Selamat Datang Bagi Para Pecinta, yang Bersedia Menumbuh-Suburkan Cinta Demi Kedamaian di Dunia Ini!
Tampilkan postingan dengan label News. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label News. Tampilkan semua postingan

Selasa, November 30, 2010

Asap Rokok Kandung 4.000 Zat Kimia Berbahaya



Aku  paling sebel sama yang namanya asap rokok. Apalagi kalo lagi di angkutan umum ada orang yang seenaknya merokok tanpa peduli apakah orang di sekitarnya terganggu dengan asap rokok yang mereka keluarkan atau tidak. Udah gitu kalau ditegur sering malah marah, seolah itu kendaraan pribadi mereka sendiri sehingga mereka bebas melakukan apa saja, termasuk merokok sembarangan.

Pas baca artikel ini semoga membuka kesadaran para perokok untuk tidak menyebarkan racun rokok ke orang-orang di sekitarnya. Kita berhak untuk mendapatkan suasana bersih dan sehat di sekitar kita, jangan kotori dnegan rokok kalian.

Yogyakarta (ANTARA) - Asap rokok mengandung lebih dari 4.000 zat kimia berbahaya seperti karbon monoksida, sianida, uap fosfor, uap senyawa belerang, dan uap hasil pembakaran zat tambahan, kata mantan Ketua Ikatan Dokter Indonesia Kartono Muhammad.

"Bahaya asap rokok 10 kali lebih besar daripada zat `ter` dalam rokok," katanya pada lokakarya Menuju Kawasan Tanpa Rokok 100 Persen di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), di Asri Medical Center (AMC) Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Senin.

Oleh karena itu, menurut dia, asap rokok lebih membahayakan perokok pasif daripada perokok aktif. Dalam asap rokok kadarnya beberapa kali lebih besar dibanding yang diserap oleh perokok aktif.

"Dalam satu batang rokok mengandung sekitar 1,5 persen nikotin. Endapan asap rokok yang berupa hasil pembakaran nikotin mudah melekat di benda-benda dalam ruangan, dan bisa bertahan sampai lebih dari tiga tahun, dan tetap berbahaya," katanya.

Advisor Indonesia Institute Social for Development Sudibyo Markus mengatakan Indonesia merupakan konsumen rokok peringkat tiga terbesar di dunia setelah China dan India.

Menurut dia, sekitar 240 miliar batang rokok telah dihisap oleh 240 juta penduduk Indonesia. Tingginya jumlah perokok tersebut disebabkan masih rendahnya kesadaran mengenai bahaya nikotin dalam rokok.
Selain itu, juga masih adanya anggapan di kalangan masyarakat bahwa rokok adalah warisan budaya. Anggapan tersebut membuat sebagian besar masyarakat enggan untuk meninggalkan kebiasaan merokok.

"Kondisi itu ditambah dengan iklan-iklan di media yang menganggap bahwa merokok adalah gaul, modern, dan jantan," katanya.

Rektor UMY Dasron Hamid mengatakan aturan mengenai larangan merokok penting diterapkan di ruang-ruang publik, karena asap rokok berbahaya bagi kesehatan manusia.

"Aturan tersebut diharapkan dapat diimplementasikan di ruang-ruang publik terutama sekolah, kampus, dan kantor. Dengan adanya aturan itu diharapkan nanti seluruh ruang publik bisa benar-benar 100 persen bebas rokok," katanya.

Minggu, November 28, 2010

Video Erupsi Merapi




Tidak sabar rasanya ingin segera berbagi dengan pembaca blogku tentang hasil jalan-jalan di Merapi.

Alhamdulillah saya bisa kembali dengan selamat dan tiba di Bandung setelah dua hari tinggal dengan para pengungsi penduduk Merapi. Kebetulan saya punya seorang sahabat yang tinggal di Ngampel-Sengi, Kecamatan Ndukun, Kabupaten Magelang, sekitar 8 km dari Merapi. Bersilaturahmi sekaligus jalan-jalan mengelilingi Merapi membawa banyak hikmah. Salah satu oleh-olehnya saya upload hasil yang ada sebagai oleh-oleh utama, yaitu video erupsi Merapi yang terjadi hari Rabu, 3 November 2010. Gambar ini diambil oleh sahabat saya, Winarno, penduduk asli Merapi yang lahir dan besar di sana sehingga sangat mengenal Merapi secara mendalam.

Boleh dibilang hari Rabu itulah awal mula Merapi bergejolak. Saat gambar tersebut diambil sekitar pukul 10 atau 11 siang. Warga Ngampel-Sengi masih sedikit santai (meski tetap terselip rasa khawatir) karena awan panas Merapi bergerak ke arah Selatan kampung mereka. Sore harinya, sekitar pukul empat sore, Merapi semakin bergejolak mengeluarkan awan panas "wedus gembel" sehingga membuat penduduk panik dan mulai turun gunung menuju tempat yang dirasa aman. Penduduk Desa Ngampel yang berada 8 km dari Merapi turun ke desa yang berkisar 13 km dari Merapi. Dua hari berikutnya menjadi masa yang sangat menegangkan sekaligus menakutkan, puncaknya malam Jumat tanggal 5 November 2010 pukul 24.00 wib. Gemuruh Merapi sangat jelas terdengar seperti gemuruhnya suara kereta. Gemuruh ini dirasa lebih besar dan terasa lebih mencekam dibanding amuk Merapi sebelum-sebelumnya, bahkan hingga beberapa tahun ke belakang saat Merapi pernah mengamuk dan mengeluarkan aksinya.

Penduduk Ngampel-Sengi bahkan harus turun lagi ke tempat lebih aman karena status aman Merapi terus meluas dari 10 km bertambah menjadi 15 km, bahkan lebih luas lagi hingga 20 km dari Merapi. Sampai akhirnya mereka mengungsi di radius 25 km dari Merapi yang dianggap sebagai status aman. Hal ini tentu bukan perkara mudah. "Amuk Merapi" ini hampir selalu terjadi pada malam hari hingga mereka pun pernah turun gunung pada pukul 00.00 untuk menghindari bencana akibat Merapi ini. Kondisi ini terjadi pada malam Jumat tanggal 5 November 2010. VIVAnews.com. bahkan menyebut letusan Gunung Merapi yang terjadi pada 5 November dini hari ini sebagai letusan terhebat. Letusan itu membuat abu vulkanik menyebar hingga ke Bandung. Bahkan, pada pukul 01.10, lava pijar sempat keluar dari Merapi. Lava pijar ini mengarah ke barat menuju Kali Kuning, Kali Gendol dan sebagian ke Kali Woro. Lava juga mengalir ke arah timur.

Korban tewas bencana Gunung Merapi hingga hari Kamis (11/11/2010) mencapai 198 orang. Sedangkan 303.233 warga Merapi menjadi pengungsi. Demikian data yang diberikan Pusat Komunikasi Publik Kementerian Kesehatan (Kemenkes) dalam pesan singkat yang diterima, Kamis (11/11/2010) yang dilansir oleh VIVAnews.com. Korban terbanyak terdapat di kampungnya Mbak Marijan, Dukuh Kinahrejo, Desa Umbulharjo, Kecamatan Cangkringan, Sleman, Yogyakarta. Total korban Merapi yang tewas dengan rincian di Sleman 163 orang, Magelang 17 orang, Boyolali 3 orang, dan Klaten 15 orang.

Semoga bencana ini menjadi pelajaran kehidupan terbaik bagi kita, baik untuk yang mengalaminya maupun tidak. Hidup hanya sementara, tinggal bagaimana kita memperbanyak amal ibadah kita kepada Allah Swt. Wallahu'alam.@

Jembatan Sungai Tlingsing, desa Ngampel-Sengi, Ndukun-Magelang sebelum erupsi Merapi 2010. Tampak indah dan anggun dengan pemandangan hijau di sekelilingnya.


Jembatan Sungai Tlingsing pascaerupsi Merapi 2010. Lahar dingin mengaliri atas jembatan, bahkan dua batu sebesar kerbau dengan seenaknya nongkrong di tengah-tengah jembatan. Pembatas/pagar jembatan di samping kanan-kirinya sampai hilang diterjang lahar dingin Merapi. DAHSYAT!

Jembatan Sungai Tlingsing saat lahar dingin surut. Dalam kondisi normal seharusnya air mengalir di bawah jembatan.



Orang-orang kampung Ngampel-Sengi sedang bergotong-royong menyingkirkan dua batu besar yang menghalangi jalan di jembatan tersebut


Kamis, November 25, 2010

Berita dari Pengungsian Merapi #2


Suasana sepi kampung Ngampel-Sengi, Ndukun-Magelang (radius 8 km Merapi) saat ditinggal mengungsi para penghuninya.

