Selamat Datang Bagi Para Pecinta, yang Bersedia Menumbuh-Suburkan Cinta Demi Kedamaian di Dunia Ini!
Tampilkan postingan dengan label Muhasabah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Muhasabah. Tampilkan semua postingan

Jumat, Oktober 23, 2009

Rindu Suasana Religi


Ya Allah, Ampuni kekhilafan hati hamba
Ampuni hamba yang telah salah mengarahkan cinta ini

Ya Allah, bimbing hamba agar mencintai-Mu
Dan mencintai orang-orang yang mencintai-Mu
Allah… kumpulkan hamba bersama orang-orang yang mencintai-Mu
Satukan hamba bersama orang-orang yang mencintai syariat-Mu

Ya Allah, berikan hamba kenikmatan dalam cinta kepada-Mu
Cinta yang tidak akan membuat seorang hamba menyesal
Berikan hamba kenikmatan dalam beribadah kepada-Mu
Kenikmatan saat bersujud di atas sajadah-Mu
Kenikmatan dalam tangis taubat kepada-Mu
Kenikmatan dalam melantunkan ayat-ayat-Mu
Kenikmatan dalam berzikir menyebut Asma-Mu
Kenikmatan dalam beramar makruf nahyi mungkar
Seperti membuat pagar emas di surga-Mu

Ya Allah…
Satukan hamba di surga kelak bersama orang-orang yang mencintai-Mu
Ya Allah….
Berlebihankah jika hamba ingin dipertemukan dengan-Mu dan Rasul-Mu kelak?
Ya Allah….
Puaskan rindu ini dalam peluh cinta-Mu.


Kiara Condong, 22 Oktober 2009

Kamis, September 03, 2009

Tapak-Tapak Hikmah



Salah satu cara Allah Swt. mencintai pecinta ilmu adalah dengan mengaruniakan ilmu hikmah kepadanya, sehingga ia memiliki kearifan dan kebijaksanaan dalam hidupnya.

TAKTERASA, telah 18-19 tahun kita menjalani pendidikan formal. Selama itu, otak terus kita isi dengan berbagai disiplin ilmu yang kita geluti selama ini. Dalam tenggat waktu itu, sang waktu pun mengajarkan kita banyak hal. Dari mulai belajar main ayunan sewaktu TK, mengeja huruf dan menata angka-angka di SD, melalui masa-masa puber SMP-SMU hingga belajar berdebat di bangku kuliah. Hasilnya, titel sarjana kita lekatkan dalam sekian huruf nama kita.

Sahabat…
Cukupkah semua itu membuat kita patut disebut 'alim (orang berilmu)? Cukupkah selembar ijazah yang kita miliki menjawab persoalan hidup yang muncul silih berganti dalam kehidupan kita? Bukankah ketika selembar ijazah kita tawarkan dor to dor ke berbagai perusahaan –demi mengamalkan ilmu yang diperoleh selama ini, tak satu perusahaan pun menerima karena mereka mencari yang berpengalaman dan professional? Sekalipun diterima, bukankah lebih sering tidak sesuai dengan bidang keilmuan yang tertera di ijazah?

Sahabat …
Sebatas itukah arti menuntut ilmu? Sekadar memiliki selembar ijazah yang di sana terpampang nama dan titel kita? Lulus dengan predikat cumlaude dan mendapat pekerjaan dengan gaji lumayan? Jika hal itu benar, di mana sejati sang penuntut ilmu?

Sahabat …
Salah satu cara Allah Swt. mencintai pecinta ilmu adalah dengan cara memberinya ilmu hikmah, sehingga ia memiliki kearifan dan kebijaksanaan dalam hidupnya. Kearifan yang menjadi sifat induk akan melahirkan sifat-sifat terpuji lain, seperti mata rantai yang saling terkait. Sifat adil misalnya, akan mendorong seseorang memiliki sifat takwa, sabar, berilmu, tekad kuat, semangat dan sifat terpuji lain.

