu resah, tetapi membahagiakan. Kearifan cinta akan kita dapatkan bila kita memiliki niat baik untuk sebuah cinta. Terkadang manusia terlalu egois untuk mengakui sebuah rasa cinta. Entah karena takut tidak terbalas cintanya atau karena memandang diri terlalu tinggi atau terlalu rendah. Lakukan cinta untuk cinta itu sendiri. Tidak usah resah untuk cinta yang tidak terbalas, tetapi resahkanlah bila di hati kita tidak ada rasa cinta. Bagaimanapun, dicintai dan mencintai adalah kebutuhan psikis manusia yang harus dipenuhi. Namun, ada hal yang lebih penting, yaitu kearifan. Dibalasnya cinta tidak harus menjadi tujuan, tetapi jadikanlah cinta sebagai jalan untuk mendewasakan diri kita, jalan untuk melatih kearifan diri.

Cinta bukan ambisi untuk sebuah kebanggaan. Cinta akan tampak kasar bila sudah dibumbui dengan ambisi, keegoisan, dan kabanggaan. Sebaliknya, cinta akan nampak lembut bila dihadirkan untuk meraih kebahagiaan, bukan untuk mengejar kebanggaan karena cinta sejati akan membuat seseorang lebih peka dengan perasaan orang yang dikasihinya.

Memang sangat tipis perbedaan antara kebahagiaan dan kebanggaan, bagai dua sisi mata uang. Kebanggaan kadang cenderung mengarah pada keinginan untuk ditampakkan di hadapan orang lain, tetapi kebahagiaan hanya bisa dirasakan di hati (orang lain tidak selamanya harus tahu). Maka dari itu, berhati-hatilah memainkan keduanya. Alih-alih ingin mengejar kebanggaan ternyata harus mengorbankan kebahagiaan.

Dalam soal cinta, harga diri seseorang bukan diukur dari dicintai atau tidak dirinya, bukan diukur oleh seberapa banyak orang yang mencintai, mengagumi, dan mengidolakannya, tetapi dari bagaimana dia dapat memperlakukan cinta secara arif. Pada akhirnya, Allah-lah penilai kemuliaan diri seseorang. Seseorang yang dikagumi dan dicintai banyak orang belum tentu mulia di hadapan Allah bila cara yang ditempuh keluar dari rel syariat. Sebaliknya, seseorang yang mungkin hina di hadapan manusia, bisa jadi begitu mulia di hadapan Allah. Wallahu’alam.

Seorang perempuan, dengan kecantikan, kepintaran, kemanjaan dan rayuannya mungkin bisa menaklukkan banyak pria. Begitupun seorang pria, dengan ketampanan, otak yang brilian, keperkasaan, kekayaan dan rayuannya, mungkin dapat menaklukkan banyak wanita. Akan tetapi, bila kita mau menelusuri sisi hati orang-orang yang tertaklukkan, semakin banyak yang berhasil ditaklukkan berarti banyak pula hati yang kecewa karena toh pada akhirnya hanya satu yang harus dipilihnya. Lalu, tegakah melukai sisi hati yang tersiksa? Di situlah kearifan seorang pecinta dituntut realisasinya.

Kelebihan dan potensi diri tersebut tentu bukan untuk ditampakkan di hadapan semua orang dengan kesombongan. Seorang yang arif akan mampu meleburkan diri dengan kelebihan dan kekurangannya secara adil, yaitu hanya di hadapan orang-orang yang memang layak mendapatkan kelebihan dirinya (pasangan hidupnya). Maka tumbuh suburkanlah cinta untuk sesama karena inilah jalan untuk dapat berbuat sesuatu bagi banyak orang dan jalan untuk mengikis egoisme pribadi. Namun, kendalikan cinta terhadap lawan jenis (cinta biologis) dan takutlah pada cinta yang menjerumuskan.

Dalam kegelisahan cinta, berdoalah, “Ya Allah, bahagiakan orang-orang yang pernah mencintaiku meskipun aku tidak pernah bisa mencintainya. Jangan siksa dia dengan perasaan cintanya. Bahagiakan pula orang-orang yang pernah aku cintai meskipun dia tidak pernah mencintaiku karena bagaimanapun dia telah mengenalkanku akan arti menjadi dewasa. Bahagiakan pula orang yang aku cintai dan mencintaiku. Satukan kami dalam rumah tangga yang sakinah mawadah wa rahmah.” ***

Banyumas, 2001. 

Senin, Mei 10, 2010

Derita Seorang Pencinta




Mencintai wanita adalah awal dari sebuah derita, benarkah? Bukan wanita yang membuat derita, melainkan mencintai wanita yang tidak mencintai mullah yang akan menciptakan derita bagimu.
(Muhammad Idris Asy Syafi ’i)

Dia tidak begitu cantik, tapi entah mengapa hati ini selalu ingat kepadanya. Terasa sulit bagi diri ini untuk melupakan tutur kata dan wajahnya. Terasa hampa andai sehari tidak berjumpa. Mungkin, inilah yang dinamakan cinta. Hati selalu rindu, tergetar ketika mendengar namanya, bahkan ada perasaan indah saat mendengar daerah tempat tinggalnya.

Namun, aku sendiri bingung jika ditanya, “karena apa kamu mencintainya?”

Tidak karena apa-apa, tidak karena wajah (ada banyak wanita yang lebih cantik), tidak karena kecerdasan (ada banyak wanita yang lebih cerdas, walau jujur saja dia memang cerdas), tidak karena kekayaan, tidak karena keimanan (dia biasabiasa saja dalam menjalankan kewajiban kepada Tuhannya, sebagaimana yang lain). Entahlah, tetapi yang jelas dia adalah teman sekantorku. Mungkin, intensitas pertemuanlah yang menjadikan benih-benih cinta bersemai dalam hati sanubariku.

Hari-hari ketika ada dia menjadi hari-hari yang menyenangkan. Kantor jadi tempat terindah. Betaaaah sekali ada di sana. Semangat kerja berlipat-lipat. Bunga-bunga nan semerbak seakan bertaburan di mana-mana. Penampilanku yang asalasalan mulai dipermak sedemikian rupa sehingga terlihat rapi, lebih bersih karena “sering mandi” dan “berkaca diri” di depan cermin. Setiap kali dia pulang, aku pun ingin ikut pulang mengantar. Terkadang, dengan beribu alasan, aku ikut naik angkot dengannya walau jurusan kita pulang berbeda arah (saat itu orang yang punya motor masih bisa dihitung dengan jari, lho).

Yah, dia menjadi segala-galanya. Semua energi seakan tersita olehnya. Senang-susah, bahagia-menderita, ada di tangannya. Benar apa yang disenandungkan Maulana Jalaluddin Rumi:

Lewat cintalah semua yang pahit akan jadi manis.
Lewat cintalah semua tembaga akan jadi emas.
Lewat cintalah semua endapan menjadi anggur murni.
Lewat cintalah semua kesedihan akan jadi obat.
Lewat cintalah si mati akan jadi hidup.
Lewat cintalah raja jadi budak.


Aku, yang biasanya acuh, mendadak jadi seorang pencemburu. Aku jadi nggak enak hati apabila ada lelaki lain yang dekat dengannya atau sekadar menanyakan dia walau sebenarnya untuk urusan kantor. Akan kucari informasi tentang lelaki itu untuk memastikan apakah dia mencintai bidadariku ini ataukah tidak.

Aneh ... bagi orang yang tidak merasakan cinta, semua itu menjadi aneh, lucu, menggelikan, bodoh, dan ... kekanak-kanakan. Namun, tidak bagiku. Kata-kata Cleopatra tampaknya begitu pas menggambarkanku, “Cinta tidak menjadikan Bumi ini beredar, tetapi dengan cintalah peredaran Bumi menjadi amat bermakna.” Apa yang dilakukan oleh orang yang tengah dimabuk cinta terkadang dipandang konyol oleh orang di luar dirinya.

Entah, apakah dia menyadari atau tidak perasaan hati ini kepadanya. Aku takpernah mengatakannya. Tidak seorang pun di antara teman-temanku yang tahu gelora cintaku kepadanya. Hanya ada seorang teman dekat, tempat aku curhat dan berbagi yang tahu keadaanku ini. Dia pula yang selalu membantuku. Mungkin, si Dia tahu bahwa aku mencintainya dari perhatian dan kebaikanku kepadanya yang terkesan lebih. Memang, dengan siapa pun aku selalu berusaha menjaga sikap, perasaan, dan berlaku baik sehingga aku diterima banyak orang. Namun, dengannya terasa beda, kebaikanku berlipat-lipat.

Semakin intens pertemuan dengannya, semakin kuat pula perasaan ini kepadanya. Namun, aku tidak berani mengungkapkannya. Lidah ini begitu fasih membicarakan banyak hal. Namun ... lidah ini mendadak kelu saat harus menyatakan cinta ini kepadanya. Lisanku kembali fasih saat berdoa kepada Tuhanku. Ya, alhamdulillah, aku banyak sekali curhat kepada-Nya, mengadukan gelora jiwa ini kepada-Nya.

Gumamku dalam sela-sela ibadah shalatku, “Ya Allah, Engkau Mahatahu perasaanku. Aku mencintainya ya Allah ... jadi kanlah dia pendamping hidupku, ibu dari anak-anakku. Lapangkanlah dan mudahkanlah jalan bagiku untuk bersanding dengannya. Andai masih ada ruang kosong di dalam hatinya, perkenankan agar engkau mengisi hatinya dengan namaku. Jangan biarkan aku menderita. Ya Allah, aku sangat mencintai dan mengasihinya. Rabbana hablana min azwazina wa durriyatina qurrata a’yun waj ’alna lil muttaqina imama.”

Begitulah, dia menjadi sentral dalam doa dan munajatku, mengalahkan doaku untuk ibu, bapak, guru-guruku, dan orang-orang yang telah berjasa kepadaku. Bagaimana dengannya? Aku taktahu pasti. Namun, dari gerak-geriknya, dia seakan memberiku harapan. Entah memang karena sifatnya seperti itu atau sekadar menghargaiku sebagai seorang teman. Aku tidak tahu. Kalau aku memberikan sesuatu sebagai hadiah dariku untuknya, dia pun menerima dengan senyum manis. Kalau ngobrol, dia pun merespons dengan baik. Terkadang, dia pun mau pulang bersamaku. It’s no problem baginya. Malah, ada sesuatu yang amat berkesan. Ia pernah memberikan cokelat untukku sebagai hadiah kelulusanku. Cokelat ... bukankah itu tanda cinta? Duh, itu dia yang aku cari.

Tibalah suatu hari, ketika itu langit seakan hendak runtuh. Dada terasa sesak, bukan karena penyakit asma, tetapi karena sumbatan emosi kesedihan dan keterkejutan. Dia memutuskan keluar dari pekerjaan. Alasannya sederhana, ingin melanjutkan studi. Si Bunga Hati mengatakan itu pada penutupan kegiatan kantor di luar kota. Saya dan teman-teman mengucapkan selamat dan kata-kata perpisahan kepadanya dengan senyuman. Namun, berbeda dengan yang lain, senyuman di mulutku bertolak belakang dengan gambaran hatiku yang terasa sumpek.

Terbayang di benakku pertemuan yang intens di kantor akan segera berakhir. Padahal, bagi seorang pencinta, bertemu dengan yang dicintai adalah segalanya. Namun, ada sisi baiknya. Aku pun bertekad untuk mengungkapkan perasaanku yang sebenarnya kepada dia. Lagi-lagi, aku taksanggup berbicara langsung. Lagi-lagi, lisanku kelu. Maka, kubelikan sejumlah buku kesukaannya. Kubungkus dengan menjadi sebentuk kado yang indah. Kuselipkan surat cinta di dalamnya. Lalu, kukirimkan ke alamatnya melalui kantor pos dekat rumahku.

Dua hari kemudian ... tepatnya pukul dua siang lebih lima belas menit, ponselku menyala, tertulis sebuah kiriman pesan singkat di dalamnya ... hatiku berdebar kencang saat tertulis namanya di sana. Kubuka dengan tangan bergetar. Rasaku saat itu, inilah momentum terpenting dalam hidupku, apakah si Bunga Hati akan benar-benar menjadi milikku atau ... aku taksanggup menyebutkannya.