Meski penduduk sekitar Merapi sudah terbiasa dengan suara gemuruhnya Merapi saat sedang beraksi, tetapi gemuruh kali ini terasa sangat berbeda. Winarno yang sudah sejak lahir dan besar di wilayah Merapi (kampungnya berada pada radius 8 km dari Merapi), tetap merasa merinding, ada rasa takut yang tiba-tiba menyengat sekujur tubuhnya begitu gemuruh itu muncul. Begitu pun istrinya yang sejak dinikahinya lebih dari sepuluh tahun lalu sudah diboyong ke sebuah kampung yang cukup asri di tepian Merapi. Namun, keindahan dan keasrian kampung ini bisa sewaktu-waktu bisa menjadi mencekam, bahkan seolah mengancam nyawa setaip penghuninya. Ancaman besar itu datang dari mana lagi kalau bukan dari Merapi.

Saat saya datang bersilaturahmi ke tempat pengungsiannya di kompleks Perumahan Prayudan, sekitar 25 km dari Merapi, istri Winarno sudah kembali ke kampung halamannya di desa Ngampel-Sengi, Ndukun, Magelang. Rupanya masyarakat sekitar Merapi sudah menganggap aman dan yakin Merapi tidak berulah lagi sehingga berani kembali ke rumah masing-masing. Namun, para pengungsi resmi yang dikondisikan oleh pemerintah (baik di barak-barak pengungsian atau tempat-tempat umum lain yang disediakan khusus) belum diizinkan pulang. Status Merapi saat itu masih ditetapkan dalam kondisi “AWAS” oleh pemerintah.

Jalanan kampung masih dipenuhi debu vulkanik Merapi.
Jalanan yang sudah dibersihkan dari debu, Debu-debu vulkanik Merapi disisihkan di penggir-pinggir jalan.
Tanaman rusak akibat erupsi Merapi, lahar dingin sempat menyapu habis lahan ini.

Keesokan harinya, Sabtu, 20 Nopember 2010, pagi hari, saya berkesempatan mengunjungi kampung halaman mereka. Sepanjang jalan menuju kampung Ngampel-Sengi hampir seperti kota mati. Tanaman-tanaman sayuran dataran tinggi sebagai mata pendaharian utama mereka kering terkena sapuan awan panas. Debu-debu Merapi masih menghiasi segala yang terhampar di Bumi mereka. Konon ceritanya kondisi ini sudah lebih baik karena sudah terguyur hujan beberapa hari terakhir. Terbayang bagaimana kondisi awal kampung-kampung tersebut saat pertama tersapu awan panas atau tertutup debu vulkanik yang begitu tebal. 

Saat gemuruh pertama datang terasa mencekam hari Rabu, 3 Nopember 2010. Beberapa penduduk ada yang turun ke km 13 dari Merapi, mencari tempat yang dirasa aman. Hampir semua penduduk kampung turun ke bawah tanpa komando dengan tujuan berbeda-beda. Ada yang ikut tidur di malam hari di barak pengungsian, di sekolahan, di masjid, di kantor kecamatan, dan lain-lain. Saat pagi menjelang mereka kembali ke rumah masing-masing. Malam Kamis masih seperti itu hingga malam Jumat tanggal 5 Nopember 2010 menjadi malam yang benar-benar mencekam. Gemuruh Merapi terasa sangat dahsyat. Kondisi ini menuntut para pengungsi mencari titik paling aman yang ditetapkan pemerintah, yaitu 20 km dari Merapi. Winarno beserta keluarganya pun mengungsi secara resmi (bukan sekadar ikut tidur) di kompleks perumahan yang dihuni Buliknya, yaitu Perum Prayudan. Dengan mengendari dua motor, satu motor diisi oleh tiga orang. Suami-istri yang memiliki seorang putri ini membawa serta kedua orang tuanya dan tetangganya. Mereka harus melintasi jalanan yang lumayan licin akibat sisa-sisa debu Merapi dalam gelapnya malam. Apalagi lampu listrik sengaja dimatikan oleh PLN. Pada saat yang sama orang lain pun sibuk mengungsi.

Terbayang bagaimana paniknya penduduk sekitar Merapi pada hari-hari itu. Tidur malam tidak pernah lelap karena takut ancaman Merapi dengan keluarnya lahar dingin, siang hari terkadang muncul ancaman wedus gembel. Antara satu tetangga dengan tetangga lain tidak saling tahu mengungsi di mana, semua sibuk menyelamatkan diri masing-masing. Sampai kemudian mereka sepakat untuk mengungsi di tempat yang sama, Perum Prayudan. Alhamdulillah, di tempat ini segala fasilitasnya jauh lebih memadai dibandingkan bila mengungsi di barak atau di tempat-tempat umum yang disediakan oleh pemerintah. Hanya saja, risikonya mereka harus mencari dana secara swadaya. Karena itulah pihak tuan rumah kemudian membentuk kepanitiaan untuk mengurus sekitar 400-an orang pengungsi di kompleks mereka. Panitia ini kemudian menjalin kerja sama dengan berbagai LSM yang khusus menangani korban Merapi atau mencari para dinatur dari kenalan-kenalan mereka, termasuk bantuan dana, sarana dan prasarana dari penghuni kompleks tersebut. Mereka juga tetap mengajukan bantuan logistic untuk para pengungsi kepada pemerintah setempat karena bagaimana pun hal ini sebenarnya tanggung jawab pemerintah. Meski jumlah bantuan dari pemerintah jauh dari memadai, tetapi tetap mereka syukuri. Toh mereka tidak hanya menerima bantuan dari satu sumber.

Secara pribadi saya merasa salut dengan kesigapan dan kerjasama yang baik para penghuni kompleks yang begitu peduli dengan para pengungsi korban erupsi Merapi. Mereka bukan hanya rela menyumbangkan harta mereka jutaan rupiah untuk para pengungsi yang jumlahnya tidak sedikit, tetapi juga rela meminjamkan rumah mereka meski dengan risiko pintu rusak, meja makan yang terbuat dari kaca menjadi pecah. Namun, mereka tidak merasa kapok membantu para pengungsi ini. Apalagi mereka yang didaulat menjadi panitia untuk mengurusi para pengungsi ini, seolah tidak bisa tidur nyenyak sebelum para pengungsi dipastikan semua sehat, mendapat jatah makan layak, menerima bantuan sesuai kebutuhan mereka.
Suasana di pengungsian di kompleks Bumi Prayudan, Magelang.
Para korban Merapi saat menerima bantuan dari LSM.


Subhanallah. Bila banyak warga yang begitu peduli dengan sesamanya saat kesusahan seperti ini, mungkin musibah sebesar apa pun akan lebih terasa ringan. Memang, tidak semua pengungsi merasakan kenikmatan seperti mereka. Namun, kisah yang segelintir ini semoga menginspirasi banyak orang untuk berbuat lebih banyak dan lebih baik dari mereka untuk sesamanya. Mereka bergerak dan berbuat tanpa menunggu instruksi dari pihak lain, apalagi pemerintah. Semua digerakkan oleh rasa kemanusiaan yang dalam atas dasar keimanan kepada Allah Swt.  @

Rabu, November 24, 2010

Berita dari Pengungsian Merapi #1

 
Ketika mendengar berita Merapi bergolak kembali saya langsung teringat dengan sahabat lama saya sesama kru Tabloid MQ, hanya saja dia koresponden untuk wilayah Jogjakarta dan sekitarnya. Sebenarnya saya jarang bertemu dia, kalau dihitung mungkin hanya dua kali, saat dia berkunjung ke Bandung, ke kantor Tabloid MQ dan saat saya dan beberapa rekan kru Tabloid MQ meliput kondisi pascagempa Jogja tahun 2006 lalu.

Meski jarang bertemu, bukan berarti tidak harus peduli dengan penderitaan dia dan orang-orang di kampungnya saat Merapi kembali beraksi. Winarno, sahabat saya ini lahir dan besar di Magelang hingga menikah dan punya anak. Wajar jika dia sudah sangat akrab dan mengenal betul dengan Merapi dan segala tingkahnya.

“Biasanya saat Merapi beraksi orang-orang sibuk turun ke bawah mencri tempat aman, tapi saya malah asyik mengambil gambar Merapi beraksi,” kata Winarno yang hobi fotografi dan Merapi sering menjadi objek favoritnya.

“Tapi aksi Merapi kali ini membuat saya takut dan trauma bukan main. Mendengar dero motor saja sudah membuat jantungku bedebar keras seolah mendengar gemuruh Merapi saat beraksi,” lanjut Winarno yang selama ini dikenal tegar dan kuat menghadapi segala “kenakalan” Merapi.