Sahabat …
Mengapa harus ilmu hikmah? Karena ilmu hikmah memiliki sentuhan-sentuhan yang berpengaruh dan begitu membekas pada pribadi seorang manusia. Seperti butiran-butiran tanah yang menumpuk lalu menjadi bukit, atau tetesan-tetesan air yang mengumpul kemudian menjadi sungai atau air terjun, atau seperti manusia yang berjalan di atas tanah, maka akan tampak padanya telapak kaki. Begitupun ilmu hikmah. Ia akan meninggalkan bekas dan pengaruh pada para pencinta ilmu. Lalu, seperti apa tapak-tapak ilmu hikmah yang membekas pada mereka? Khalil Al-Musawi dalam bukunya “Bagaimana Menjadi Orang Bijaksana”, menjelaskan 5 di antaranya, yaitu ;

Pertama, kematangan akal. Artinya, akal manusia menjadi kuat, dewasa, produktif, dan mampu menjangkau berbagai urusan kehidupan yang berlaku di sekelilingnya serta mampu berpikiran logis. Bebas dari penyakit akal seperti bodoh, sophisme (kepandaian memutarbalikkan hakikat) dan penyakit lainnya.

Kedua, mengambil pelajaran. Artinya, mampu mengambil nasihat dan pelajaran dari pengalaman masa lalu untuk masa mendatang, tanpa harus memulai dari nol pada setiap urusan, melainkan dari akhir pengalaman diri atau orang lain. Dalam Al-Quran, surat Al-Mu’min ayat 21 Allah Swt berfirman, “Dan apakah mereka tidak mengadakan perjalanan di muka bumi, lalu memperhatikan betapa kesudahan orang-orang yang sebelum mereka. Mereka itu lebih hebat kekuatannya daripada mereka dan (lebih banyak) bekas-bekas mereka di muka bumi, maka Allah mengadzab mereka disebabkan dosa-dosa mereka. Dan mereka tidak mempunyai seorang pelindung dari adzab Allah”.

Ketiga, melemahnya syahwat. Imam Ali as berkata, “Bilamana hikmah menguat maka syahwat melemah”. Menguatnya hikmah pada diri seseorang akan melemahkan kerakusan syahwat, baik seksual, makan dan minum, rakus pada kekayaan dan kekuasaan, serta syahwat lainnya.

Keempat, sabar meninggalkan hal-hal yang menyimpang. Orang yang bijak hakim) akan sabar menjauhi sifat tamak yang merupakan lawan dari sifat qana’ah, sifat pengecut yang merupakan lawan dari sifat dermawan, sifat takabur yang merupakan lawan dari sifat tawadhu, sifat cemas dan gelisah yang merupakan lawan dari sifat sabar dan tenang, sifat dusta yang merupakan lawan dari sifat jujur dan seterusnya.

Kelima, ketenangan dan kewibawaan. Salah satu pengaruh pada diri manusia ialah menjadikannya besar dalam pandangan orang lain, menjadikannya terhormat di sisi mereka, memiliki kepribadian yang kuat, kemampuan, kemuliaan dan pengaruh. Imam Ali as. berkata,”Barangsiapa mengetahui hikmah maka mata manusia memandangnya penuh kewibawaan dan ketenangan”.

Sahabat….
Adakah salah satu dari kelima hal di atas tampak pada diri kita? Mampukah kita menapaki ilmu hikmah? Jawabannya, semoga! Wallahua’lam. (Indah/Tabloid MQ/ Mei 2004)

Rabu, September 02, 2009

General Check-up Ruhiyah





Oleh Indah Ratnaningsih

Kalau kita tidak menghisab diri dan menyesali, serta mohon ampun kepada Allah Swt., maka di akhirat nanti semua anggota tubuh kita akan memberikan kesaksian yang tidak bisa kita elakkan.