“Terima kasih atas hadiahnya, kebaikannya .... Namun, jujur saja aku terkejut ketika kubaca surat kirimanmu itu. Aku takbisa berkata apa-apa selain sebuah doa semoga Allah memberimu kesuksesan dalam karier, dilancarkan segalanya. Kita tetap berteman saja yah ... salam.”

Semangatku seakan hilang ditelan Bumi. Semuanya tampak runyam, kusam, dan takpunya arti. Manis terasa pahit. Putih terlihat hitam. Gelap ... semuanya menjadi gelap. Kusam. Sebuah SMS dengan beberapa ratus karakter cukup untuk memukulku KO. Entah karena saking cintanya, aku terkena stres stadium III, sedikit lagi (stadium IV) aku terkena depresi. Nafsu makan hilang, semangat kerja down, pikiran takmenentu. Selama beberapa minggu berat badanku turun karena tidak lagi memiliki nafsu makan. Kualitas kerjaku turun drastis hingga harus mendapat teguran dari atasan. Kalau bukan karena orang tua, mungkin aku sudah keluar dari pekerjaan ... atau melakukan yang lebih dari itu!

Hatiku semakin terpukul saat beberapa SMS-ku tidak direspons olehnya. Dia pun seakan menghindar dariku saat berkunjung ke kantor untuk suatu pertemuan. Aku pun jadi malu sendiri ... walau hati tetap rindu. Aku tahu, bahwa dalam dunia percintaan, ungkapan “cinta itu takharus memiliki” sudah takberlaku lagi.

“Cinta itu akan terasa indah apabila memiliki. Kalau tidak memiliki, ya jangan dicintai,” begitu ungkap seorang teman. Namun, sebagai pelarian dari kegagalanku mendapatkan cintanya, jargon bahwa cinta takharus memiliki tetap kupegang erat dan kusimpan rapat-rapat di dalam hati (kalau sudah dimabuk cinta, biasanya rasionalitas dan kewarasan berpikir akan terpinggirkan).

Bertahun-tahun lamanya, harapan hatiku tetap tertuju kepadanya. Walau aku tahu, cintaku bertepuk sebelah tangan. Aku tidak berpikir untuk menikah dengan wanita lain selain dengannya. Harapanku masih tetap menyala saat mengetahui kalau dia belum memiliki hubungan apa pun dengan laki-laki lain. Selama itu pula, aku senantiasa berdoa kepada Tuhan agar dia menjadi milikku.

Mungkin Allah Swt. berkehendak lain. Dia tidak mengabulkan doaku itu. Aku taktahu apakah aku terkena penyakit jiwa atau tidak. Yang jelas, rasa cintaku mulai bergeser menjadi sebuah kebencian. Lahir sebuah dualisme di dalam hati: cinta bercampur benci. Aku takbisa memungkiri bahwa aku sangat mencintainya. Namun, aku pun putus asa dari mendapatkan cintanya. Terbetik dalam hatiku untuk membalas dendam kepadanya. “Akan kubuat kau menyesali keputusanmu itu!” Aku pun terpacu untuk berkarya, berprestasi, dan membuat matamu melihat siapa aku. Dalam pengakuannya, tokoh kita ini telah menjadikan doa sebagai salah satu andalan baginya untuk mendapatkan cinta wanita idamannya. Berhasilkah? Secara lahiriah, doa-doa yang dia panjatkan seakan tidak menghasilkan apa-apa. Jangankan menerima, wanita yang diidamkannya malah semakin menjauh darinya. Ada semacam keseganan, kekakuan, dan ketakutan apabila harus kontak dengan si Lelaki. Namun, jangan salah, Allah Swt. punya rencana lain. Karena boleh jadi, menurut ilmu-Nya, si Wanita bukanlah jodoh terbaik bagi si Lelaki dan dia belum menyadarinya. Lalu, apa efek terbesar yang dirasakan si Lelaki dari doa-doa yang dipanjatkannya itu? HAKIKAT KEIKHLASAN. Orang boleh saja menganggap aku konyol, lelaki lemah, takpandai memilih, kayak nggak ada wanita lain aja selain dia, tapi mereka tidak merasakan bagaimana indahnya cinta dan dukanya ketika cinta itu takberbalas. Efeknya terus terasa hingga bertahun-tahun lamanya hingga memengaruhi banyak aspek kehidupanku.

Alhamdulillah, Allah Swt. masih sayang kepada diriku. Walau Dia tidak mengabulkan doaku persis sama sebagaimana aku minta, Dia menunjukkan sesuatu yang lebih berharga dari pada seorang wanita. Suatu kali, seorang teman bertanya kepadaku tentang makna hadits, “Barang siapa menikahi wanita karena memandang kedudukannya, Allah akan menambah baginya kerendahan."

“Barang siapa menikahi wanita karena harta bendanya, Allah akan menambah baginya kemelaratan. Barang siapa menikahi wanita karena keturunannya, Allah akan menambah baginya ke-hina-an. Akan tetapi, barang siapa menikahi seorang wanita karena ingin meredam gejolak nafsu dan menjaga kesucian dirinya atau ingin merekatkan ikatan kekeluargaan, Allah akan memberkahinya bagi istrinya dan memberkahi istrinya bagi dirinya.” (HR Al Bukhari)

Hadits Rasulullah ini benar-benar menghunjam ke dalam jiwaku. Memang, sebelumnya aku sudah pernah membaca hadits ini, tetapi kali ini efeknya benar-benar berbeda, terlebih setelah aku renungkan dalam-dalam. Aku terhenyak. Aku baru tersadar, selama ini aku mencintai dia dengan mengorbankan banyak hal: diri sendiri, orang tua, perusahaan tempatku bekerja, dan tentu saja Tuhanku. Tanpa sadar, aku telah menuhankan makhluk dengan merusak banyak hal. Aku kecewa berat karena aku mencintai seseorang bukan karena Allah. Aku meradang karena aku memberi bukan karena mengharap ridha Allah, melainkan mengharap ridha manusia. Aku bekerja keras untuk meraih prestasi, menuntut ilmu, bukan untuk kemuliaan agama Allah, tetapi untuk membalas dendam dan mengharapkan penilaian manusia.

Begitulah, ketika seseorang melakukan sesuatu dan sesuatu itu tidak dijiwai oleh nilai-nilai ketauhidan, kekecewaan akan sangat dekat dengannya. Seakan-akan, Rasulullah saw. berkata, “Jika engkau mencintai seseorang bukan karena Allah, niscaya engkau akan dihinakan dengan cinta itu. Jika engkau mencintai seseorang hanya karena kecantikan dan kepintarannya, tunggulah kalau kecantikan dan kepintarannya itu akan menghinakanmu.”

Inilah bentuk ijabahnya doa dari Allah. Dia memberikan sesuatu yang sangat berharga: HAKIKAT KEIKHLASAN; yaitu bangkitnya kesadaran bahwa dalam melaksanakan segala sesuatu, keikhlasan harus menjadi landasannya. Tanpa keikhlasan, semua tidak akan berarti di sisi Allah.

Aku pun mulai memperbaiki niat, mengubah doa, dan mencoba mencari perspektif lain yang lebih menguntungkan dunia dan akhirat, “Ya Allah, jadikanlah Engkau sebagai pusat kehidupanku. Jika aku mencintai seseorang, jadikanlah cintaku itu sebagai jalan bagiku untuk semakin dekat dengan-Mu. Jangan biarkan aku terlena dengan manusia dengan melupakan-Mu. Ya Allah, Engkau Mahatahu siapa pendamping terbaikku. Pertemukanlah aku dengan cara terbaik, nikahkan aku dengan cara terbaik, dan himpunlah aku dalam rumah tangga terbaik sebagaimana dicontohkan oleh manusia-manusia terbaik pilihan-Mu. Ya Allah, muliakanlah dia dengan kesalehan. Pertemukanlah dia dengan pendamping yang akan membawa pada kebahagiaan di dunia dan di akhirat. Hilangkanlah dalam hatiku rasa cinta kepadanya dan gantilah dengan rasa cinta kepada-Mu.” Itulah sebagian dari doa-doaku.

Alhamdulillah, dengan mengambil perspektif baru berlandaskan keikhlasan, hati ini menjadi lebih lapang. Kini, aku menganggapnya sebagai teman biasa. Tidak ada lagi benci bercampur rindu. Yang ada hanyalah “rasa sayang” kepada seorang teman. Begitulah, teramat mudah bagi Allah untuk membolak-balikkan hati manusia. Awalnya cinta jadi benci setengah mati. Awalnya rindu jadi dendam kesumat. Sebaliknya, mudah pula bagi Allah untuk menjadikan benci menjadi cinta dan rindu menjadi dendam. Namun, di sana ada pilihan kita: mau yang mana? Maka, mintalah yang terbaik dari-Nya: sesuatu yang membahagiakan, yang melapangkan hati, dan membawa kebaikan bagi diri dan orang lain.

Orang berubah jika sudah cukup tahu.
Orang berubah jika sudah cukup mau.
Orang berubah jika sudah cukup menderita.

Rasa cinta dan benci lahir karena penghayatan yang intens. Namun, keduanya bukanlah dua jenis emosi berlawanan. Cinta dan benci adalah emosi yang berjalan bersama (Rollo May, 1969). Keberadaan keduanya bisa dianalogikan dua sisi mata uang. Garis pemisah antara keduanya merupakan garis yang manis. Artinya, perasaan cinta sering diawali perasaan benci atau sebaliknya. Walaupun demikian, begitu rasa benci—sebagai emosi negatif—ditahan dan ditekan, tanpa disadari rasa cinta—sebagai emosi positif—yang hanya dipisahkan garis pemisah yang manis pun ikut tertekan. Jadi, kematian rasa benci, secara otomatis akan diikuti kematian rasa cinta. Begitulah proses penghayatan emosi yang dirasakan.

TAHUKAH ANDA?

Para ilmuwan neurosains baru saja mengungkapkan sebuah gejala fisiologis yang unik pada saat seseorang mengalami tekanan batin yang berat. Tekanan tersebut dapat ditimbulkan oleh masalah-masalah yang terkait dengan proses interaksi dan komunikasi sosial, termasuk persoalan hubungan cinta antara dua orang yang tengah dimabuk asmara.

Ehm! Hasil pengamatan di beberapa negara ditemui sindrom “putus cinta” ini sering sekali menimbulkan gangguan yang menyerupai gejala serangan jantung, infark miokardium akut. Timbul serangan rasa nyeri di daerah dada yang menjalar ke punggung, lambung, dan daerah lengan sebelah kiri. Dapat pula diikuti dengan kesulitan bernapas (sesak), keluarnya keringat dingin, dan tubuh terasa lemas. Sindroma ini dikenal sebagai Sindroma Takotsubo atau Miokardiopati Takotsubo.

Dr. Ilan Wittstein, MD, ahli jantung dari The John Hopkins University Medical School dan rekan-rekannya menemukan kasus Takotsubo terjadi akibat adanya akumulasi neuropeptida otak yang merupakan keturunan katekolamin. Turunan katekolamin yang kerap dijumpai serta memiliki efek simpatik secara sistemik antara lain adalah epinefrin dan norepinefrin. Namun, dalam kasus Takotsubo, ternyata tidak hanya epinefrin dan norepinefrin saja yang kadarnya melonjak drastis, tetapi juga molekulmolekul peptida kecil dan neurotransmiter, seperti metaneprin, normetaneprin, neuropeptida Y, dan peptida natriuretik turut melonjak secara drastis.

Akumulasi produksi faktor kimiawi yang terjadi pada saat amigdala di otak menerima data yang “menyakitkan” serta “gagal” mengatur emosi negatif akan menyebabkan efek fibrilasi (jantung bergetar tidak beraturan) sesaat yang diikuti dengan “pingsan”-nya sejumlah sel otot jantung. Jadi, putus cinta, ditolak, ataupun patah hati bisa membuat jantung “kelenger” alias “semaput”!

Apakah sindroma ini berbahaya? Bergantung pada seberapa luasnya daerah otot jantung yang “semaput”. Jika daerah yang mengalami kardiomiopati sesaat itu cukup luas, akibatnya bisa saja menjadi fatal. Mengingat fungsi utama jantung adalah menyuplai kebutuhan oksigen untuk seluruh sistem tubuh, termasuk otak. Jadi, keadaan jantung “mogok” bekerja ini dapat menimbulkan hipoksia (kekurangan oksigen) di jaringan. Jika kekurangan oksigen berlangsung dalam jangka waktu cukup lama, jaringan yang sangat bergantung pada asupan oksigen akan terganggu, bahkan rusak permanen.