Yah, aksi Merapi 2010 ini memang terasa berbeda, bukan hanya dirasakan oleh Winarno yang usianya baru sekitar 35 tahunan. Seorang bapak yang tinggal di sebuah desa Stabelan, radius 5 km dari Merapi pun mengungkapkan hal yang sama. “Merapi sekarang beda dari tahun-tahun kemarin. Biasanya seminggu beraksi sudah reda. Sekarang, sudah lebih dari dua minggu masih belum ada kepastian kapan akan berhenti,” ungkap seorang bapak yang saya temui di dekat lahannya saat kembali dari mengungsi.

Usia bapak ini sekitar 65 tahunan. Dia asli kampung ini, lahir dan besar di dekat Merapi. Seperti halnya Winarno, dia pun sudah mengenal Merapi. Ternyata dia pun mengalami ketakutan dan debaran yang sama dengan penduduk kampungnya, apalagi kampungnya lebih dekat dibanding kampungnya Winarno. Sudah lebih dari dua minggu dia mengungsi beserta orang-orang di kampungnya ke tempat yang lebih aman. Setelah peristiwa meninggalnya Mbah Marijan pada 26 Oktober 2010, banyak masyarakat kampung sekitar Merapi yang mengungsi karena status "Awas" Merapi yang belum juga turun.

Baru sekitar dua hari sebelumnya (18-19 Nopember 2010)  dia bisa naik lagi menengok rumah dan lahannya. Biasanya dia naik ke kampungnya mulai pagi hari untuk mengurus ternak dan melihat-lihat sawahnya atau membersihkan rumah. Mulai siang hari sekitar pukul 14.00 atau menjelang asar dia kembali ke barak pengungsian. Tidak semua orang kampungnya pulang kembali ke kampung saat pagi hingga siang hari, hanya beberapa orang saja. Suasana kampung yang berbatasan dengan Boyolali ini pun sepi, hampir seperti kota mati. Apalagi debu vulkanik sisa-sisa hujan debu Merapi masih melekat di setiap bagian kampung, dari mulai jalanan aspal, halaman rumah, atap rumah, dan sebagainya. Mungkin karena hujan sudah banyak mengguyur kampung ini, debu-debu di jalanan aspal sudah tidak begitu tebal, tetapi masih tampak sisa-sisanya sehingga membuat jalanan licin. Suasana seperti ini juga didaptkan di Desa Trinjing yang berjarak 4 km dari Merapi.

Desa Trinjing, kampung tertinggi di ujung Merapi, sekitar 4 km dari Merapi. Di desa ini pula pos pemantauan didirikan. Namun, saat penulis berkunjung ke sana petugas pos pemantau Merapi sudah tidak berada di tempat karena daerah ini sebenarnya sudah disterilkan dan tidak boleh dikunjungi bahkan oleh penduduk desa ini sekalipun. Mereka sudah mengungsi, tetapi sesekali masih berkunjung ke desanya.

Bila berjalan lebih tinggi ke radius 4 km dari Merapi di atas kampung Belang Selo-Boyolali yang berbatasan dengan Magelang tersebut, jalanan aspal masih digenangi debu Merapi yang tebalnya sekitar 5 cm. Saya yang dibonceng sahabat saya dengan mengendarai motor pun sempat jatuh karena oleng akibat jalanan yang licin oleh debu Merapi. Sepanjang jalanan di kampung ini benar-benar masih dipenuhi debu, bahkan pada radius 2 km dari Merapi suasana hampir seperti kota salju yang seluruhnya putih, hanya saja putihnya bukan karena salju, tetapi karena debu yang begitu tebal.

Bila ingin aman, masker harus selalu kita kenakan, kaca mata pelindung dan helm pun harus dipakai. Tentu saja pakain harus serba tertutup memakai baju lengan panjang dan celana panjang. Bila perlu memakai kaus tangan dan sepatu bot. Saya yang waktu itu tidak mengenakan kaus tangan dan sepatu bot harus menikmati setiap debu yang menempel di tangan dan kaki hingga membuat kulit terasa begitu kering. Meski sudah dicuci dengan air (yang juga sedikit berbau debu Merapi) tetap terasa kering kecuali setelah memakai hand-body lotion. Bagi masyarakat sekitar mungkin sudah terbiasa sehingga tidak berpengaruh, tetapi bagi saya yang baru menginjakkan kaki di lereng Merapi ini, debu ini sungguh mengganggu. Meski saya memakai kaus kaki dan sepatu pendek, tetap saja debu masuk kaki saya. Sepatu saya yang berwarna hitam pun berubah menjadi putih tertutup abu.
Di perkampungan dengan radius 2 km dari Merapi debu yang melekat bisa setebal ini. Di jalanan aspal saja tebalnya bisa mencapai 5 cm, apalagi di atap rumah.

Bukan hanya debu yang mengganggu, bau belerang pun mulai terasa pada radius 4 km dari Merapi, baunya semakin menyengat pada radius 2 km Merapi, di Kampung Belang-Tlogolele, Boyolali (perbatasan Magelang).

Bantuan untuk Para Pengungsi

Bencana seperti apa pun bentuknya tidak ada yang mengenakkan, begitupun bencana amuknya Merapi ini. Selain banyaknya korban meninggal, juga banyak yang terbakar terkena hembusan awan panas “wedus gembel”. Bila yang terbakar sekujur tubuh tentu pemulihannya butuh waktu  lama. Meski biaya pengobatan ditanggung pemerintah, tetapi menanggung derita terbakar seperti itu tentu bukan main penderitaannnya. Siapa pun pasti tidak ingin mengalaminya. Tentang bagaimana ganasnya akibat “pembakaran” Merapi ini di tubuh manusia bisa membaca kisah Maryoto.

Menangani ratusan ribu pengungsi akibat erupsi Merapi saja bukan hal yang mudah. Mulai dari mencarikan tempat yang aman dari radius 15 – 20 km dari Merapi, membuat tempat tinggal sementara (barak) atau menampung di tempat luas yang bisa menampung banyak orang juga bukan hal yang mudah. Bila mereka mengungsi di tempat-tempat umum, seperti GOR, sekolahan, barak-barak, pasti butuh tempat MCK (Mandi, Cuci, Kakus) yang banyak. Ini berarti butuh banyak sarana air bersih. Selain untuk bersih-bersih, mereka juga butuh air untuk minum dan makanan siap saji. Sebenarnya bisa saja diberikan mekanan mentah, mereka toh bisa masak sendiri, tetapi tentu harus ada sarana untuk memasaknya.

Para penduduk Ngampel-Sengi, Kecamatan Ndukun, Kabupaten Magelang, sekitar 8 km dari Merapi berjalan menjauhi Merapi untuk menghindari amuknya.

Mereka berjalan kaki dari malam dini hari (Kamis, 4 Nopember 2010 pk. 00.00) menuju km 25 dari Merapi. Tidak ada kendaraan yang mengangkut mereka. Hingga pagi sekitar pk. 08.00 mereka belum sampai di lokasi tujuan.

Pengalaman Winarno yang waktu itu mengungsi dengan penduduk kampungnya bahkan sampai harus berpindah tempat hingga empat kali, dari 8 km Merapi (kampungnya) pindah ke 13 km desa di bawahnya, lalu ke 15 km, 20 km, sampai akhirnya pindah ke 25 km dari Merapi. Dia dan penduduk kampungnya pernah tinggal di barak pengungsian yang bocor ketika hari hujan, hawa dingin menyusup dari celah-celah tenda barak begitu terasa, apalagi bila malam menjelang. Sedangkan mereka tinggal di barak atau pengungsian lebih sering pada malam hari. Mulai pagi hingga siang hari biasanya mereka kembali ke kampungnya. Ada yang ikut tinggal di rumah saudaranya yang aman dari batas “AWAS” Merapi. Memang tinggal di rumah orang lain (bukan di posko pengungsian resmi yang disediakan pemerintah) relatif nyaman dari segi fasilitas, seperti air bersih, tempat tinggal, dan sebagainya. Akan tetapi, risikonya mereka tidak mendapat bantuan dari pemerintah untuk biaya makan dan lain-lainnya. Begitu pun ketika ada dana swadaya masyarakat yang memberikan bantuan tentu tidak akan sampai ke tangan mereka kerena tidak semua masyarakat tahu dia pengungsi Merapi.