SAKIT, sering membuat orang merasa resah. Apalagi kalau ternyata vonis dokter menyatakan kita terserang ”kanker” atau penyakit mematikan lainnya. Setiap hari selalu ada orang yang datang ke rumah sakit dengan berbagai keluhan hingga rumah sakit di mana pun tidak pernah libur dari pasien. Tidak sedikit orang mengeluh sakit, tetapi dokter merasa sulit mendiagnosa apa penyakitnya hingga general check-up menjadi alternatif untuk menemukan penyakit. Merasa tidak puas dengan pelayanan pengobatan di Indonesia, kadang orang yang berduit memilih Singapura untuk berobat. Kita rela mengeluarkan begitu banyak biaya untuk suatu penyakit yang kita derita karena takut akibat buruk dari penyakit tersebut, apalagi kalau nyawa taruhannya. Namun, pernahkah kita meresahkan ”hati” tempat merujuk baik buruknya seluruh amalan kita? Bukankah Rasulullah saw. pernah menyatakan, "Sesungguhnya suatu amalan tergantung dari niat." Sedang niat bersumber dari hati.

Sahabat....
Pernahkah kita mendengar kisah pengalaman seseorang ketika beribadah haji atau umrah? Di Mekah, betapa setiap amalan baik dan buruk sekecil apa pun, bahkan sesuatu yang baru terbertik di hati sekali pun sudah ditunjukkan balasannya secara cash oleh Allah Swt. Sombong dan ujub sekecil apa pun, kedongkolan yang baru tertambat di hati apalagi yang sampai terucap di mulut, akan langsung dirasakan akibatnya. Begitu pula kebaikan meski sekecil apa pun akan terasakan nikmatnya. Sungguh Allah Maha Membalas setiap amalan manusia. Subhanallah....tanah suci-Nya banyak memberikan hidayah pengingat akan setiap amalan manusia. Andai seluruh tempat milik Allah seperti Mekah Al Mukaramah, tentu setiap kita akan berhati-hati melakukan segala aktivitas. Andai setiap kita mampu mengontrol setiap gerakan hati agar memiliki niat yang lurus pada setiap amal, tentu berharap memiliki raport baik di akhirat bukan sekadar impian.

Sahabat...
Fenomena balasan amal manusia secara cash di Tanah Haram Mekah, di satu sisi akan terasa menakutkan bagi orang yang merasa diri banyak melakukan dosa besar. Dia akan takut pergi ke sana karena takut balasan dari Allah akan semua amal buruknya. Sehingga orang seperti ini lebih memilih menunaikan ibadah haji pada usia senja. Padahal umur manusia tidak ada yang tahu kapan akan berakhir. Bila balasan amal di dunia saja sudah sebegitu mengerikan bagi sebagian orang, tentu balasan amal manusia di akhirat nanti lebih dahsyat lagi. Aa Gym sering mengingatkan kita dalam ceramahnya bahwa bahaya terbesar dalam hidup adalah ketika kita sibuk dengan kekurangan dan kesalahan orang lain sehingga kita tidak memiliki cukup waktu untuk melihat kekurangan dan kesalahan diri. Kita pasti memiliki banyak dosa, tetapi masalah yang berbahaya bagi kita adalah ketidakberanian melihat dosa dan kesalahan diri.

Sahabat....
Setiap kita akan mempertanggungjawabkan seluruh amal perbuatan kita di akhirat nanti kepada Allah Swt. Seperti seorang pasien rumah sakit yang sedang melakukan general check-up untuk mengatahui apa penyakit yang diderita, begitupun di akhirat nanti. Seluruh anggota tubuh kita akan berbicara, melaporkan amalan apa saja yang pernah kita perbuat. Adakah nanti banyak mengumpulkan nilai kebaikan ataukah keburukan?