Akan tetapi, catatan klinis Dr. Ilan Wittstein dan rekan-rekannya yang telah dipublikasikan di New England Journal of Medicine (2009) menunjukkan bahwa kasus-kasus kardiomiopati akibat kejutan psikologis ini biasanya bersifat reversible alias dapat pulih kembali. Kondisi jantung pun pada umumnya baik dan tidak disertai dengan kerusakan yang bersifat kronis. Siapa saja yang mungkin mengalami Sindroma Takotsubo? Orang-orang yang memiliki tingkat stres harian sudah sangat tinggi, orang-orang yang kinerja otaknya lebih didominasi oleh sirkuit amigdala (penuh tantangan dengan stres tinggi), dan orang yang memiliki tipologi kepribadian yang rentan terhadap stres. Maka, syukurilah peristiwa “patah hati”, cari hikmahnya dan jangan terlalu disesali sebab “patah hati” pasti adalah karunia Allah yang belum kita sadari maknanya. Jika disesali, “ancaman” Allah dalam Surat Ibrahim, 14: 7 akan berlaku: nikmat, jika disesali akan berubah menjadi azab. Nah, salah satu perwujudan azab itu mungkin sindroma “jantung klenger” yang dinamai Takotsubo

(Cuplikan kisah di buku “114 Kisah Nyata Doa-doa Terkabul”)

Kamis, April 29, 2010

Terpesona dengan Kisah Cinta Kahlil Gibran dan May Ziyadah



“…Setiap hati mendamba hati lain, hati yang bisa diajak untuk bersama-sama mereguk madu kehidupan dan menikmati kedamaian sekaligus melupakan penderitaan hidup…” (penggalan surat Kahlil Gibran kepada May Ziadah, 1-3 Desember 1923)

Siapa tidak mengenal Kahlil Gibran? Penyair dan pelukis ternama kelahiran Lebanon, 6 Januari 1883 ini telah banyak melahirkan puisi-puisi romantis, religius, dan sedikit dibumbui kritik sosial yang tetap humanis.

Jujur, secara pribadi saya kurang tertarik membaca puisi dibanding membaca karya sastra lain, seperti cerpen atau novel. Puisi bersifat personal, kadang hanya bisa dinikmati oleh penulisnya sendiri hingga orang lain sulit menangkap maknanya atau menikmati untaian katanya seperti kita menikmati pemandangan. Bagi orang yang memiliki jiwa seni tinggi mungkin mampu mengapresiasi dengan baik dan dapat menikmati keindahannya. Akan tetapi, bagi saya yang orang awan di dunia seni, terasa biasa-biasa saja.

Namun, berbeda nuansanya ketika saya membaca karya-karya Kahlil Gibran. Untaian kata-katanya begitu “dalam” sarat makna, membuatku terpesona hingga sampai di ujung kata. Ibarat minuman, nikmat hingga tetes terakhir. Ibarat makanan, nikmatnya hingga jilatan tangan menjadi licin.

Ada satu lagi yang membuat saya terpesona begitu dalam dengan sosok Kahlil Gibran, yaitu kisah cintanya dengan May Ziyadah, seorang satrawan yang karya-karyanya banyak diminati orang. Dia seorang tokoh kunci dari Nahda di panggung sastra Arab pada awal abad XX dan dikenal sebagai seorang "feminis Palestina awal" dan "pelopor feminisme Oriental”. Wanita bernama lengkap Marie Elias Ziyada ini lahir di Nazareth, Palestina, pada 11 Februari 1886. Karena terpisah di dua Negara yang lumayan jauh−Kahlil Gibran di New York sedangkan May Ziyadah di Mesir−mereka cukup berpuas diri dengan saling berkirim surat. Mereka menjalin cinta melalui surat selama kurang lebih 20 tahun tanpa pernah bertemu muka. Hanya foto diri mereka yang bisa dilihat tanpa hadir langsung secara fisik hingga akhir hayat.


Soe Sudarjo dalam tulisannya berjudul May Ziadah: Ironi Cinta Sang Pujangga yang dimuat dalam majalah Muslim Insani, menuliskan sebagai berikut.

“Korespondensi antar-keduanya dimulai pada 1912, ketika May berkirim surat kepada Gibran mengenai tokoh Selma Karameh yang terdapat dalam Broken Wings. May sangat tersentuh dengan kisah dalam Broken Wings, yang menurut cita rasanya terlalu liberal. Menurut May, nasib yang menimpa Selma merupakan cerminan rasa ketidakadilan atas persamaan hak-hak kaum perempuan. Sejak itulah keduanya saling berkirim argumen melalui surat. Di kemudian hari, saat Gibran menetap di Amerika, May sempat menjadi editor untuk tulisan-tulisan Gibran, menggantikan posisi Mary Haskell. Pada 1921, Gibran berhasil memperoleh foto May.

Tak hanya “curhat” mereka berdua, Love Letters sebenarnya bisa dipahami sebagai ungkapan cinta yang universal, yang mendasari sebagian besar karya-karya Gibran. Dalam peta susastra dunia, nama Gibran memang layak digarisbawahi sebagai salah seorang penyair yang membawa “wahyu” cinta dan kedamaian. Meski dibesarkan sebagai penganut ajaran Kristen Maronite, Kahlil Gibran juga menyatakan keagungan Alquran dan potensinya bagi inspirasi spiritual, sosial, dan sastra. Dunia Barat dan Timur yang dia selami dan jelajahi menumbuhkan kesadaran rekonsiliasi antar-kutub itu, yang diwakili Islam dan Kristen.”

Cinta model Kahlil Gibran dalam rindu-dendamnya akan May Ziyadah ini biasa disebut cinta platonis, cinta yang mampu mendatangkan gairah karena kerinduan begitu besar meskipun di dalam dunia khayal. Erich Fromm dalam bukunya The Art of Lovin, mengategorikan cinta seperti ini ke dalam jenis “cinta menjadi [to be]”, yang tidak lagi dikurung dalam keinginan untuk memiliki, tetapi menyayangi, taklebih. Berlawanan dengan jenis kedua, yaitu “cinta memiliki [to have]”, yang mengharuskan keduanya berada dalam ‘mahligai’ sebab cinta itu mesti menyatu.

Dalam puisinya Kahlil berucap.

“Jika cinta tidak dapat mengembalikan engkau kepadaku dalam kehidupan ini… pastilah cinta akan menyatukan kita dalam kehidupan yang akan datang”

“Apa yang telah kucintai laksana seorang anak kini tak henti-hentinya aku mencintai… Dan, apa yang kucintai kini… akan kucintai sampai akhir hidupku, karena cinta ialah semua yang dapat kucapai… dan tak ada yang akan mencabut diriku dari padanya”

“Kemarin aku sendirian di dunia ini, kekasih; dan kesendirianku… sebengis kematian… Kemarin diriku adalah sepatah kata yang tak bersuara…, di dalam pikiran malam. Hari ini… aku menjelma menjadi sebuah nyanyian menyenangkan di atas lidah hari. Dan, ini berlangsung dalam semenit dari sang waktu yang melahirkan sekilasan pandang, sepatah kata, sebuah desakan dan… sekecup ciuman”

“Aku ingin mencintaimu dengan sederhana… seperti kata yang tak sempat diucapkan kayu kepada api yang menjadikannya abu… Aku ingin mencintaimu dengan sederhana… seperti isyarat yang tak sempat dikirimkan awan kepada hujan yang menjadikannya tiada…” 


“…pabila cinta memanggilmu… ikutilah dia walau jalannya berliku-liku… Dan, pabila sayapnya merangkummu… pasrahlah serta menyerah, walau pedang tersembunyi di sela sayap itu melukaimu…”

“…kuhancurkan tulang-tulangku, tetapi aku tidak membuangnya sampai aku mendengar suara cinta memanggilku dan melihat jiwaku siap untuk berpetualang”

“Tubuh mempunyai keinginan yang tidak kita ketahui. Mereka dipisahkan karena alasan duniawi dan dipisahkan di ujung bumi. Namun jiwa tetap ada di tangan cinta… terus hidup… sampai kematian datang dan menyeret mereka kepada Tuhan…”

“Jangan menangis, Kekasihku… Janganlah menangis dan berbahagialah, karena kita diikat bersama dalam cinta. Hanya dengan cinta yang indah… kita dapat bertahan terhadap derita kemiskinan, pahitnya kesedihan, dan duka perpisahan”


Kalimat yang saya tulis dengan huruf merah kalimat yang paling saya suka dan paling popular. Dulu saya sempat mengira kalimat tersebut milik Sapardi Djoko Damono, ternyata milik Kahlil Gibran.

CINTA YANG AGUNG

Cinta yang agung
Adalah ketika kamu menitikkan air mata

Dan masih peduli terhadapnya

Adalah ketika dia tidak memedulikanmu

Dan kamu masih menunggunya dengan setia


Adalah ketika dia mulai mencintai orang lain

Dan kamu masih tersenyum sembari berkata,
“Aku turut bahagia untukmu”
Apabila cinta tidak berhasil…BEBASKAN dirimu…

Biarkan hatimu kembali melebarkan sayapnya

Dan terbang ke alam bebas lagi…


Ingatlah …bahwa kamu mungkin menemukan cinta

Dan kehilangannya…

Tapi… ketika cinta itu mati…

Kamu tidak perlu mati bersamanya.

Orang terkuat bukan mereka yang selalu menang…

MELAINKAN mereka yang tetap tegar ketika mereka jatuh.


[Kahlil Gibran]

Senin, Januari 04, 2010

Ternyata Dia Memang "Bidadari"




Hari ini dia sengaja datang ke kampus lebih pagi. Selain karena takingin terlambat di kuliah pertama, dia ada janji bertemu dengan Ustdz. Faridz di mushala kampus. Dia tegakkan dua rakaat shalat Tahiyatul Masjid, disusul dengan 4 rakaat shalat Dluha. Lalu, dia tengadahkan tangan melantunkan doa.
Dia menyambung ibadah paginya dengan tilawah tartil sambil menunggu ustadz datang. Seorang kawan menghampirinya. Dia tutup tilawahnya setelah menyelesaikan satu pojok.

“Assalamualaikum, Akh Ilham…,” sapa sang kawan ramah.
“Waalaikum salam warahmatullah… apa kabar, Akhi?” jawabnya sambil taklupa bertanya kabar.

“Alhamdulillah ana bikhoiir… antum sendiri gimana? Kabarnya udah siap nikah, nih…” mata sang kawan mengerling menggodanya. Dia cuma tersenyum, takberniat menanggapi gurauannya.
“Akh, di sini ada bidadari.”

Bidadari? Darahnya berdesir. Ah, bidadari, kesannya indah.

“Sini, ana tunjukkan orangnya. Ini akhwat luar biasa, anak kedokteran, prestasinya brilian, aktivis kampus, ketua pembinaan dan kaderisasi akhwat, akhlaknya mengagumkan, ibadahnya tidak diragukan. Dia pembina adik ane. Cocok banget sama antum!” kawannya menjelaskan panjang lebar, membuatnya penasaran.

Lalu, telunjuknya mengarah ke sosok seorang akhwat. Taklama, yang dibilang bidadari itu sudah terlihat jelas.

“Masya Allah… itu yang dibilang bidadari? Mana ada bidadari hitam legam? Yang kubaca dalam Ibnu Katsir, bidadari itu cantik sekali, kulitnya putih transparan seperti putih telur. Eh, mana ada di dunia yang begitu ya.. paling gak, kuning langsatlah. Masa black begitu. Black sweet, sih masih banyak yang mau, ini aku belum lihat sweet-nya.” Dia menggerutu dalam hati. Takberminat meneruskan percakapan.

“Akh, ane ke perpustakaan dulu, yaa….Bidadari itu, buat Antum, aja.” Dia berpamitan.
“lho… sama ane mah ga sekufu, akh!”
“Ya udah, assalamualaikum.”