Hal ini pun pernah dialami Winarno dan orang-orang sekampungnya. Winarno dan keluarganya (orang tua, anak, dan istrinya) pada awalnya hanya ikut di rumah saudaranya (Bu liknya) yang berjarak 25 km dari Merapi. Namun, warga desanya yang lain ternyata ingin ikut ke tempat Winarno mengungsi yang berada di perumahan yang tergolong elit di Megelang (Perum Prayudan). Akhirnya Winarno meminta izin kepada warga kompleks Bu liknya untuk mengizinkan mereka tinggal di masjid kompleks mereka. Malah ada yang berbaik hati meminjamkan rumah mereka yang masih kosong. Akhirnya sekitar 300 warga pengungsi tinggal di kompleks perumahan tersebut tinggal dalam beberapa rumah. Satu rumah ada yang dihuni 30 – 40 orang. Buliknya beserta beberapa warga kompleks pun membuat kepanitiaan untuk mengurusi sekitar 300-warga. Mereka harus mencari nasi rames untuk makan malam sekitar 300-an warga tersebut. Ketua panitia membagi-bagi tugas membuat rames itu kepada beberapa rumah di kompleks tersebut. Ternyata pada malam harinya bertambah lagi sekitar seratus pengungsi dari kampung Ndukun (tempat tinggal Winarno). Penitia pun sempat sedikit kalang kabut untuk mencari seratus nasi bungkus tambahan dalam waktu singkat. Namun, subhanallah, ketika nasi yang terkumpul dibagikan ke semua warga pengungsi, ternyata bisa cukup, bahkan lebih beberapa bungkus. Ternyata, ada orang yang mengaku dari kota mengirimkan rames seratus bungkus, pas sesuai kekurangan yang mereka butuhkan. Ketika orang yang menerima nasi itu dikorfirmasi siapa yang memberikan nasi tersebut, dia mengaku tidak mengenalnya, “Dia cuma bilang dari kota”. Subhanallah. Pertolongan Allah benar-benar tidak disangka-sangka datang dari sisi mana pun.
Masyarakat kampung Ngampel-Sengi, Kecamatan Ndukun,  Kabupaten Magelang setelah sampai tujuan, mendapat tempat tinggal layak dan bantuan logistik. Namun, semua ini swadaya masyarakat.

Tempat tinggal enak, setidaknya lebih enak dibandingkan para pengungsi yang tinggal di barak-barak atau di GOR dan tempat-tempat umum lain. Akan tetapi, panitia harus ekstra keras mencari bantuan ke sana-kemari untuk memenuhi kebutuhan sekitar 400-an warga pengungsi, terutama kebutuhan logistik. Winarno, herus berperan ganda, sebagai pengungsi sekaligus relawan yang mencari bantuan untuk semua warga yang mengungsi bersamanya. Dia sudah melaporkan ke pemerintah jumlah pengungsi dan kebutuhannya. Akhirnya mengucur dana bantuan dari pemerintah Rp 4.500.-/orang pengungsi setiap hari. Tentu saja dana ini tidak cukup. Panitia terus mencari dana swadaya, selain dari warga kompleks, juga dari kenalan-kenalan Winarno atau penitia lain di beberapa kota lain.

Tinggal di perumahan elit ternyata bukan berarti hidup tanpa masalah. Bagi masyarakat kampung yang tidak terbiasa dengan peralatan mahal ternyata menimbulkan masalah dan cerita lucu tersendiri. Ada rumah yang kamar mandinya “tidak biasa” dalam pandangan mereka. Ketika seseorang masuk kamar mandi, pintu langsung terkunci. Karena terburu-buru seseorang masuk tanpa tahu bagaimana membuka pintu tersebut. Ketika selesai menunaikan hajatnya di kamar mandi dan hendak membuka pintu , dia bingung bagaimana membuka pintu tersebut. Sementara pintu tersebut hanya bisa dibuka dari dalam. Karena tidak ada cara lain, pemilik rumah pun menginstruksikan untuk membobol pintu itu.

Ada lagi peristiwa di dapur yang membuat “kelucuan” dan sedikit  kekacauan. Meja dapur rumah itu terbuat dari kaca. Ketika salah seorang pengungsi di tempat tersebut selesai memasak, seperti kebiasaan dia di rumah, langsung menaruh panci di meja. Dalam kondisi panas, panci pun ditaruh di atas meja kaca tersebut. Bisa ditebak apa yang terjadi. BRAK! Kaca pun pecah. Padahal, pasti meja kaca itu tidak murah harganya. Panitia di kompleks itu pun harus mengganti kaca meja tersebut. Lucu dan menggelikan. Begitulah hidup dengan banyak orang dan aneka kebiasaan yang berbeda-beda.

Sebuah Ironi

Ada yang peduli, ada juga yang memanfaatkan keadaan. Bukan berita baru bila para pengungsi ini ada yang kehilangan hewan ternaknya saat mereka mengungsi. Kalau hewan ternak mati pasti ada bangkainya. Ini, sama sekali nggak ada tanda-tanda matinya binatang tersebut.

“Kok tega ya, mengambil barang milik pengungsi?!” Padahal, mereka sudah sangat menderita dengan musibah Merapi yang menimpa mereka. Seharusnya bencana ini memberikan pelajaran bahwa hidup di dunia hanya sementara sehingga amal kebajikanlah yang harus selalu kita tanam sepanjang hari. Harta benda sebanyak apa pun tidak ada yang kita bawa. Eh…lha kok malah “nyolong” alias mencuri. Entah siapa yang mencuri, apakah warga kampung itu sendiri atau dari luar. Ada yang bilang, mereka mengaku “relawan” yang ingin mengamankan hewan ternak warga. Lha kok dibawa kabur. Na’udzubillahi min dzalik.

Ada juga tingkah warga yang serakah. Memang mereka berhak dengan bantuan dari berbagai pihak, dari pakaian baru hingga pakaian bekas layak pakai, sembako, dan sebagainya. Ada saja pengungsi yang serakah ingin menguasai sendiri. Datang ke posko mengatasnamakan beberapa orang di kelompok ngungsinya untuk meminta bantuan, dari mulai sembako maupun baju layak pakai. Beberapa kali meminta selalu dikasih oleh petugas posko. Saat salah seorang anggota kelompoknya yang lain mengajukan bantuan yang sama (ini benar-benar butuh), petugas di posko mengecek catatan dan ternyata bantuan untuk kelompok tersebut sudah tersalurkan. Otomatis tidak bisa mengambil jatah yang sudah diberikan. Usut punya usut, orang pertama yang meminta bantuan ke posko tidak menyampaikan (membagikannya) kepada anggotanya yang lain, tetapi malah dibawa pulang ke rumah pribadinya. Padahal, saat saya lihat rumahnya, lumayan bagus. Lebih bagus dari rumah-rumah tetangganya. Boleh dibilang dia termasuk keluarga berpunya di lingkungannya.

Saat orang lain sibuk mengumpulkan harta pribadinya untuk membantu para korban Merapi, ternyata ada segelintir orang (bahkan korbannya) yang malah mengumpulkan hasil bantuan tersebut untuk kepentingan pribadinya. Inilah ironisme yang memprihatinkan. Ternyata kaya dan miskin bukan soal uang, tetapi soal “paradigm berfikir”. Seorang anak SD kelas 1 dari keluarga berekonomi lemah bisa jadi lebih kaya dibanding “Bapak pengungsi” tadi. Nun jauh dari Merapi, seperti yang saya lihat pada tayangan TV swasta, ada seorang anak SD berekonomi lemah yang memiliki keinginan kuat untuk membantu para korban Merapi. Subhanallah.

Di sudut salah satu sungai yang biasa dialiri lahar dingin Merapi sudah mulai dilakukan penambangan pasir oleh orang luar Merapi saat para penduduk asli Merapi sibuk mengungsi dan menyelamatkan jiwa mereka. Seharusnya ini menjadi hak para masyarakat sekitar Merapi. Setidaknya bisa menjadi mata pencaharian mereka selama lahan pertanian mereka belum pulih dan bisa ditanami kembali. Padahal, mata pencaharian mereka selama ini kebanyakan dari bertani dan beternak. Bila lahan hancur akibat Merapi, tentu butuh waktu lama untuk memulihkannya kembali. Minimal sekitar enam bulan ke depan. Namun, bila mata pencaharian alternatif pun “dilahap” pihak luar Merapi, bagaimana dengan nasib mereka? Inilah yang menjadi pemikiran sahabat saya Winarno melihat nasib orang-orang kampungnya pascaerupsi Merapi.

Kondisi sungai yang dialiri lahar dingin Merapi.
Kerusakan tanaman akibat erupsi Merapi. Seharusnya sudah siap panen, tapi gagal panen karena tersirami debu vulkanik yang begitu tebal. Ada juga beberapa tanaman yang benar-benar kering akibat tersapu awan panas "wedus gembel". 
Kita hanya bisa berharap semoga Merapi bisa kembali bersahabat dengan warga di sekitarnya dan kehidupan mereka pulih seperti sedia kala. Amiiin.@

Penulis (Indah) saat meliput dan napak tilas kegiatan Merapi di Bendungan/Dam Senowo.

Winarno, penduduk asli Merapi saat menemani penulis berkeliling Merapi.