Sahabat....
Bila kita belum bisa menjadi seperti seorang sufi yang begitu merindukan bahkan memohon kepada Allah Swt. agar ditunjukkan dosa-dosanya setiap saat, setidaknya kita bisa terus berusaha mengevaluasi diri. Dosa apakah yang telah diperbuat oleh kedua tangan kita hari ini? Adakah mulut kita pernah melukai perasaan hati orang lain? Ke mana kita langkahkan kaki kita hari ini? Adakah kemaksiatan yang diperbuat oleh mata dan setiap bagian dari tubuh kita? Seabreg pertanyaan evalusi diri sebagai bentuk general check-up ruhiyah selayaknya terus kita lakukan.

Sahabat...
Kalau kita tidak menghisab diri dan menyesali, serta mohon ampun kepada Allah Swt., maka di akhirat nanti semua anggota tubuh kita akan memberikan kesaksian yang tidak bisa kita elakkan. Wallahua’lam. (Tabloid MQ, Sept, 2004)***

Senin, Agustus 03, 2009

Akhirnya Aku Bersedih Juga




(Rindu Ramadhan)




Indah, 29 Juli 2009



Kuambil Al Quran dan kubaca isinya
Rasanya lama sekali hari-hariku absen dari bertadarus
Malam-malamku sering lalai dari qiyamullail
Zikirku baru sekadar fasih di bibir
Futur… futur… futur…
Kering rasanya jiwa ini saat jauh dari-Mu

Mata ini kurang terjaga
Padahal nenekku dulu sering menasehatiku,
“Mata itu mahal, jangan kaupakai buat nonton maksiat seperti itu.”
kata nenekku sambil menunjuk TV yang sedang kupelototi gambarnya.

Telinga ini pun belum mampu kujaga dengan baik.
Lagu-lagu yang biasa muncul di TV
lebih sering mengisi gendang telingaku
daripada lantunan ayat-ayat Al quran.

Astaghfirullah haladzim…
Ampuni dosa-dosa hamba ya Allah.
Seharusnya di hati ini hanya ada tiga kata,
“Lillah (untuk Allah), Billah (bersama Allah), dan Fillah (di jalan Allah)”

Saat seperti ini…
Aku sangat merindukan suasana Ramadhan
Bulan yang membuatku bersemangat dalam beribadah.
Aku rindu suasana sahur bersama
Dan menikmati shalat berjamaah tarawih.
Aku rindu saat i’tikaf bersama di masjid.
Rindu berkumpul bersama orang-orang yang merindukan-Mu.

Ya Allah…
Sampaikan umurku hingga Ramadhan depan dan tahun berikutnya.
Berikan hamba kenikmatan ibadah Ramadhan
Bimbing hamba agar bisa meraih pahala 1000 bulan di keheningan lailatulqadar.
Kabulkan ya Alah….
Amin.

Jumat, Juni 12, 2009

Asah, Asih, Asuh





 Oleh Indah Ratnaningsih


Dengan terus meng’asah’ kemampuan mendidik anak, dilandasi dengan ’cinta dan kasih sayang’ dalam peng’asuh’an yang tepat, insya Allah harapan memiliki anak yang shaleh dan shalehah akan terwujud.

“Asah, Asih, Asuh”, kata yang begitu manis, terangkai menjadi satu kesatuan yang saling berkaitan, saling membutuhkan satu sama lain. Sebagai simbol kasih sayang. Rangkaian kalimat yang sudah tidak asing lagi di telinga kita. Namun pernahkah kita merenungkan lebih jauh akan makna yang tersirat di dalamnya? Terutama dalam hubungannya dengan pendidikan anak.

Sahabat...
Pernahkah kita memerhatikan anak kita ketika sedang mengasah pinsilnya dengan serutan? Awalnya ia akan melihat-lihat pensil dan serutan yang kita berikan, dibolak-baliknya sedemikian rupa. ”Gimana cara make alat ini?”, pikirnya. Ketika ia menemukan lubang pada serutan, ia pun memasukkan pinsilnya ke lubang itu. Mulailah ia memutar pinsil dalam lubang serutan. Sedikit demi sedikit pinsilnya terasah, semakin lama semakin runcing. Giranglah hatinya melihat hasil kerjanya.