Ilham beranjak meninggalkan kawannya. Baru beberapa langkah, seorang marbot memanggilnya dan menyerahkan amplop putih titipan dari Ustadz Faridz. Ustadz tidak bisa datang, makanya dia meniitpkan amplop itu.

“Hmm… ini biodata akhwat yang dijanjikan Ustadz,” langkahnya mantap menuju perpustakaan, tempat paling aman untuk membuka dan membaca biodatanya.

Dia duduk di sana, mengatur nafasnya yang terengah, bukan karena capek, tapi sibuk menahan deburan dalam dada. Perlahan dia membuka amplop itu, sengaja dia tinggalkan selembar foto di dalamnya, dia akan melihatnya nanti.

“Bismillahirrahmaanirrahiim…,” dia kuatkan hati membaca susunan huruf demi huruf dalam biodata. “Akhwat luar biasa, usianya, dua tahun dibawahku, lumayan. Pendidikan, kedokteran umum XX (sedang koas), Alhamdulillah… ayah dan ummi pasti senang sekali. Sepertinya pas untukku.” Gumannya bahagia. Dia berbunga-bunga. Lalu, diambilnya selembar foto di dalam amplop, ah… sebentar, biar kutenangkan diri… Bismillah…

Ah… kenapa akhwat ini?? Keluhnya. Bunga-bunga yang tadi bermekaran luruh satu persatu, beterbangan diterpa angin. Lunglai tubuhnya seolah tidak bertenaga. Sesak memenuhi rongga dada.

Kenapa akhwat ini yang disodorkan padaku? Dia kembali mengeluh. Terbayang kembali akhwat berkulit legam dan sama sekali tidak cantik menurut ukurannya. “Semoga dia bukan jodohku…” doanya lancang. Ustadz… masa sih, nyariin aku kayak gini? Kalau kayak gini sih, aku juga bisa nyari sendiri. Congkak mulai merasuk.

Dikeluarkannya selembar foto. Foto diri yang sangat dibanggakan. Dia menatap mata elang yang mengagumkan. Hidung yang mancung, bentuk muka yang menawan. “Apakah salah jika aku menginginkan akhwat sholihah yang cantik?” Dia mendesah resah.

Dia Memang Bidadari

Ilham berusaha menyerahkan semua keputusan pada Allah. Dia akan berikhtiar dengan wajar dan berdoa dengan kesungguhan. Walau dia belum punya kemantapan, namun dia akan mengosongkan perasaan buruk di hatinya. Dia akan berangkat dengan perasaan netral. Dia ingin semua langkah dimulai dengan kebersihan hati, kelurusan niat, ketergantungan yang besar pada Allah, dan kesungguhan ikhtiar. Dia takingin mengedepankan nafsu apalagi diiringi segala penyakit yang mengusamkan kalbu.

Taaruf yang dijalaninya bersama ukhti Dede--nama akhwat yang disodorkan Ustadz Faridz--sangat wajar dan biasa saja. Dia didampingi Ustadz Faridz, sedangkan Dede didampingi istri beliau. Komunikasi berjalan dengan baik, penyatuan persepsi lancar, pengungkapan kondisi keluarga dan latar belakangnya juga lancar.

Ilham merasakan ada yang menarik hatinya. Wajah berkulit hitam itu memendarkan cahaya. Benar kata adiknya, jika berbicara sedap dipandang dan didengar. Inilah relativitas kecantikan, meski ada kecantikan yang diakui semua orang.

Ilham sempat deg-degan dan merasa was-was ikhtiarnya akan gagal ketika orang tua Dede mengujinya.

“Abah sudah dengar tentang kebaikan akhlak dan aktivitasmu. Sekarang Abah ingin mendengar langsung bacaan Quranmu. Abah takkan menyerahkan putri Abah pada seseorang yang tidak bagus bacaan Qurannya.” Begitulah ujiannya. Alhamdulillah semua lancar dan dia diterima meski banyak catatan.

Hingga tibalah waktu yang dinanti. Hari ini seharusnya Ilham dan keluarganya datang untuk mengkhitbah Dede. Hari ini seharusnya rombongan berangkat dengan wajah berseri. Namun, Allah membuat rencana yang sangat berbeda. Ilham yang semalam penuh diliputi senyum simpul, kini banyak menunduk dan beristighfar.

Sungguh siapa sangka, lamaran kali ini gagal. Dede, sang aktivis dakwah yang telah menjual diri dan jiwanya untuk berjihad fii sabiilillah, pulang ke rumah orang tuanya, bukan untuk dilamar, melainkan untuk dimakamkan.

Takdir Allah terjadi atasnya. Selama ini dia giat berdakwah di sebuah desa tertinggal. Desa yang dahulu nyaris kehilangan keislamannya, bergairah kembali dengan pembinaan rutin dari Dede dan kawan-kawannya. Rupanya, hal itu tidak disenangi oleh misionaris yang selama ini hampir berhasil memurtadkan penduduk desa itu.

Dia dibunuh dalam perjalanannya sepulang dari baksos di desa itu karena mempertahankan akidahnya. Mereka tidak berhasil memaksanya untuk menukar keyakinannya dan meninggalkan aktivitas dakwahnya.

Ilham tercenung menatap tanah merah basah di pekuburan itu. Di dalamnya bersemayam jasad sang mujahidah. Bidadari yang hendak disuntingnya. Semilir angin menghembuskan wangi kesturi, wangi para syuhada.

Dalam desahnya dia bergumam, “Kau ternyata wanita agung. Kau lebih mulia daripada bidadari. Seorang Ilham tidak diizinkan Allah untuk sekadar mengkhitbahmu, apalagi memilikimu. Maafkan aku yang dulu sempat sombong terhadapmu.” Wajahnya tertunduk dalam.

“Subhanallah… aku takmengira bahwa kau adalah bidadari yang diturunkan Allah untukku. Allah menurunkanmu bukan untuk kumiliki, tetapi untuk menegurku dari segala kesombongan,” Gumamnya penuh penyesalan.

(Lembaga Muslimah Wahdah Bandung)

Senin, November 23, 2009

Srikandi Pejuang Cinta




Penampilannya memang tomboy meski tetap berjilbab, celana jins dan kaos menjadi pakaian favoritnya setiap hari. Walaupun demikian, dia tetap muslimah yang taat. Setiap selesai shalat, dzikir dan doa khusyuk hampir tidak pernah ditinggalkannya. Kadang dia malah tampak lebih khusyuk dari doa-doaku. Jujur, setelah shalat kadang saya membaca dzikir sambil jalan, terutama kalau sedang dikejar banyak pekerjaan. Na’udzubillahi min dzalik. Ternyata saya masih kalah dengan kesibukan duniawi.

Agama baginya bukanlah sebuah doktrin seperti seorang santri yang tunduk manut dengan kiyainya. Akan tetapi, agama adalah sebuah kebenaran yang harus bisa dibuktikan. Itu sebabnya dia lebih suka gaya dakwah seperti Nurcholish Madjid (Cak Nur) atau Quraish Shihab. Mereka menyentuh hati umat muslim dengan pemikiran-pemikirannya. Dia bahkan menjadi penggemar berat Emha Ainun Najib (Cak Nun). Seorang yang dengan gaya pemikiran tersendiri (cuek dan cenderung bebas) tapi tetap mampu memahamkan kepada umat akan arti ma’rifatullah. Itu sebabnya dia dikenal dengan sebutan Kiyai Mbeling. Rugi berat baginya kalau sampai terlewat tidak mengikuti Kenduri Cintanya Cak Nun yang digelar di TIM Jakarta setiap bulan.

Tulisan ini bukan untuk menguliti tingkat religiusitas sahabat saya yang satu ini, tapi saya justru tertarik dengan kisah cintanya. Uraian tadi hanya prolog, untuk memberi gambaran lebih dalam karakter tokoh yang saya ceritakan ini.

Sebagai manusia normal, Aini, sahabatku yang satu ini juga pernah merasakan cinta kepada seorang pria. Yah, tentu saja bukan hanya seorang pria. Ada beberapa pria malah. Tapi, ada satu pria yang benar-banar nyantol di hatinya dan begitu sulit dienyahkan dari hati dan pikirannya. Dia kakak tingkatnya di kampus dan terkenal sebagai seniman. Wiro Sablon, begitu nama bekennya di kampus. Maklum, dia memang ahli sablon di kampusnya.

Aini pernah mencoba menyatakan perasaannya untuk Wiro lewat perantara sahabat dekat Aini. Tapi apa jawaban Wiro, “Masak sih, Aini naksir gue? Gue kan oon.” Kilahnya takpercaya. Meski sahabat Aini mencoba meyakinkan kalau Aini benar-benar naksir dia, tapi dia tetap takbergeming. Mungkin dia nggak pede.

Sebagai sesama wartawati (dulu, untung sekarang nggak jadi wartawati lagi), saya bisa merasakan kegundahan hati Aini. Saya sendiri nggak tahu stigma apa yang melekat pada diri wartawati sehingga dalam soal cinta seorang wartawati seolah dijauhi pria. Apa kesan seorang wartawati yang smart, lugas dalam berfikir, agresif (terutama ketika mengejar berita), berani dan mandiri yang membuat pria takut berdampingan hidup dengan wartawati? Apa pria takut bakal kalah wibawa bila menikah dengan wanita yang tampak pintar dan berani? Bukan berani menantang kaum pria sebenarnya, tapi berani menguak kebenaran dari sebuah berita yang akan ditulisnya. Berani menghadapi nara sumber dari berbagai kalangan, baik orang terkenal seperti selebriti atau bahkan para politikus dan pejabat. Bagaimanapun, keberanian inilah yang mutlak dimiliki seorang wartawan. Kalau soal kemampuan menulis itu bisa belajar sambil jalan atau learning by doing. Tapi, kalau seorang wartawan tidak memiliki keberanian, tamatlah riwayatnya.

Entahlah, apa Wiro juga dihinggapi pemikiran demikian tentang kesan seorang Aini sehingga tampak minder bila harus berpacaran atau bahkan menikah dengan Aini hanya karena dia seorang wartawati kampus. Setelah lulus pun dia menjadi wartawan di sebuah media Islami di Jakarta.

“Aini, dia nggak tahu aja kalau sebenarnya kita oon juga.” Candaku kepada Aini saat dia curhat tentang Wiro.
“Iya, bener, Mbak.” Kata Aini sambil tertawa. Kami pun tertawa lepas, bersama kami membuang penat di hati masing-masing. Mungkin, sebenarnya masalahku nggak jauh beda dengan Aini.

Sebagai wartawan, tentu senang kalau mendapatkan rekan kerja yang pintar dan memiliki banyak ide untuk materi liputan. Apalagi kalau rekan kerja kita sepemikiran dan enak diajak sharing soal pekerjaan. Tapi, untuk mendapatkan pasangan hidup tentu standarnya berbeda dengan mencari rekan kerja. Mencari pasangan hidup berkaitan erat dengan perasaan sehingga sangat subjektif. Kadang yang dibutuhkan hanya seseorang yang membuat kita nyaman berada di sampingnya, seseorang yang mampu memahami liak-liuk hati kita. Untuk itu kita tidak mesti menikah dengan pria yang ber-IPK di atas 3,5 dan berlabel coumlaude. Kita tidak butuh pria yang pandai berdebat di dalam rumah kita sendiri. Masa, di kantor pikiran kita sudah terforsir untuk debat tentang satu hal, di rumah pun masih debat juga dengan suami. Capek, deh… Bukan berarti pula mencari pria bodoh atau yang mau dibodohi, sih. Tapi, setidaknya seseorang yang bisa diajak untuk saling mamahami pemikiran kita masing-masing. Dia bisa memahami pemikiran kita dan terbuka untuk mau dipahami.

Seperti halnya Aini yang akhirnya tertambat pada pria seniman. Cintanya pada Wiro telah memenuhi relung hatinya begitu dalam sehingga tidak ada lagi tempat untuk pria lain. Sulit dipisahkan seperti darah yang mengalir dalam tubuh, dipisahkan berarti mati. “Kalau saya nggak bisa nikah dengan Wiro, lebih baik saya menjalani hidup sebagai sufi seperti Rabiah al Adawiyah.” Begitu tekadnya.