Rabu, Januari 13, 2010

Severn Cullis-Suzuki, Pengguncang KTT Bumi dengan Pidatonya



Severn mungkin bukanlah siapa-siapa, kalau dia tidak pernah memberanikan diri berpidato di depan para utusan dari berbagai negara di dunia pada usia 12 tahun. Saat itu dia diundang untuk menghadiri Konferensi Lingkungan Hidup PBB (World Summit) tahun 1992. Pidatonya yang disampaikan secara tegas dan lugas telah memukau para hadirin dan memberikan pengaruh besar. Isi pidatonya yang begitu kuat, bermakna sangat dalam hingga membuat para pemimpin dunia yang hadir saat itu bungkam taksanggup berkata-kata.

Apa yang disampaikan oleh seorang anak kecil berusia 12 tahun hingga membuat RUANG SIDANG PBB hening? Bahkan, setelah pidatonya selesai, ruang sidang yang penuh dengan orang-orang terkemuka berdiri dan memberikan tepuk tangan yang meriah kepada anak berusia 12 tahun itu? Materi pidatonya bisa dibaca di sini.

Siapa Severn Cullis-Suzuki?

Server lahir di Vancouver, Kanada tanggal 30 November 1979. Ibunya seorang penulis bernama Tara Elizabeth Cullis dan ayahnya adalah David Suzuki, seorang aktivis lingkungan hidup. Dari ayahnya inilah pengetahuannya tentang lingkungan terpupuk dengan baik. Dia bahkan telah menjadi aktivis lingkungan sejak usia 9 tahun dengan mendirikan Environmental Children’s Organization (ECO), sebuah organisasi yang didedikasikan untuk belajar dan mengajar anak-anak tentang masalah lingkungan hidup. Dia mendirikan organisasi ini beserta teman-teman sekolahnya di Lord Tennyson Elementary School.

Pada tahun 1992, dia bersama teman-teman ECO mengumpulkan dana untuk bisa menghadiri World Summit di Rio De Jeneiro. Bersama anggota ECO lainnya, Michelle Quigg, Vanessa Suttie, dan Morgan Geisler, Severn Suzuki menyajikan pidato tentang masalah lingkungan hidup dari perspektif anak-anak di depan delegasi negara-negara. Pidato yang disampaikannya selama lima menit membuatnya dijuluki sebagai "Gadis yang Membungkam Dunia Selama 5 Menit".

Tahun 1993, dia mendapatkan penghargaan dari United Nations Environment Programme, yaitu Global 500 Roll of Honour. Prestasi lain, yaitu diterbitkannya buku Servern yang berisi 32 halaman oleh Doubleday berjudul Tell The World. Buku ini berisi panduan lingkungan untuk keluarga. Suzuki berhasil meraih gelar kesarjanaannya di bidang ekologi dan biologi revolusioner di Universitas Yale tahun 2002. Pada tahun yang sama, dia juga menjadi pemandu Acara Suzuki’s Nature Quest, sebuah acara anak-anak yang disiarkan oleh Discovery Channel.

Sampai saat ini, Severn Suzuki masih aktif terlibat dan mengembangkan proyek-proyek lingkungan hidup, seperti The Skyfish Project walaupun dibubarkan tahun 2004 karena kesibukan kuliahnya. Saat itu dia mengambil kursus sarjana di Universitas Victoria untuk studi etnobotani di bawah Nancy Turner.

Dia juga sempat berbicara di forum lingkungan hidup seperti di KTT Dunia Pembangunan Berkelanjutan (World Summit on Sustainable Development) di Johannesburg pada bulan Agustus 2002.

Bila dunia ini lahir lebih banyak lagi para Servern sejati, insya Allah dunia ini akan lebih nyaman kita tinggali, isu pemanasan global pun bisa lebih dikurangi. @

Pidato Severn Suzuki di World Summit 1992




Salah satu prestasi besar Severn Suzuki adalah membawakan pidato atas nama ECO di depan peserta World Summit tahun 1992. Pidato ini berhasil membungkam para delegasi karena anak 12 tahun memiliki pemikiran yang jauh ke masa depan tentang masalah lingkungan hidup. Berikut adalah terjemahan pidato Severn Suzuki di World Summit 1992 (sumber The Collage Foundation).

Halo, nama saya Severn Suzuki, berbicara mewakili E.C.O – Enviromental Children Organization.

Kami adalah kelompok dari Kanada yang terdiri dari anak berusia 12 dan 13 tahun yang mencoba membuat PERBEDAAN: Vanessa Suttie, Morga, Geister, Michelle Quigg, dan saya sendiri. Kami menggalang dana untuk bisa datang kesini sejauh 6000 mil untuk memberitahukan pada Anda sekalian orang dewasa bahwa anda harus mengubah cara Anda,

Hari ini di sini juga. Saya tidak memiliki agenda tersembunyi. Saya menginginkan masa depan bagi diri saya saja.

Kehilangan masa depan tidaklah sama seperti kalah dalam pemilihan umum atau rugi dalam pasar saham. Saya berada di sini untuk berbicara bagi semua generasi yang akan datang.

Saya berada di sini mewakili anak-anak yang kelaparan di seluruh dunia yang tangisannya tidak lagi terdengar.

Saya berada di sini untuk berbicara bagi binatang-binatang yang sekarat yang tidak terhitung jumlahnya di seluruh planet ini karena kehilangan habitat nya. Kami tidak boleh tidak didengar.

Saya merasa takut untuk berada di bawah sinar matahari karena berlubangnya lapisan OZON. Saya merasa takut untuk bernapas karena saya tidak tahu ada bahan kimia apa yang dibawa oleh udara.

Saya sering memancing di Vancouver bersama ayah saya hingga beberapa tahun yang lalu kami menemukan bahwa ikan-ikannya penuh dengan kanker. Sekarang kami mendengar bahwa binatang-binantang dan tumbuhan satu per satu mengalami kepunahan setiap harinya −hilang selamanya.

Dalam hidup, saya memiliki mimpi untuk melihat kumpulan besar binatang-binatang liar, hutan rimba, dan hutan tropis yang penuh dengan burung dan kupu-kupu, tetapi sekarang saya tidak tahu apakah hal itu masih ada untuk dilihat oleh anak saya nantinya.

Apakah Anda sekalian harus khawatir terhadap masalah-masalah kecil ini ketika Anda sekalian masih berusia sama serperti saya sekarang?

Semua ini terjadi di hadapan kita dan walaupun begitu kita masih tetap bersikap bagaikan kita masih memiliki banyak waktu dan semua pemecahannya. Saya hanyalah seorang anak kecil dan saya tidak memiliki semua pemecahannya, tetapi saya ingin Anda sekalian menyadari bahwa Anda juga sama seperti saya!
Anda tidak tahu bagaimana caranya memperbaiki lubang pada lapisan ozon kita.
Anda tidak tahu bagaiman cara mengembalikan ikan-ikan salmon ke sungai asalnya.
Anda tidak tahu bagaimana caranya mengembalikan binatang-binatang yang telah punah.
Anda juga tidak dapat mengembalikan hutan-hutan seperti sediakala di tempatnya yang sekarang hanya berupa padang pasir. Jika Anda tidak tahu bagaima cara memperbaikinya.
TOLONG BERHENTI MERUSAKNYA!

Di sini Anda adalah deligasi negara-negara Anda. Pengusaha, anggota perhimpunan, wartawan atau politisi –tetapi sebenernya Anda adalah ayah dan ibu, saudara laki-laki dan saudara perempuan, paman dan bibi– dan Anda semua adalah anak dari seseorang.

Saya hanyalah seorang anak kecil, namun saya tahu bahwa kita semua adalah bagian dari sebuah keluarga besar yang beranggotakan lebih dari 5 miliar, terdiri dari 30 juta rumpun dan kita semua berbagi udara, air, dan tanah di planet yang sama –perbatasan dan pemerintahan tidak akan mengubah hal tersebut.

Saya hanyalah seorang anak kecil, namun begitu saya tahu bahwa kita semua menghadapi permasalahan yang sama, seharusnya bersatu untuk tujuan yang sama.

Walaupun marah, namun saya tidak buta, walaupun takut, saya tidak ragu untuk memberitahukan dunia apa yang saya rasakan.

Di negara saya, kami sangat banyak melakukan penyia-nyiaan, kami membeli sesuatu dan kemudian membuangnya, beli dan kemudian buang. Walaupun begitu, tetap saja negara-negara di Utara tidak akan berbagi dengan mereka yang memerlukan.

Bahkan, ketika kita memiliki lebih dari cukup, kita merasa takut untuk kehilangan sebagian kekayaan kita, kita takut untuk berbagi.