Saya sempat kaget dengan niat sahabatku yang satu ini. Saya jadi teringat dengan kata-katanya dulu waktu masih sering bertemu dengannya, “Saya paling tidak setuju kalau ketaatan beragama dikaitkan dengan ancaman neraka dan iming-iming surga. Kayak anak kecil. Bukankah ketaatan itu soal cinta hamba kepada Rabb-nya?”

Wah… Rabiah al Adawiyah banget. Selaras dengan ungkapan Rabiah yang sangat fenomenal, “Jika aku beribadah kepada-Mu karena aku takut akan neraka-Mu, maka bakarlah neraka-Mu. Jika aku beribadah kepada-Mu karena mengharapkan surga-Mu, maka bakarlah surge-Mu. Tapi, jika aku beribadah kepada-Mu karena cintaku yang tulus kepada-Mu, maka jangan halangi aku untuk bertemu dengan kekasih hatiku kelak.”

Sufiyah yang fenomenal dalam sejarah ini memang pernah menjadi menu obrolan kami berdua, tapi saya tidak menyangka kalau dia bahkan ingin mengikuti jejaknya. Ketika Aini mengungkapkan keinginanya ini kepada ibunya, beliau tidak merestui keinginan anak gadisnya ini untuk malajang seumur hidup dan menjadi seorang sufi. Beliau tetap ingin anaknya menikah selayaknya perempuan lain yang menjadi istri dan ibu bagi anak-anaknya.

“Habis mau bagaimana lagi, rasanya aku taksanggup kalau harus menikah dengan pria lain,” bagitu alasan Aini.

Aini memang pernah mencoba menyelami pemikiran dan kehidupan seorang seniman dengan menikmati banyak pameran lukisan atau pentas seni lain. Setidaknya dia mencoba untuk memakai bahasa seorang seniman. Tapi, akhirnya Aini pun pasrah. Sampai kemudian, ketika kerinduan kepada Wiro tiba-tiba menyeruak, Aini terinspirasi untuk datang bersilaturahmi ke rumah Wiro. “Kalau toh saya tidak bertemu Wiro, setidaknya saya bisa mengenal keluarganya. Saya ingin menjalin hubungan baik dengan keluarganya meski mungkin saya tidak bisa menikah dengan Wiro.” Batin Aini. Dengan berbekal alamat dari buku wisuda kampusnya, dia pun menemukan rumah Wiro.

Begitu sampai di rumah Wiro dan mengenalkan diri sebagai Aini, orang yang menerimanya di rumah itu langsung nyeletuk, “Oh, ini yang namanya Aini.” Rupanya nama Aini sudah sangat familiar di keluarga Wiro lewat cerita-cerita Wiro kepada mereka, hanya saja mereka belum pernah bertemu langsung dengan orangnya. Wiro cukup kaget dengan kehadiran Aini di rumahnya. Kedatangannya inilah rupanya yang membuat Wiro merasa yakin kalau Aini memang benar-benar suka sama dia. Wiro pun akhirnya memiliki keberanian untuk menyatakan perasaannya kepada Aini. Tentu saja Aini menerima cinta Wiro yang memang sudah sangat diharapkannya dari dulu.

Beberapa bulan setelah itu mereka pun bertunangan. Paska tunangan, ada aturan taktertulis yang berlaku antara mereka. Wiro ingin Aini tampil lebih feminin. Aini pun mulai rajin menambah koleksi rok di lemari pakaiannya. Sedang Aini menginginkan Wiro lebih religi.

“Dia sekarang lagi rajin menghafal juz ‘amma buat disetor ke saya, mbak.” Cerita Aini tentang perkembangan hubungannya dengan Wiro.

Yah, bagaimana pun seorang suami adalah imam bagi keluarganya. Minimalnya dia harus bisa menjadi imam shalat. Kebayang kan, kalau setiap menjadi imam bacaan suratnya Al Ikhlas lagi, Al Ikhlas lagi. Hehehe.

Taklama setelah bertunangan, mereka pun menikah. Wah…happy ending, deh. Selamat buat Aini dan Arif, semoga menjadi keluarga samara. Maaf kalau saya tidak bisa menghadiri pernikahan kalian. Tapi, doa tulus untuk kebahagiaan kalian tetap saya panjatkan meski dari jauh. Anggaplah tulisan ini sebagai kado atas pernikahan kalian meski sudah lama berlalu.

Aini, sebenarnya Wiro hanyalah pria biasa, tidak jauh berbeda dengan pria-pria lain. Tapi, cintamu kepadanya yang begitu luar biasa telah membuatnya menjadi sesosok pria yang luar biasa juga. Salut untukmu, sahabatku.

Kapan yah, saya bisa sepertimu? Yang mampu mengikhlaskan cinta hingga di titik nol, sampai kemudian Allah mengembalikan cinta utuh untukmu dalam pernikahan suci, lalu menikah dengan orang yang benar-benar kau cintai.@

Selasa, November 17, 2009

Mencari Jodoh Secara Terang-Terangan Lagi Jadi Trend



Beberapa tahun lalu, mencari jodoh lewat iklan biro jodoh di media massa masih dianggap tabu. Orang merasa gengsi kalau namanya secara jelas terpampang di iklan jodoh yang menuliskan kalau dia sedang mencari pendamping hidup. “Kayak nggak laku aja!” begitu komentarnya kalau seandainya dia ditawarin mengiklankan diri di sana. Biasanya, orang mengiklankan diri di media massa menjadi alternatif terakhir kalau segala cara sudah ditempuh namun masih mentok juga. Itu pun dalam format serba terbatas, tidak mencantumkan nama jelas, hanya inisial bahkan kadang kode nomor saja. Walhasil, imej bahwa orang yang mau mengiklankan diri di media adalah orang yang taklaku. Duh….kasihan amat.

Atau mungkin saja media tersebut tidak memberikan ruang bagi para kliennya saling mengenal lebih jauh sehingga iklan itu terkesan mati, sudah ditampilkan lalu selesai. Syukur-syukur kalau ada yang merespon, kalau nggak ada ya sudahlah, tamat riwayatnya.

Ada sebuah media Islami di negeri ini yang kemudian membuat biro jodoh lewat media mereka, harapannya ini benar-benar menjadi media untuk melancarkan proses menuju gerbang pernikahan suci. Bukankah satu pahala besar kalau kita bisa menjadi jalan kebaikan orang lain, apalagi dalam ibadah menikah? Niat mulia inilah yang mendasari media tersebut untuk serius mengemas biro jodoh mereka dibanding media umum. Bukan hanya diiklankan atau diberitahukan kepada khalayak pembaca tentang beberapa klien yang serius sedang mencari calon pasangan hidup, tapi juga ada pembinaan, pertemuan rutin bersama, hingga proses ta’aruf antar pasangan. Beberapa klien berhasil menemukan jodohnya di ajang ini, tapi lebih banyak lagi yang tidak. Yah, itu kan hanya sarana, soal jodoh Allah juga yang menentukan.

Namun, seiring berjalannya sang waktu, saat era internet mulai merajai dunia media massa, media cetak mulai ditinggalkan. Otomatis biro jodoh ini pun kurang diminati pembaca. Sampai saat itu imej buruk tentang “iklan jodoh” masih melekat di hati masyarakat hingga muncul acara di TV swasta “Take Him Out dan Take Me Out”. Acara ini konon menyedot penonton cukup besar. Pro dan kontra mengenai acara ini mulai berdatangan dari berbagai kalangan. Kelompok yang kontra terutama datang dari kalangan umat Islam yang menganggap acara seperti ini kurang Islami. Maklum, konon kabarnya acara ini mengadopsi dari Barat yang jelas-jelas tidak memakai aturan Islam. “Mencari jodoh kok dikomersilkan, Acaranya kurang mendidik, Prosesnya jauh dari Islami” dan seabreg komentar lain dari kalangan yang kontra.

Secara pribadi, saya pun kurang sreg dengan acara ini. Menurut saya, orientasi para pesertanya terlalu materialistis dan fisikly. Tidak ada standardisasi yang cukup dari segi akhlak dan religiusitas. (cie….sok religi nih ye…..) Tapi, saya tidak akan membahas soal pro dan kontra orang-orang terhadap acara seperti ini. Saya mencoba membaca dari sisi lain, bahwa lepas dari pro dan kontranya, nyatanya acara ini telah mengubah pola pandang orang pada umumnya tentang biro jodoh atau iklan jodoh. Acara seperti ini takubahnya seperti biro jodoh, hanya dikemas sedemikian apik sehingga menarik orang untuk masuk di dalamnya menjadi peserta, atau menimal menikmati tontonannya. Apalagi para pesertanya cukup berkualitas, setidaknya dari segi fisik dan materi. Mereka cantik-cantik dan ganteng-ganteng dengan penghasilan yang boleh dibilang cukup mapan (meski ada beberapa yang kurang, tapi itu relatif). Setidaknya, dari dua segi itulah modal besar mereka untuk layak dipilih oleh para jomblowan dan jomblowati yang mengikuti acara itu. (soal jomblo asli atau tidak, atau mungkin sedang rehat sejenak dengan kekasihnya, saya tidak tahu kebenaranya).

Beberapa peserta mungkin bisa mendapatkan cinta sejatinya lewat acara ini hinga kemudian menikah, ada juga yang kemudian putus, dan lebih buruk lagi ada yang tidak mau memilih sama sekali. Usut punya usut, ternyata dia hanya ingin menguji eksistensi dirinya. “Seberapa lakukah aku di mata lawan jenisku?” mungkin pertanyaan itulah yang mengisi batok kepalanya. Hm…

Mereka memiliki penampilan yang menawan, berpendidikan tinggi, berpenghasilan lumayan, lalu mengapa jomblo? Terlalu pemilihkah? Atau terlalu sibuk mengejar karir sehingga nggak sempat mencari pasangan? Atau pernah trauma dengan mantan kekasih? Terlepas apa alasannya, yang pasti ternyata banyak makhluk-makhluk jomblo yang mendambakan pasangan hidup meski potensi diri mereka sangat layak untuk dipilih. Ajang seperti ini telah mempertemukan teman-teman senasib yang mengaku kelompok Jojoba (jomblo-bomlo bahagia), Jotaren (Jomblo tapi keren), Jonas (Jomblo narsis), dan gank-gank jomblo lain. Mereka takmalu lagi mengaku diri jomblo dan takmalu pula untuk mengikuti biro jodoh sebagai ajang mencari pasangan hidup. (memang sih, jomblo bukan sebuah aib yang harus disembunyikan).

Menjadi peserta biro jodoh ala entertainment di TV malah menjadi ajang mengekspose eksistensi diri mereka, bahkan ajang narsis diri. Semakin banyak lawan jenis yang memilih dirinya, dia akan merasa diri semakin eksis. Sebaliknya, bila takada yang memilih dirinya satu pun, maka derajatnya pun seolah turun hingga ke dasar bumi. Duh….kacian deh, lo…..

Semakin maraknya sambutan penonton TV dengan acara seperti ini membuat TV lain seolah berlomba membuat acara sejenis. Lalu, muncul Tek-tek Out yang murni entertainment dan hiburan. Pesertanya para artis terkenal yang sudah disetting sedemikian rupa sekadar menghibur pemirsa. Kebanyakan mereka sudah pada menikah, seperti Mpok Ati, Daus, dan artis-artis lama yang sudah jarang tampil di TV.

Ada juga acara yang memang serius untuk mendapatkan pendamping hidup, tapi yang ini khusus bagi para single parent. CIT-CAT (Cari IBu Tiri-Cari Ayah Tiri). Wah wah wah…duda-janda pun takmau ketinggalan rupanya. Baru-baru ini juga muncul acara sejenis Take Him Out dan Take Me Out, yaitu Cari-cari Jodoh. Semakin marak saja acara biro jodoh di TV kita. Mungkin sekarang memang sedang trend orang mencari jodoh, mumpung belum kiamat, kali. Apalagi muncul rumor yang beredar kalau kiamat akan terjadi tahun 2012. Mungkin akan terjadi pernikahan missal besar-besaran di tahun depan.

Sekarang, para jomblowan dan jomblowati sudah takperlu risau, di luar sana masih banyak makhluk-makhluk senasib. Saatnya sekarang menjemput jodoh di tempat dan waktu yang tepat. Kalau toh belum ketemu juga, ada lagunya Wali dan She buat menghibur kita. Kalau belum terhibur juga, saya tuliskan satu kisah yang semoga dapat menghibur.

Judulnya STMJ forever.

Ketika masih kuliah, disebut STMJ (Semester Tujuh Masih Jomblo)
Masuk semester akhir disebut STMJ juga (Semester Terakhir Masih Jomblo)
Sudah lulus masih disebut STMJ (Sudah Tamat Masih Jomblo)
Ketika mendapat pekerjaan masih juga disebut STMJ (Sudah Tugas Masih Jomblo)
Begitupun ketika usia senja, masih menjadi STMJ (Sudah Tua Masih Jomblo)
Dan, ketika meninggal, malaikat juiga bilang “Nih orang STMJ (Soleh sih, Tapi Masih Jomblo)
Ketika dia dibangkitkan dari kubur dan memasuki surga, di depan pintu surga tertulis “STMJ (Surga Teruntuk Manusia Jomblo)”. Hehehe……

Buat para jomblowan dan jomblowati, semoga segera keluar dari zona ini dan mendapatkan pasangan hidup terbaik menurut Allah. Amin. @

Kamis, Oktober 22, 2009

Cinta Sepasang Merpati


Ada merpati betina yang menjadi idola banyak pejantan merpati. Bulunya yang putih bersih dan lincah mengembang indah saat terbang, menjadi pesona yang begitu menggoda di mata para pejantan. Setiap ia berjalan, terbang dan hinggap di suatu tempat, selalu menjadi pusat perhatian para pejantan merpati. Tidak sedikit para pejantan merpati yang secara agrasif mendekati dan menggodanya, tapi Merpati Betina ini tidak bergeming, apalagi untuk menjadikan mereka sebagai pendamping hidupnya.

Suatu saat ia sedang berada di suatu tempat bersama ayahnya. Seperti biasa, di sana pun ia menjadi pusat perhatian banyak pejantan merpati. Tapi, matanya yang indah dan menjadi daya tarik tersendiri ini hanya tertuju pada sesosok Pejantan Merpati yang sedang duduk sendiri di sudut ruangan. Tidak seperti pejantan lain yang langsung antusias memerhatikan dirinya begitu ia lewat di hadapan mereka, pejantan yang satu ini nampak hanya duduk diam dan terpekur di sudut ruangan tanpa sedikit pun menoleh ke arah Merpati Betina ini.

“Mengapa pejantan yang satu ini tidak seperti pejantan lain yang langsung terpesona begitu melihatku?” batin Merpati Betina.

Sikap dingin Pejantan Merpati ini membuatnya terusik dan terus memikirkannya.

Merpati Betina ini pun berkata kepada ayahnya, “Ayah, nikahkan aku dengan Pejantan Merpati yang sedang duduk sendiri di sudut ruangan sana! Aku hanya ingin menikah dengannya.” Merpati Betina menunjuk ke arah Pejantan Merpati di sudut ruangan.

Singkat kata, menikahlah Merpati Betina ini dengan Pejantan Merpati pujaannya. Hari pertama menikah, Pejantan Merpati yang sudah sah menjadi suaminya ini nampak kaku dalam bersikap kepadanya. Sifatnya yang pendiam terkesan semakin dingin.

“Mungkin karena pengantin baru, makanya suamiku masih malu-malu,” pikir Merpati Betina.

Ia mencoba bersabar menunggu luapan cinta dari suaminya. Berhari-hari, berminggu-minggu menunggu perubahan suaminya, tapi perubahan itu tidak pernah kunjung datang menghampiri hari-harinya. Lelah menanti, membuat keraguan muncul di hati Merpati Betina.

“Mungkinkah sikap dinginnya ini karena dia tidak mencintaiku?” batin Merpati Betina kecewa.

Lalu, muncul niat di hati Merpati Betina untuk menguji sejauh mana ketulusan cinta suaminya ini, apakah di hatinya ada cinta untuknya atau tidak. Ia pun pergi meninggalkan rumah. Ia terbang sejauh mungkin. Angin yang bertiup sangat kencang membawanya melewati tujuh laut dan tujuh samudra hingga ia terdampar di suatu pulau. Dengan tubuh yang lelah, berada di tempat yang sangat jauh membuatnya rindu kepada suaminya.

“Apakah suamiku akan mencari dan menjemputku pulang,” batin Merpati Betina penuh harap.

Sehari, dua hari, tiga hari, ia terus berharap kehadiran suaminya. Akan tetapi, suaminya tidak kunjung datang menjemputnya. Ia pun sempat berfikir, “Mungkin suamiku memang tidak pernah mencintaiku.”

Meski kecewa, tapi ia masih terus menunggu kehadiran suaminya sambil beristirahat untuk memulihkan tenaganya.

Di hari kelima, tiba-tiba angin kencang melanda pulau itu. Angin yang begitu kencang ini ternyata membawa terbang sesosok merpati lain dan mendamparkannya di pulau itu. Merpati itu nampak begitu kelelahan, bulu-bulunya banyak yang rontok karena tiupan angin. Merpati Betina itu pun memerhatikan dengan seksama siapa sosok merpati yang baru saja terdampar di pulau itu. Setelah beberapa saat melihat dengan teliti, ternyata wajah merpati itu mirip dengan suaminya. Tapi, ia sedikit ragu karena penampilannya sangat berantakan sehingga wajahnya nyaris sulit dikenali.

Meski keraguan itu mendominasi hatinya, tapi ia mencoba untuk memanggil sosok merpati itu dengan nama suaminya. Ternyata sosok itu menoleh ke arahnya. Setengah tidak percaya, mata Merpati Betina memancarkan sinar bahagia.

“Kamu benar-benar suamiku?” tanya Merpati Betina masih ragu.

“Iya, aku suamimu,” kata Pejantan Merpati yang langsung mengenali sosok istrinya.

Hati Pejantan Merpati pun dipenuhi kebahagiaan yang membuncah, tapi sikapnya tetap lempeng, seolah tidak menunjukkan rona bahagia.

“Kau datang untuk menjemputku, suamiku?” tanya Merpati Betina seolah takpercaya.
“Iya, sayang. Aku datang untuk menjemputmu karena aku mencintaimu,” jawab suaminya.

Dia menyebutku sayang…. Dia bilang mencintaiku….apa aku tidak salah dengar? Apakah ini nyata, bukan mimpi? Batin Merpati Betina begitu bahagia.

“Tapi, selama ini kau tidak pernah menunjukkan rasa cintamu kepadaku sampai membuatku berfikir kalau kau memang tidak pernah mencintaiku. Itulah yang membuatku sengaja pergi meninggalkanmu, sekadar untuk menguji seberapa besar cintamu kepadaku. Akhirnya kau datang juga menjemputku,” kata Merpati Betina mengungkapkan segala kegundahan hatinya selama ini.

“Kalau kau tanya seberapa besar cintaku kepadamu. Aku hanya bisa bilang kalau cintaku kepadamu hanya sekotak kecil di dalam hatiku.”

Deg. Hati Merpati Betina berdegup kencang. “Hanya sekecil itukah cintanya kepadaku setelah aku berikan cinta yang begitu besar untuknya, setelah aku mengosongkan hatiku sekian lama hanya untuk cintanya meski banyak pejantan lain yang mendambakan cintaku,” batin Merpati Betina sedih.

“Tenang istriku,” ungkap Pejantan Merpati melihat kesedihan di wajah istrinya.

“Kotak besar yang lain aku sediakan untuk Sang Khalik yang menciptakan diriku. Tapi, di dalam sekotak kecil itulah aku tampung segala perasaanku. Saat aku sedih, aku datang ke kotak kecil itu. Saat aku bahagia pun aku datang ke kotak kecil itu untuk berbagi kebahagiaan. Kau tahu wahai istriku, seberapa luas kotak kecil itu? Kotak kecil itu adalah seluas tujuh samudra yang baru saja aku seberangi. Itulah gambaran cintaku kepadamu, sayangku. Itulah sebabnya mengapa aku rela melewati tujuh laut dan tujuh samudra hanya untuk menjemputmu. Berhari-hari aku mencarimu hanya karena aku tidak ingin kehilangan dirimu.” kata Pejantan Merpati penuh perasaan.

Merpati Betina pun merasa terharu, takterasa bulir air mata bahagia mulai menggenang di matanya yang indah. Ia pun menghambur ke dalam pelukan suaminya.

“Suamiku, akulah seorang istri yang paling berbahagia karena memiliki suami yang begitu mencintai. Dalam diam dan sikap dinginmu selama ini, ternyata kau menyimpan rasa cinta yang begitu dalam.”

Mereka pun larut dalam haru dan cinta yang dalam. (TAMAT)

(Seperti diceritakan dr. Tauhid Nur Azhar dalam sebuah acara buka bersama dengan kru Tabloid MQ di MQ CafĂ©, tahun 2006)….dr. Tauhid, terima kasih untuk inspirasinya.


Meski cinta hadir di hati kita begitu dalam, ternyata tetap perlu diungkapkan. Bukan lewat kata-kata manis seperti seorang pembual yang menjual dagangannya. Ungkapan cinta bisa dengan kata-kata sederhana, mungkin hanya kata “I Love U”, tapi terungkap dari ketulusan hati yang paling dalam. Berani mencintai, harus berani mengungkapkan.

Cinta memang tidak harus memiliki, tapi kau takkan mungkin bisa memiliki cintamu kalau kau takpernah mengungkapkan perasaan cinta kepada kekasih hatimu.

Mungkin ada yang bilang kalau cinta tidak harus diungkapkan dengan kata-kata, bisa lewat sikap dan perhatian kepada kekasih hati kita. Tapi, realitanya cinta tetap membutuhkan legalitas. Maka, “kata cinta” adalah gerbang menuju legalitas cinta.


NB; Tulisan ini saya dedikasikan untuk all kru MQ Media, Bandung dan orang-orang yang mengenalku. Kembangkanlah terus cinta dan kasih sayang di antara kita. Semoga tali silaturahmi kita tidak akan putus dan terus terulur hingga ke surga kelak. Amin.

Rabu, September 09, 2009

Bukan Cinta Adam & Hawa, Tapi Cinta Azam & Aya #2

Sejak Aya lulus, jarak dan waktu seolah begitu sulit mempertemukan Azam dan Aya kembali. Mungkin dia memang bukan untukku. Batin Aya. Mereka pun sibuk dengan aktifitas masing-masing. Aya tetap beraktivitas di Bandung sedangkan Azam kembali ke kota kelahirannya. Di tengah kesibukan sebagai wartawan di sebuah media Islami di Bandung, tiba-tiba Aya teringat akan Azam. Lima tahun setelah Aya lulus, entah mengapa Aya masih sulit melupakannya meski pernah mencoba berta’aruf dengan ikhwan lain.

Waktu itu Aya mengira kalau Azam sudah menikah. Tapi, menikah dengan siapa dan kapan nikahnya, Aya takpernah tahu. Aku hanya ingin tahu kabarnya. Batin Aya. Mumpung bulan Ramadhan, Aya mengirimkan tabloid (media kerja Aya selama ini) dan kartu ucapan lebaran. Di kartu lebaran, Aya mencantumkan nomor HP-nya dan ucapan salam untuk istri dan anak-anak Azam.

Seminggu kemudian datang SMS dari Azam, “Makasih kiriman tabloidnya. Maaf lahir batin. Salam juga buat suami dan anak-anakmu.”

Aya hanya tersenyum membaca SMS-nya. Lalu, Aya menelepon Azam, bertanya kabar, aktivitas, dsb. Suaranya tidak berubah, begitu pun gaya bicaranya.

“Gimana, salam saya sudah disampaikan belum buat istri dan anak-anak Mas?” tanya Aya.
“Belum.”
“Kenapa?”
“Karena saya belum nikah.”
Aya mengira kalau Azam bercanda. “Masak, sih. Mas kan, banyak penggemar, masak belum nikah?”
“Ya … gimana Ay, cewek sekarang banyak yang matre.”
“Nggak semua cewek matre, kali ….”

Dia tidak berkomentar lebih jauh, malah mengalihkan ke pertanyaan lain, “Salamku udah disampein juga belum buat suami dan anak-anakmu.
Aya tertawa, “Belum juga, tuh.”
“Kenapa?”
“Karena saya juga belum nikah,” jawab Aya.