Di Kanada kami memiliki kehidupan yang nyaman dengan sandang, pangan, dan papan yang berkecukupan –kami memiliki jam tangan, sepeda, computer, dan perlengkapan televisi.

Dua hari yang lalu di Brazil sini, kami terkejut ketika kami menghabiskan waktu dengan anak”-anak yang hidup di jalanan. Salah satu anak tersebut memberitahukan kepada kami, “Aku berharap aku kaya. Jika aku kaya, aku akan memberikan anak-anak jalanan makanan, pakaian, obat-obatan, tempat tinggal, serta cinta dan kasih sayang ” .

Jika seorang anak yang berada di jalanan yang tidak memiliki apa pun bersedia untuk berbagi, mengapa kita yang memiliki segalanya masih begitu serakah?

Saya tidak dapat berhenti memikirkan bahwa anak-anak tersebut berusia sama dengan saya, bahwa tempat kelahiran Anda dapat membuat perbedaan yang begitu besar. Saya bisa saja menjadi salah satu dari anak-anak yang hidup di Favellas di Rio, bisa saja saya menjadi anak yang kelaparan di Somalia, seorang korban perang Timur Tengah atau pengemis di India.

Saya hanyalah seorang anak kecil, namun saya tahu bahwa jika semua uang yang dihabiskan untuk perang dipakai untuk mengurangi tingkat kemisikinan dan menemukan jawaban terhadap permasalahan alam, betapa indah jadinya dunia ini.

Di sekolah, bahkan di taman kanak-kanak, Anda mengajarkan kami untuk berbuat baik. Anda mengajarkan pada kami untuk tidak berkelahi dengan orang lain, mencari jalan keluar, membereskan kekacauan yang kita timbulkan, tidak menyakiti makhluk hidup lain, berbagi, dan tidak tamak.

Lalu, mengapa Anda kemudian melakukan hal yang Anda ajarkan untuk tidak boleh kami lakukan?

Jangan lupa, mengapa Anda menghadiri Konfrensi ini? Mengapa Anda melakukan hal ini? Kami adalah anak-anak Anda semua, Anda sekalianlah yang memutuskan dunia seperti apa yang akan kami tinggali. Orang tua seharusnya dapat memberikan kenyamanan pada anak-anak mereka dengan mengatakan, “Semuanya akan baik-baik saja”. Kami melakukan yang terbaik yang dapat kami lakukan dan ini bukanlah akhir dari segalanya.

Tetapi, saya tidak merasa bahwa Anda dapat mengatakan hal tersebut kepada kami lagi. Apakah kami bahkan ada dalam daftar prioritas Anda semua?

Ayah saya selalu berkata, “Kamu akan selalu dikenang karena perbuatanmu, bukan oleh kata-katamu.”

Jadi, apa yang Anda lakukan membuat saya menangis pada malam hari. Kalian orang dewasa berkata bahwa kalian menyayangi kami.

Saya menantang A N D A , cobalah untuk mewujudkan kata-kata tersebut.
Sekian dan terima kasih atas perhatiannya.

Servern Cullis-Suzuki telah membungkam ruang sidang Konfrensi PBB, membungkam seluruh orang penting dari seluruh dunia hanya dengan pidatonya. Setelah pidatonya selesai, serempak para hadirin di ruang pidato tersebut berdiri dan memberikan tepuk tangan meriah kepada anak berusia 12 tahun ini.

Setelah itu, ketua PBB mengatakan dalam pidatonya:
”Hari ini saya merasa sangatlah malu terhadap diri saya sendiri karena saya baru saja disadarkan betapa pentingnya lingkungan dan isinya di sekitar kita oleh anak yang baru berusia 12 tahun yang maju berdiri di mimbar ini tanpa selembar naskah pun untuk berpidato, sedangkan saya maju membawa berlembar–lembar naskah yang telah dibuat oleh asisten saya kemarin. Saya dan kita semua dikalahkan oleh anak yang berusia 12 tahun.”

Selasa, Januari 12, 2010

Dijual Sel Tahanan Kelas VIP




“Tersedia kamar tahanan ukuran 8 x 8 dengan fasilitas TV layar datar, kulkas, dan ruang ber-AC. Kalau mau fasilitas ruang karaoke khusus yang mewah, juga boleh.”

Sekilas, mungkin kita mengira itu iklan penawaran kamar hotel atau kamar kontrakan. Tetapi, ternyata itu bukan iklan penawaran kamar kontrakan atau kamar hotel. Itu adalah kamar tahanan kelas VIP di negara kita yang notabene dihuni oleh para koruptor kelas kakap. Entah berapa harga per kamarnya, yang pasti fasilitas itu benar-benar tersedia. Enak, dong ya….jadi tahanan seperti mereka. Makanan terjamin, tempat tinggal nyaman, hanya kebebasan saja yang tergadaikan.

Sementara di ruang tahanan lain kelas ekonomi, para tahanan harus berdesakan dalam satu kamar dengan kondisi memprihatinkan. Alasannya cukup klise, “Memang ruang tahanan kita sudah tidak cukup lagi menampung para NAPI yang semakin bertambah jumlahnya tanpa dibarengi penambahan ruangan.” Lagi-lagi dana menjadi kambing hitam. Tetapi, ironisnya, kok bisa ya membuat ruang tahanan mewah yang hanya dihuni oleh segelintir NAPI?

Akhir-akhir ini mencuat kabar mengejutkan kalau terpidana kasus suap dari Ratu Lobi Artalita Suryani (Ayin) menikmati ruang tahanan yang begitu mewah seperti yang saya gambarkan di atas. Masyarakat bertanya-tanya mengapa hal itu bisa terjadi? Kasus seperti ini sebenarnya sudah lama berlangsung di negeri ini, hanya saja selama ini seolah aman takterjamah pemberitaan publik. Kasus-kasus seperti inilah yang semakin menambah coreng-moreng dunia hukum kita. Kasus orang kecil yang hanya mencuri tiga buah kakau dipermasalahkan begitu heboh hingga pelakunya harus ditahan dalam hitungan bulan dengan fasilitas yang sangat kurang memadai. Padahal, kesalahan mereka hanya karena lapar. Tetapi, orang yang yang jelas-jelas mencuri uang negara miliaran malah difasilitasi tempat yang nyaman. Hm….miris.

Belum lagi dengan stigma lain yang muncul di kalangan para tahanan kasus narkoba, bahwa mereka justru semakin bebas mendapatkan barang haram di tempat mereka ditahan. Bukan hanya itu, mereka juga bisa bebas berpesta putaw, ganja, dan narkoba jenis lain di sana. Na’udzubillahi min dzalik. Muncullah stigma lain bahwa para tahanan justru menjadi semakin ahli dalam kejahatan yang mereka lakukan. Kalau dulu mereka hanya menjadi pemakai narkoba, setelah disel malah bisa menjadi bandarnya. Kalau dulu mereka disel karena mencuri ayam, setelah keluar mereka lihai mencuri kambing, sapi, dan sebagainya.

Kalau mau mengkritisi kondisi Lapas dan para tahanannya, sebenarnya banyak sekali catatan yang harus menjadi agenda perbaikan (meski saya bukan orang yang secara langsung berurusan dengan Lapas, kecuali sekali saja waktu diminta mengisi pengajian di Lapas khusus perempuan di Bandung). Mafia peradilan bolah dibilang telah menjadi ujung persoalan masalah ini. Tetapi, saya tidak akan membahas soal mafia peradilan ini karena saya bukan ahli hukum, politikus, pengamat hukum, atau pengamat politik. Saya hanya rakyat kecil yang merasa prihatin dengan persoalan yang menimpa negeri ini.

Saya mencoba melihat masalah para tahanan ini dari sisi dampak sosialnya. Apa jadinya negeri ini kalau para tahanannya justru merasa betah tinggal di tahanan? Nyatanya mereka sering keluar-masuk tahanan, berarti kan mereka betah. Kalau tidak betah, seharusnya mereka tidak sudi kembali ke balik jeruji besi. Butuh makan dan sulitnya mencari pekerjaan di luar tahanan menjadi alasan mendasar mereka kembali ke penjara.

Dipesantrenkan Saja

Sel tahanan ternyata tidak memberi efek jera bagi para NAPI. Di sana mereka bisa bertemu dengan orang-orang senasib, bisa sharing tentang keahlian mereka dalam dunia kejahatan. Tanpa pembekalan ilmu agama yang cukup (meski katanya guru ngaji/penceramah, pendeta, dan pemuka agama lain telah didatangkan untuk mengisi ruhiyah sesuai keyakinan mereka), mereka pun bisa semakin liar.