Sebuah harapan baru seperti kembali membentang di hadapan Aya, tapi tetap, Aya tidak mau berharap banyak. Aya sadar, kalau harapan dan hayal dipupuk makin tinggi, maka kekecewaan sedang ditarik makin dekat. Seperti orang naik pohon kelapa, semakin tinggi naik, kalau kemudian jatuh, maka sakitnya akan lebih terasa. Berbeda kalau naiknya belum terlalu tinggi, kalau jatuh pun sakitnya tidak terlalu. Apalagi kondisi hubungan Aya dengan Azam hanya sebatas persahabatan. Mereka yang sudah menjalin komitmen sebagai sepasang kekasih pun bisa putus, yang nikah bisa cerai, apalagi Aya dan Azam yang tidak memiliki komitmen apa pun.

Aya berharap pertemuan mereka itu bisa lebih mendekatkan mereka lagi, meski hanya lewat udara. Tapi, ternyata tetap tidak ada jalan yang mulus ke arah sana. Komunikasi sering hanya searah, kalau Aya kontak dia balas, kalau tidak, kabarnya pun hilang entah kemana. Kadang Aya berpikir, "Mungkin saya sama sekali tidak pernah ada di hatinya. Duh, sedihnya.”

Biasanya, cowok tuh kalau sedang naksir sama cewek, dia getol banget ngontak cewek itu. Dia akan berusaha mencari tahu lebih banyak tentang cewek itu. Azam sudah punya nomor HP Aya, sudah tahu di mana Aya tinggal. Tapi, tidak pernah ada usaha darinya untuk membuat hubungan mereka menjadi lebih dekat. Itu sudah satu pertanda kalau Aya memang takpernah ada di hati Azam.

Yah, Aya harus puas hanya sebagai sahabat. Tapi, walau bagaimana pun Aya tetap bahagia meski hanya sebagai sahabat. Toh, memang itulah status hubungan mereka dari dulu.

Mereka berdua pernah saling curhat tentang kecengan mereka masing-masing. Azam curhat tentang cewek yang sedang dia taksir, tapi kemudian ditinggal nikah. Begitu pun Aya, curhat ke Azam tentang cowok yang lagi ditaksir tapi akhirnya cowok itu memilih cewek lain. Wah, ternyata mereka senasib.

“Memangnya kenapa kamu belum nikah?” tanya Azam suatu hari kepada Aya lewat telepon.
“Hmm…gimana, yah? Sebenarnya sih, ada tiga cowok yang mau sama saya, tapi saya tolak semua,” jawab Aya enteng.
“Emang kenapa, kok, ditolak?” Azam bertanya penasaran.
“Ya …gimana lagi, cowok yang pertama ‘mau’ nampar, yang kedua ‘mau’ nendang, yang ketiga ‘mau’ muntah begitu lihat saya. Ya udah, saya tolak aja. Emang saya cewek apaan …,” canda Aya.
“Hahaha …,”Azam tertawa renyah.
Pasti awalnya dia mengira kalau Aya gadis yang sombong dan angkuh, begitu mudah dan bangganya menolak cowok. Tapi, ternyata ……

Tapi, di lain waktu, Azam membawa berita yang sempat membuat Aya sedikit syok. Azam bilang kalau dia sebenarnya sudah nikah.
“Saya sudah nikah dua minggu lalu, tolong jangan kontak saya lagi.” Begitu bunyi sms yang dikirimkan Azam untuk Aya.
Apa salah saya sehingga Azam memberi ancaman sekeras ini kepada saya? Batin Aya.

Mungkin Azam bosan karena Aya sempat beberapa kali nanya ke Azam kapan dia nikah (dengan perempuan lain tentunya) karena dia pernah bilang sedang dekat dengan seorang cewek yang sedaerah dengannya. Maksudnya biar Aya bisa menyiapkan kadonya jauh-jauh hari. Akhirnya, terlontar pernyataan seperti itu. Atau pernyataannya adalah satu cara Azam untuk menghindari Aya. Azam seolah ingin membuat dinding tebal yang menghalangi Aya untuk memasuki kehidupannya dan di dinding itu tertulis kata, “Don’t touch me”. Huhu …sedihnya.

Aya jelas merasa sakit hati, tapi itu tidak seberapa dibanding “rasa tersinggung” atas pernyataan Azam ini. Selama Aya memiliki teman cowok, baik dekat atau hanya berteman sekadarnya saja, tidak ada yang melarangnya untuk saling kontak meski mereka menikah dengan wanita lain.

“Kalau saya ini mantan pacarnya, wajar kalau Azam melarang saya untuk mengontak dia lagi karena mungkin dia ingin menjaga perasaan istrinya, khawatir istrinya cemburu. Kalau itu yang terjadi, pasti saya maklum dan tanpa disuruh pun saya akan membatasi berhubungan dengan pria beristri. Tapi, saya ini kan hanya teman biasa saja. Tidak pernah ada komitmen apa pun antara saya dan dia. Kenapa dia melarang saya mengontaknya setelah dia menikah? Pacar bisa putus ketika salah satunya harus menikah dengan yang lain. Tapi, apa pernah ada suatu persahabatan yang harus putus hanya karena salah satunya menikah duluan? Atau mungkin saya dinilai terlalu agresif sehingga dia takut saya akan mendekati dan terus mengejarnya? Oh … serendah itukah nilai diriku di matanya?” Aya masih belum bisa menjawab segala tanya yang berkecamuk di benaknya pasca mendapat kiriman sms dari Azam itu.

“Yah, kalau memang itu yang dia inginkan, baiklah, saya pun tidak akan mengontak dia lagi.” Tekad Aya sedikit geram.

Sesekali Aya masih mengirimkan sms, sekadar mengirimkan kata-kata mutiara seperti yang sering dia kirimkan kepada sahabat-sahabatnya yang lain, atau sekadar sapaan ringan lainnya. Aya hanya ingin menunjukkan kepada Azam kalau dia “tidak pernah menabuh genderang permusuhan” meski mungkin Azam telah menganggapnya seperti musuh. Aya tidak ingin memiliki musuh atau bermusuhan dengan siapa pun, apalagi dengan orang yang pernah dekat dan dicintainya. Kalau toh orang yang dicintainya ternyata tidak membalas cintanya, Aya berharap bisa saling bersahabat.

Beberapa bulan setelah kejadian itu, Azam meng-sms Aya kalau dia sedang berada di Bandung, di tempat kerja Aya dulu. Tapi, sayangnya waktu itu Aya sedang pulang kampung sehingga tidak bisa menemuinya.

“Wah, kecewa dong, gak bisa ketemu temen lama,” tulis Azam di sms.
Perasaan siapa, yah, yang udah ngelarang saya buat ketemu dia? Bukannya dia sendiri? Batin Aya.
“Datengnya sama istrimu, nggak?” balas sms Aya ke Azam.
“Nggak, saya bareng temen-temen kantor.”
“Wah, sayang banget. Padahal saya pengen ketemu sama istrimu.”
Sepertinya dia udah nggak marahan lagi sama saya. Semoga persahabatan kami bisa baik kembali seperti dulu. Batin Aya antara optimis dan sedikit pesimis.

Meski seperti mendapat lampu hijau untuk melanjutkan persahabatan (just to friendship), tapi bukan berarti hubungan mereka kembali akur seperti dulu. Kontak-kontakan hanya sekadarnya saja. Seperti biasa, itu pun lebih banyak dimulai dari Aya. Seolah-olah hanya Aya yang membutuhkan Azam. Hal inilah yang membuat Aya sedikit sedih, khawatir kalau sebenarnya Azam tidak mengharapkan kehadirannya sebagai sahabat. Aya sudah ikhlas melepas perasaan cintanya pada Azam, kalau memang Azam tidak mengharapkan cinta darinya. Tapi, apa untuk menjadi sahabat pun tidak bisa? Sebegitu bencikah Azam kepada saya? Batin Aya.

Dulu, waktu Aya sadar kalau dia mulai menyukai Azam, Aya sempat berharap agar Azam membenci dirinya karena Aya sadar sepertinya dirinya bukanlah tipe wanita yang diinginkan Azam. Tapi, entah mengapa sikap Azam malah sebaliknya. Dia begitu baik hingga membuatnya sulit melupakan Azam.

Namun sekarang, saat Aya ingin cinta bertumbuh di antara mereka berdua, Azam malah seperti berbalik membenci dirinya. Semua kenyataan ini membuat Aya sadar akan kenaifan dirinya selama ini. Sepuluh tahun berlalu sejak perkenalan pertama mereka, Aya masih berharap bahwa Azam masih sebaik dulu, bahkan mungkin masih menyisakan rasa cinta untuknya seperti perasaannya kepada Azam. Padahal, kenyataannya itu tidaklah mungkin terjadi. Azam kini telah memilih wanita lain untuk mengisi hatinya.
***

Dunia tulis-menulis kembali mengisi kesibukan Aya hingga terbit dua buku karyanya. Satu buku berkaitan dengan dunia wanita. Aya pun berniat memberikan buku itu untuk istrinya Azam. Aya mengontak HP Azam, ternyata tidak aktif. Berkali-kali dikontak tetap tidak aktif. Mungkin dia sudah ganti nomor HP. Rasanya nggak afdol kalau mengirimkan buku untuk istrinya Azam, sementara Aya tidak tahu siapa nama istrinya.

Setelah berfikir keras, akhirnya Aya menemukan cara untuk mendapatkan nomor kontak Azam. Dia masih mengantongi alamat sekolah bibinya Azam, alamat yang diberikan Azam waktu Aya hendak mengirimkan kado ultah untuk Azam. Melalui layanan 108, Aya bisa mendapatkan nomor telepon sekolah tersebut. Tanpa melalui kesulitan, Aya pun bisa berbincang dengan bibinya Azam melalui telepon.

“Saya temannya Azam, saya mau mengirimkan buku untuk istrinya. Tapi, saya nggak tahu siapa nama istrinya. Kalau boleh tahu, siapa ya, nama istrinya Mas Azam?” tanya Aya setelah sedikit berbasa-basi sebelumnya dengan bibinya Azam.

“Oh, Azam belum nikah,” jawab bibinya Azam.
Deg! Aya sedikit kaget. Saya dibohongi lagi nih, sama Azam. Batin Aya.
“Oh, gitu. Kirain sudah nikah.”
Akhirnya, Aya bisa mendapatkan nomor kontak Azam yang baru dari Bibinya ini. Aya pun mengontak Azam.

“Mas Azam, tadinya saya mau ngirimin buku baruku buat istri Mas. Waktu saya nanya nama istrinya Maz Azam sama Bibinya Mas, ternyata nama istri Mas belum tercantum di KUA, yah?” tanya Aya sedikit bercanda.
Terdengar tawa Azam di ujung telepon.
“Katanya Mas udah nikah dan ngelarang saya buat mengontak Mas lagi.”
“Kata siapa?” Azam pura-pura lupa.
“Kan, Mas yang bilang di sms, dulu.”
“Orang iseng kali yang ngirim, tuh,”
“Gak mungkin orang lain, sms-nya dari HP-nya Mas, kok.”
“Iya, gitu? Emang gimana bunyi sms-nya?” Azam masih pura-pura lupa.
“Ya, pokoknya gitu, deh. Intinya, Mas ngelarang saya buat ngontak karena Mas udah nikah.”
Mungkin merasa terdesak, Azam mengalihkan ke pembicaraan lain.
“Kemarin Bram nelpon ke saya, Ay.”
Rupanya Azam masih sering kontak-kontakan sama sahabat lamanya di kampus dulu. Bram, sahabat dekat Azam sekaligus teman sekabupaten Aya.
“Oh, ya? Ngobrol apaan? Lama nelponnya?”
“Cukup lama. Biasalah, obrolan teman lama,” jawab Azam tidak mau berbicara lebih spesifik.

Setelah pembicaraan itu usai, Aya meng-sms Bram.
“Kata Azam, Mas Bram kemarin telpon-telponan sama dia. Ngobrol apa aja sama Azam?”
“Ngobrol kalau dia naksir kamu,” balas Bram.
“Ah bohong. Saya nanya serius, nih,” Aya penasaran.
“Suer! Nggak percaya?!”