Tidak adanya “pola pembinaan” yang tepat yang mengarahkan mereka kepada pertobatan, mungkin inilah penyebabnya. Mereka hanya dikurung di suatu tempat agar tidak melakukan kejahatan di luar, tapi di dalam sel tidak diberi pengertian dan dan arahan untuk memerbaiki perbuatan mereka. Seharusnya tim “Tujuh Hari Menuju Tobat” yang pernah ditayangkan di TV masuk ke sel-sel tahanan agar para napi insyaf dan bertobat. Atau buat pola pembinaan ala pesantren masuk dalam kegiatan keseharian mereka. Tentu saja dengan fasilitas yang jauh dari kemewahan. Lha wong para santri saja dididik untuk hidup sederhana dengan makan seadanya, tidur hanya beralaskan tikar seperti Rasulullah Saw. Masak para tahanan yang seharusnya benar-benar dididik minimal menjadi pribadi lebih baik dari sebelum masuk rutan harus hidup bermewah-mewahan. Kapan mereka akan jera dan menyadari kesalahannya?

Kalau para anggota lapas ini sibuk ngaji, saya pikir tidak akan ditemukan lagi tahanan yang mengisi kegiatan di sana dengan luluran atau perawatan kecantikan lain seperti yang sering dilakukan Ayin, tahanan yang selalu tampak ayu dan kenes saat hadir di persidangan. Biarkan orang-orang seperti mereka mengisi kesehariannya dengan pertobatan. Hm….mungkin nggak, yah? Mimpi, kali ye…..@

Senin, Desember 28, 2009

Infotainment vs Jurnalis




“Perlu diingat, infotainment bukan jurnalis. Mereka hanya bekerja kepada perusahaan hiburan,” tegas Nezar Patria, Ketua Aliansi Jurnalis Independen (AJI) seperti dilansir okezone.com, Sabtu (19/12/2009).

Penolakan kepada para pekerja infotainment sebagai wartawan atau jurnalis sebenarnya sudah lama terjadi. Salah satu alasannya karena infotainment sudah terlalu jauh masuk ranah pribadi nara sumber, mereka banyak memberitakan privasi seseorang, padahal wartawan tidak berkepentingan dengan hal itu. Meski mereka melakukan pekerjaan selayaknya seorang jurnalis−melakukan wawancara dengan nara sumber, kadang melakukan proses investigasi sebelum menemui nara sumber, lalu memberitakan hasil kerja mereka kepada publik−tapi fokus pemberitaan dan cara-cara kerja mereka dianggap tidak sesui dengan kode etik jurnalis.

Wartawan atau jurnalis lebih fokus pada hal-hal di ranah publik, kalau toh harus memberitakan seseorang, kepentingannya pun untuk publik. Misalnya, memberitakan tentang tokoh A karena dia banyak berjasa di lingkungannya atau di bidang yang selama ini digelutinya, atau memberitakan tokoh B karena diduga terlibat dalam tindak korupsi yang banyak merugikan negara. Memang, dunia pers tetap mengakui keberadaan wartawan hiburan, tapi lebih pada penyiaran tentang acara konser atau pertunjukan yang perlu disiarkan kepada publik. Ini jauh pengertiannya dengan infotainment yang biasanya lebih fokus pada artisnya dibanding acara konsernya.

Namun, mereka takmau berhenti untuk memperjuangkan keinginan mereka hingga akhirnya memiliki wadah dan diakui sebagai wartawan dengan diterimanya mereka sebagai anggota Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) pada tahun 2005. PWI berpendapat, para pekerja infotainment justru harus dirangkul agar tidak bertindak liar. Itulah alasan mereka menerima pekerja infotainment sebagai anggota PWI yang berarti mengakui mereka sebagai wartawan atau jurnalis.

Siapa sangka kalau keberadaan dan eksistensi mereka yang sudah diakui sebagai wartawan kembali terusik dengan munculnya kasus Luna Maya kemarin. Para pekerja infotainment melaporkan Luna Maya, artis yang naik daun sejak menjadi host acara Dahsyat ini karena ulahnya yang dianggap menyinggung para pekerja infotainment.

Luna, seperti dilansir okezone.com, terancam denda Rp.1 miliar dan kurungan enam tahun penjara karena dijerat pasal 27 ayat 3 UU ITE, pasal 310, 311 dan 315 KUHP. Pasal-pasal itu menyangkut pencemaran nama baik, fitnah, penghinaan, dan perbuatan tidak menyenangkan. Masalah itu berawal ketika Luna hadir menyaksikan akting perdana kekasihnya, Ariel 'Peterpan' sebagai Arai di film Sang Pemimpi yang digelar di XXI EX, Thamrin, Jakarta Pusat, Selasa (14/12). Usai menonton, kepala Alea, anak Ariel yang berada dalam gendongan Luna terbentur kamera infotainment. Luna kesal hingga menuliskan caci-maki untuk infotainment via twitter dengan akun Lunmay.

Tindakan pelaporan para awak infotainment ini kepada Polda Metro Jaya kemudian mendapat kecaman dari Dewan Pers dan Aliansi Jurnalis Independen (AJI) karena pemakaian pasal 27 ayat 3 UU ITE yang digunakan untuk menjerat Luna. Padahal, para jurnalis dan wartawan pada umumnya, melalui Dewan Pers, AJI, dan PWI sendiri sedang mengupayakan penghapusan pasal yang dianggap kontroversi atau pasal karet ini. Pasal ini dianggap telah mengebiri kebebasan pers dan kebebasan berpendapat bagi masyarakat umum. Pasal ini pula yang telah menjerat para kru jurnalis ke dalam jeruji besi karena pemberitaan mereka dianggap telah mencemarkan nama baik seseorang. Berita terbaru adalah kasus Prita Mulyasari yang juga dianggap telah mencemarkan nama baik RS OMNI International. Juga dijerat dengan pasal ini.

Ironis sekali bila kemudian perjuangan para jurnalis untuk menghilangkan hegemoni pemerintah dalam membungkam kebebasan pers ini kemudian dimentahkan oleh para awak infotainment yang mengaku jurnalis ini.

Saya tidak bermaksud untuk membela Luna Maya yang telah begitu arogan mengata-ngatai infotaiment sebagai pihak yang derajatnya lebih rendah dari pelacur. Kata-katanya ini memang pedas. Tapi toh itu hanya luapan emosi sesaat akibat perbuatan awak pekerja infotainment yang bersikap arogan pula memperlakukan Luna sebagai nara sumbernya. Ada akibat pasti karena ada sebabnya.

Saya juga tidak bermaksud untuk mengecilkan rasa kecewa para awak infotainment yang telah bekerja mati-matian mencari berita. Siapa pun orangnya pasti tidak ada yang mau derajatnya dianggap lebih rendah dari pelacur. Bukan pula ingin membela mana yang benar dan mana yang salah antara AJI, PWI, dan Dewan Pers. Begaimana pun saya juga pernah menjadi wartawan meski tidak mendaftarkan diri sebagai anggota dari ketiga lembaga pers yang telah saya sebutkan tadi.

Tetapi, yang menjadi titik persoalan di sini adalah penggunaan pasal karet untuk menjerat Luna. Menurut saya kurang tepat. Bila dunia pers menghendaki kebebasan berpendapat, seharusnya tidak kebakaran jenggot dengan wujud ekspresi kebebasan berpendapat yang dilakukan Luna. Ada alur panjang mengapa Luna mengungkapkan kekesalannya melalui akun pribadi Twitter. Dia, sekian lama merasa telah menjadi korban bulan-bulanan media infotainment akibat pemberitaan yang menurutnya kurang berimbang dan banyak merugikan dirinya secara pribadi.

Leo Batubara, Wakil Ketua Dewan Pers, menegaskan, kalau tetap nekat menggunakan UU ITE dalam kasus itu, hal itu sama artinya baik pekerja infotainmentt maupun PWI Jaya setuju dan mendukung UU ITE, yang juga berarti mendukung upaya mengkriminalisasi pers sendiri. Hal seperti itu teramat ironis dan memprihatinkan.

“Nanti pemerintah kan juga senang, ternyata ada wartawan infotainment setuju kebijakan yang bisa menjadi produk aturan yang represif bagi pers sendiri. Yang seperti itu malah jadi preseden di masa mendatang. Padahal kita berjuang agar dua pasal itu dicabut. Kami akan undang PWI Jaya supaya mereka paham apa itu kemerdekaan pers,” ujar Leo.

Jurnalis: Antara Idealisme dan Hiburan


Melihat pro dan kontra pekerjaan seorang jurnalis, saya jadi teringat beberapa tahun lalu saat masih menjadi wartawan di sebuah media Islami di Bandung. Waktu itu saya bertugas mewawancarai Zaskia Adya Mecca yang sedang mengisi acara di Bandung. Usai acara saya langsung menemui nara sumber. Namun, banyaknya para fans Zaskia membuat saya sulit untuk melakukan wawancara langsung dengannya. Akhirnya kami janjian untuk wawancara di sebuah restorant di Bandung. Kami pun bertemu di sana. Aman, tanpa kejaran para fansnya. Kami pun leluasa melakukan wawancara. Setahu saya Zaskia hanya ditemani ibundanya dan Haikal, adik lelakinya. Di luar dugaan, ternyata ada Syahrul Gunawan di sana.

“Nggak papa yah, ketemu di sini? Sekalian, soalnya Kang Alul ngajak saya dinner, ya udah ketemu di sini aja,” kata Zaskia setelah bertemu saya.
“Oh, iya, nggak papa, kok. Lagian lebih aman dari kejaran para fans Mbak Zaskia,” jawabku singkat.

Sebenarnya saat itu saya sudah mulai curiga, “Syahrul Gunawan ngajak Zaskia dinner? Apa mereka punya hubungan khusus?” Tetapi, saya mencoba tetap berkhusnudzan, toh nggak ada salahnya seorang sahabat mengajak makan malam sahabatnya.

Kami pun memulai wawancara. Satu per satu pertanyaan dijawab dengan lancar oleh Zaskia.

“Terus kapan nih, rencana Mbak Zaskia nikah?” tanya saya.
Zaskia tidak langsung menjawab, malah balik nanya kepada Syahrul, “Kapan?”
“Dua tahun lagi, deh,” jawab Syahrul kepada Zaskia.
“Yah, dua tahun lagi,” Zaskia menjawab balik pertanyaan saya.

Seolah menambah kecurigaan saya akan hubungan mereka berdua. Kalau mengikuti rasa kecurigaan saya, ingin rasanya saya menulis besar-besar judul tentang hubungan mereka berdua yang waktu itu belum ditulis oleh media mana pun. Tetapi, saya tidak ingin terjebak dengan penulisan yang berbau ghibah. Saya pun menuliskan apa adanya bahwa ketika saya bertanya rencana nikahnya, Zaskia malah berbalik bertanya kepada Syahrul. Bla…bla…tanpa ada kata pacaran atau status hubungan mereka.

Ketika saya serahkan hasil tulisan saya di rapat redaksi menjelang naik cetak, ternyata tulisan saya dikritik habis. “Kita bukan media gosip, jangan memberitakan hal-hal yang berbau gosip. Kabar terakhir Syahrul kan sedang menjalin hubungan dengan Intan Nuraini. Nanti kita diprotes gara-gara memberitakan hubungan Syahrul dengan Zaskia yang belum tentu benar.” Saya pun mandah diam dan menerima saja keputusan mereka karena saya juga mengakui kebenaran pendapat mereka. Saya waktu itu tidak punya bukti kalau mereka berpacaran, apalagi belum ada media yang memberitakan tentang hubungan mereka. Saya tahu, sebagai media Islami, kami juga tidak mengenal istilah pacaran. Jadi, sangat ironis kalau kami memberitakan tentang hubungan pacaran seseorang. (Itu pun kalau benar pacaran). Akhirnya saya hanya memberitakan tentang bincang-bincang singkat kami dengan Zaskia tentang acara yang baru diikutinya. Klise memang kesannya, tapi prinsip kebenaran sebuah berita memang harus benar-benar kami pegang. Daripada kami harus memberitakan hal yang belum pasti dan berbau ghibah pula, lebih baik memberitakan hal yang pasti kami tahu kebenarannya, meski terkesan klise.

Sebulan setelah hasil wawancara saya dengan Zaskia tayang di media kami, berita tentang kedekatan hubungan Zaskia dengan Syahrul Gunawan pun mencuat di media. Rupanya hubungan mereka sudah tercium oleh media gosip. Bersyukur saya tidak ikut-ikutan menggosip, biarlah itu menjadi bagian kerjaan para kru infotainment. Toh akhirnya mereka putus dan memiliki pasangan hidup masing-masing.

Seharusnya perseteruan antara Luna Maya dan infotainment tidak perlu terjadi karena sebenarnya mereka saling membutuhkan. Namun, bila semua sudah terlanjur terjadi, kita hanya dapat mengambil hikmahnya. Mungkin inilah proses pendewasaan masyarakat kita dalam menyikapi media. Sudah seharusnya masyarakat kita kritis dalam memilih berita yang sehat, bukan sebatas menyenangkan dan menghibur kita.

Beberapa tahun lalu, tepatnya tahun 2006, PB NU pernah mengeluarkan fatwa haram infotainment karena dianggap berita ghibah. Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Said Agil Siradj, seperti dilansir Detik.com menilai, tayangan berisi gosip artis ini tergolong ghibah atau bergunjing. Keputusan mengharamkan tayangan televisi dengan rating tinggi ini diambil dalam Musyawarah Nasional NU di Asrama Haji Sukolilo, tahun 2006. Tetapi, fatwa ini tidak digubris oleh masyarakat karena mereka enjoy menikmati tayangan-tayangan infotainment yang waktu itu sedang menjamur di TV-TV nasional kita. Nggak gaul rasanya kalau belum tahu berita tentang artis A, ketinggalan rasanya kalau sampai nggak tahu berita tentang perceraian artis B, dan sebagainya. Mengikuti prinsip dagang, dimana ada pembelian pasti ada penawaran. Selama orang masih membutuhkan barang tertentu pasti ada yang menjualnya. Begitupun infotainment, selama masih ada yang mau nonton pasti akan ada yang menyiarkannya. Apalagi selama rating acara infotainment masih tinggi yang didasarkan pada penelitian Ac Nielsen sebagai standar media untuk meraup iklan, tentu acara ini akan terus ditayangkan.

"Mau apa lagi. Masyarakat kita seolah benci tapi rindu kepada infotainment," ungkap Ketua AJI Nezar Patria seperti diberitakan Detik.com.

Harapan saya, semoga kebebasan pers dan kebebasan berpendapat semakin kuat mengakar di negeri ini. Semoga masyarakat kita pun semakin cerdas untuk memilih dan memilah mana tayangan yang bagus dan sehat untuk dirinya, bukan sebatas yang mampu menghibur. Amin. @

Kamis, Desember 10, 2009

Koin Keadilan



Logam bulat itu berceceran di laci Leli, karyawan bank di Menteng, Jakarta Pusat. Takjauh dari meja Leli, logam putih dan kuning berkumpul dalam wadah plastik di meja Joko. Mereka harus berbagi dengan penjepit kertas. Sekitar lima meja dari keduanya, kumpulan koin berada dalam kehangatan celengan jago milik Prio. Koin-koin ini termasuk beruntung, karena berada dalam ruangan sejuk, dengan aroma wangi semerbak.


Di luar gedung itu, dua buah koin berdesakan dalam saku celana pengguna angkot kopaja. Sementara lima koin senilai Rp 500 berontak dalam saku tas seorang perempuan muda yang hendak keluar angkutan kota. Tidak berselang lama, beberapa koin menjerit kala dijatuhkan ke kantong plastik penyanyi jalanan. Koin-koin itu harus naik turun angkot dan kepanasan. Kadang si pembawa kantong taksegan melempar mereka ke tanah.


Keberadaan benda bundar itu pun kadang dikebiri oleh sebagian pusat perbelanjaan. Dengan dalih menambah keuntungan, uang recehan pun diganti dengan permen. Takbeda jauh dengan swalayan, awak kenek pun seringkali enggan menerima recehan. Raut muka mereka langsung berubah masam kala mendapati penumpang membayar dengan uang logam.


Begitulah nasib uang logam. Diremehkan, dikebiri, diremehkan, dan tidak dihargai. Sebuah gambaran yang takjauh beda dengan rakyat di negeri ini. Suara mereka tidak terdengar, hilang tersapu kabut markus, mafia peradilan, pejabat korup, birokrasi makelar, dan wakil rakyat yang tidak bersuara atas nama rakyat.


Melalui koin, rakyat kini bersuara lantang melakukan perlawanan. Rakyat berusaha melawan tirani kekuasaan yang hanya memberi ruang keadilan bagi segelintir kalangan. Mereka bersatu dalam gerakan Koin Peduli Prita. Dengan adanya gerakan ini, koin yang tadinya berceceran, kini mendadak dikumpulkan. Belum keadilan itu bergema di ruang pengadilan, koin-koin itu kini telah menghirup keadilan. Uang logam itu dicari dan menjadi bernilai, sama dengan saudara mereka, si uang kertas. Ayo dukung Koin Peduli Prita. Info lebih lengkap hubungi: Jl. Taman Margasatwa No.60 Jatipadang, Jakarta Selatan, telp (021) 7800271.


Untuk Bandung, bisa datang ke Tobucil & Klabs, Jl. Aceh No. 56 Bandung.


Salam 'Koin Keadilan'

Susan Sutardjo


(dari sebuah milis)