Akhirnya Aya nelpon langsung Bram.
“Mas Bram, saya nanya serius, nih!”
“Saya juga jawab serius, kok. Awalnya sih, ngobrol-ngobrol soal masa lalu waktu kuliah. Trus dia nanya, ‘Bram, Aya kabarnya gimana? Sudah nikah belum? Tinggal di mana dia sekarang?’ Ngapain coba dia nanyain gitu kalau dia nggak naksir kamu.”
“Masak, sih. Tapi, kenapa dia nggak pernah nelpon saya langsung? Kenapa sikapnya seperti ketus ke saya. Dia ngakunya udah nikah, terus ngelarang saya buat ngontak saya. Kata-katanya juga jarang yang bagus, sering ketus.”
“Yah … mungkin dia malu kali, Ay.”
“Malu sama saya? Emang saya pernah mempermalukan dia?”
“Ya, nggak tahu, sih, Ay.”

Aya semakin nggak ngerti dengan sikap Azam. Di depannya sikapnya nggak pernah bagus, kata-katanya sering ketus. Tapi, kenapa di belakangnya dia seperti penasaran dengan dirinya. Kalau dia memang benci dan tidak peduli lagi pada Aya, kenapa dia masih nanya-nanya kabar tentang diri Aya?

Keesokan harinya Aya sms-an dengan Azam. Tiba-tiba Azam nanya, “Aya, calon suamimu orang mana?”
Aya sempat kaget. “Tumben dia nanya gini.” Batin Aya.
“Calon suamiku ya orang Indramayu, yang lagi baca sms ini, nih. Hehehe …,” balas Aya dengan nada bercanda meski itulah keinginan dirinya yang sebenarnya.
“Jadi GR, nih. Saya nanya serius, kok dibalas bercanda gitu.”
“Saya juga serius. Emang Mas Azam mau jadi suamiku? Saya akan sangat berbahagia kalau Mas Azam mau menerima saya apa adanya sebagai istri Mas.”
“SERIUS?!”
“1000rius!” Tapi sayang, sms terakhirnya ini tidak terkirim ke HP Azam karena ternyata Aya kehabisan pulsa.

Padahal, jawaban itulah yang mungkin sangat dinanti-nantikan Azam. Tapi, kenapa pulsa Aya harus habis pada saat genting seperti itu. Kalau secara logika, hanya butuh Rp.100,00 untuk membalas sms-nya karena nomor mereka satu operator. Tapi, Rp.100,00 pun tidak ada di HP Aya.

“Ya Allah, kenapa harus terjadi seperti ini? Apa ini pertanda bahwa dia bukan jodohku?” batin Aya.

Mungkin karena lama tidak ada balasan, Azam mengirimkan sms kembali, “Maaf, Ay, saya nggak bisa. Saya sudah punya calon istri.”

Deg. Sebuah jawaban yang mengejutkan, membuat Aya merasa seperti diombang-ambingkan. Padahal, tadinya Aya berharap Azam akan balik meneleponnya begitu sms-nya lama takberbalas. Tapi, justru jawaban menyakitkan itu yang harus diterima Aya.

Tiga hari kemudian, setelah Aya mengisi pulsa kembali, dia menelepon Azam. Obrolan terasa kaku, tidak seperti biasanya. Aya meminta maaf kepada Azam kalau kemarin tidak bisa membalas sms terakhirnya karena pulsanya benar-benar habis. Tapi, mungkin Azam tidak percaya. Azam sepertinya marah banget. Aya pun menanyakan kebenaran pernyataan Azam yang mengatakan kalau dia sudah punya calon istri. Azam mengiyakan, tapi Aya sebenarnya tidak langsung percaya. Yah, bukan sekali ini Azam bilang kalau dia sudah punya calon istri, bahkan sudah menikah. Tapi, kenyataannya bohong. Tapi, Aya tidak mau mendesak Azam untuk mengakui hal yang sebenarnya. Aya yakin Azam punya alasan melakukan hal itu.

Kalau ditanya siapa yang kecewa, dua-duanya merasa kecewa dan tersakiti. Tapi, keadaan sepertinya sulit diperbaiki. Selain mosi tidak percaya sama-sama merasuki hati mereka, terpisahnya jarak dan waktu sekian lama juga semakin memperuncing masalah mereka. Sehingga masalah kecil/sepele jadi tampak besar.

Untuk sementara Aya hanya bisa pasrah dan mengendapkan masalah barang sejenak. Kalau menelepon lagi pada saat Azam masih emosi, sepertinya akan sulit menemukan titik temu.
***

Sebulan kemudian, saat lebaran tiba, seperti biasa Aya menelepon Azam untuk maaf-maafan. Semua masih tampak baik-baik saja seolah tidak ada masalah di antara mereka berdua. Tapi, beberapa minggu setelah itu, mereka berdua seperti musuhan kembali.

Aya membahas kembali pertanyaan Azam yang pernah dilontarkan kepadanya beberapa minggu lalu tentang siapa calon suami Aya. Jawabannya sungguh mengejutkan, Azam bilang kalau itu pertanyaan biasa, satu pertanyaan yang juga pernah ditanyakan kepada wanita lain. Hm … apa setiap sahabat wanitanya juga ditanya demikian oleh Azam? Batin Aya.

Mungkin saja Azam memang pernah merasa penasaran tentang perasaan Aya yang sebenarnya, tapi ketika dia sudah tahu jawabannya, maka hilang rasa penasarannya tanpa ada maksud lain untuk menjalin hubungan lebih lanjut. Padahal bagi wanita, pertanyaan seperti itu adalah gerbang menuju sebuah komitmen.
“Oh, jadi Mas nanya seperti itu hanya sekadar iseng?” tanya Aya sedikit kesal.
“Berarti menurut Mas, perempuan seperti saya pantas untuk diiisengin, ya Mas?” sambung Aya sambil menahan sakit hatinya.
“Ah, sudahlah, kalau gini caranya mending kita nggak usah sahabatan lagi. Percuma!” Azam tampak sangat marah. Mungkin karena dia sudah merasa terdesak.
Aya pun kesal, Seharusnya yang marah, kan saya. Kok, malah dia yang marah. Batin Aya sambil menutup telepon.

Aya sadar, tidak baik meneruskan pembicaraan pada saat lawan bicaranya dalam keadaan emosi. Aya kesal dengan sikap Azam yang seperti tidak memiliki ketegasan, Azam pun kesal dengan Aya yang mungkin tampak seperti cuek dan egois.
***
“Sepuluh tahun bukan waktu yang sebentar untuk penantian sebuah cinta, ternyata harus berakhir dengan sad ending. Tapi, saya tetap bahagia, setidaknya dalam hidup saya pernah mengenal sosok sebaik Mas Azam.” Tulis Aya dalam sms untuk Azam.

Azam membalas dengan ungkapan yang agak kasar hingga membuat Aya sakit hati. Tapi, Aya mencoba untuk bersabar menyikapi semua itu. Dulu, waktu mereka masih sama-sama kuliah, Aya menemukan sosok yang sabar penuh pengertian pada diri Azam. Kadang membuat Aya berpikir, “Kok, ada ya, orang yang sesabar dan sebaik Azam. Hatinya terbuat dari apa, sih dia?” Aya nyaris tidak pernah melihat Azam marah, walau diperlakukan seperti apa pun. Dia hanya punya dua ekspresi, diam dan tersenyum. Kalau ada sikap atau perilaku yang membuatnya merasa tidak berkenan, dia hanya diam. Tapi, lebih sering tersenyum. Aya sampai merasa penasaran ingin melihat marahnya Azam hingga pernah mencoba membuat Azam marah dengan beberapa cara, tapi tidak pernah berhasil. Sekarang, saat Aya tidak ingin melihat kemarahan Azam, justru Azam marah karena dirinya. Oh….

Kalau dulu dia begitu sabar menghadapi saya, mungkin saatnya saya sekarang yang herus bersabar menghadapi dia. Batin Aya.

Sebenarya tidak masalah kalau memang Azam tidak mencintai Aya. Aya sadar, cinta memang tidak bisa dipaksakan. Aya hanya tidak ingin persahabatannya dengan Azam harus berakhir dengan saling membenci. Aya pernah menanyakan perihal Azam kepada Bram, sahabat dekatnya via telepon.

“Mas Bram, sebagai sesama cowok sekaligus sahabat dekatnya, sebenarnya gimana, sih, perasaan Azam sama saya?” tanya Aya.
“Setahu saya sih, dia suka sama kamu, Ay.”
“Apa buktinya?”
“Setiap saya ngobrol sama dia lewat telepon, dia yang selalu memulai pembicaraan tentang kamu, Ay. Kalo dia nggak suka, ngapain juga dia nanya-nanya kabar kamu,” papar Bram.
“Tapi, kenapa sikapnya ke saya, kok sangat tidak bersahabat?”
“Nggak tahu juga, sih. Dulu waktu di kampus, dia juga pernah naksir cewek, tapi malah menghindar. ”
“Sikap yang aneh,” batin Aya.

Beberapa bulan mereka saling mendiamkan dan tidak saling kontak. Suatu hari, iseng-iseng Aya mengetikkan nama Azam di Pencarian Teman Facebook-nya. Ternyata ada nama Azam, langsung Aya nge-add nama Azam. Sedikit pesimis, apakah Azam mau mengonfirmasinya atau tidak, mengingat hubungan persahabatan mereka yang sedang dalam kondisi kritis. Sehari kemudian, ternyata Azam mengonfirmasi pertemanannya di facebook. Sebuah langkah baru kembali membentang.

Aya langsung tertawa begitu melihat wall facebook Azam, di situ tertulis kalau Azam baru mengubah statusnya dari “lajang” menjadi “rumit”. Aya sering komen di postingan Azam, tapi Azam sangat jarang komen di postingan Aya. Ternyata, posisi Aya dari dulu masih selalu lebih dominan. Aya pun tahu diri, lama-lama dia mulai mengurangi komennya di wall Azam. Bahkan nyaris tidak berkunjung lagi di wall Azam selama beberapa bulan. Selain karena disibukkan dengan kerjaan kantor, facebook di kantor Aya pun tidak bisa bebas diakses kecuali saat istirahat siang selama satu jam. Sebenarnya bisa saja mereka chattingan via Yahoo Messenger, tapi Azam sangat jarang mengaktifkan YM-nya. Akhirnya, komunikasi mereka pun tetap terhambat.

Sebenarnya bukan soal facebook atau chatting, toh itu hanya sarana. Intinya karena hati mereka sepertinya sudah tidak saling peduli. Sampai kemudian, tiba-tiba Azam mengontak Aya via chatting di YM. Dia curhat tentang cewek yang sedang ditaksirnya tapi sulit diajak nikah.

“Dia kan masih semester tiga, wajar kalau dia belum berfikir soal pernikahan. Tunggu aja lima tahun lagi sesuai ramalan di facebook. Hehehe …” Balas Aya sedikit bercanda.
“Iya, tuh, ramalan ngarang aja.” Balas Azam lagi.

Azam memang pernah mengikuti kuis tentang jodoh di facebook, jawabannya, jodohnya masih jauh, sekitar lima tahun lagi.

Meski agak sedikit kecewa, tapi Aya mencoba untuk bersikap netral. Dia menyikapi curhatan Azam seperti menerima curhatan sahabat-sahabatnya yang lain. Dia mencoba membangun imej dalam pikirannya bahwa Azam bukanlah pria yang pernah dicintainya. Sepertinya Azam benar-benar serius ingin membangun mahligai rumah tangga dengan wanita itu, hanya saja terkendala dengan ketidakjelasan dari wanita itu.

“Azam, di hati ini masih ada cinta untukmu, tapi kalau kebahagiaanmu ada pada wanita lain, maka aku pun hanya bisa turut mendoakan kebahagiaanmu, aku hanya bisa menatap kebahagiaanmu dari jauh. Hanya seuntai doa, siapa pun wanita yang akan mendampingimu kelak, semoga dia bisa membuatmu bahagia,” tulis Aya sambil menutup buku hariannya seperti menutup masa lalunya bersama Azam.

Aya sadar, mengejar cinta manusia hanya akan membuatnya “capek”. Hanya cinta Allahlah yang akan membuat hidup kita bahagia dan penuh makna. “Ya Allah … penuhi hati ini dengan cinta kepada-Mu. Bahagiakan hati ini dengan cinta-Mu.”

TAMAT!