Sahabat...
Seperti seorang anak yang mengasah pinsil dengan serutan, begitupun kita memaknai kata ’asah’ dalam mendidik anak-anak kita. Di balik kata ’asah’ ada pembelajaran, ada ilmu yang harus digali. Bila pinsil dan serutan adalah alat, maka alat untuk mendidik anak adalah ilmu. Ada suatu pernyataan bahwa pendidikan anak dimulai jauh sebelum seseorang menikah. Karena disadari atau tidak, meski belum menikah, sudah terangkai dalam pikirannya tentang bagaimana ia kelak mendidik anak-anaknya. Hingga bacaan-bacaan tentang pendidikan anak pun ia lalap. Sampai kemudian melalui proses ta’aruf, dalam penyatuan visi dan misi rumah tangga, soal pendidikan anak pun dibahas di sana. Dalam hal ini Ibu Lutfiah Sungkar mengingatkan, ”Kesalahan memilih suami berarti salah memilihkan bapak bagi anak-anak kita, sebaliknya kesalahan memilih istri berarti salah memilihkan ibu bagi anak-anak kita”. Proses menggali ilmu sebagai cara untuk menambah kemampuan mendidik anak, harus terus berjalan sampai ajal menjemput kita. Karena semakin anak beranjak dewasa sampai beranak cucu, semakin bertambah pula potensi masalah. Menuntut orang tua untuk semakin arif dalam mensikapinya. Sedang kearifan hanya didapat dengan ilmu.

Sahabat...
Menguasai ilmu tentang mendidik anak secara teori belumlah cukup. Ada hal lain yang harus digali dari dalam diri kita, yaitu cinta, kasih sayang dan ketulusan. Allah yang bersifat Ar-Rahman dan Ar-Rahim (Pengasih dan Penyayang), telah menurunkan setitik sifat-Nya yang satu ini pada manusia. Ketika kita memerhatikan anak perempuan kita sedang bermain boneka, apa yang bisa kita gali dari sana? Digendongnya boneka yang dianggapnya sesosok bayi mungil, didekap dan diajaknya bercengkrama layaknya bayi sungguhan. Seolah terpancar rona penuh kasih di wajah mungil anak kita. Ternyata Allah telah menanamkan rasa ’asih’ dalam jiwa sejak kita masih balita, bahkan mungkin sejak dalam kandungan. Nampak ketika bayi lahir ke dunia, tangisnya pun dirindukan orang-orang di sekitarnya, melihat wajahnya membuat rasa ’asih’ seketika merasuki relung hati kita. Rasa ’asih’ inilah yang harus dikembangkan ketika mendidik anak-anak kita. Sebagus apapun metoda pendidikan anak yang kita terapkan, bila tanpa ’asih’, akan terasa hambar. Karena anak bukanlah sebuah boneka atau robot yang dapat dibentuk semau kita. Harus didukung dengan cinta, dibina dengan kasih, dan dibentuk dengan rasa sayang. Namun demikian, bukan berarti harus memanjakan anak.


Sahabat...
Asah dan asih belumlah lengkap tanpa asuh. Pembinaan, pengarahan, dukungan baik secara langsung atau tidak, mutlak diperlukan. Penerapan metode pembinaan bisa sesuai teori yang kita dapat, namun akan lebih mengena bila pembinaan dibarengi dengan contoh kongkrit. Kembali pada seorang anak yang mengasah pinsil, ketika proses pembelajaran dari memerhatikan suatu benda (pinsil dan serutan), sampai akhirnya ia memutuskan mengasah pinsil dengan cara demikian, akan lebih cepat dan tepat bila sebelumnya ia sering melihat cara mengasah pinsil dari orang tua atau orang-orang di sekitarnya. Karena itu berilah contoh terbaik bagi anak kita.

Sahabat...
Dengan terus meng’asah’ kemampuan mendidik anak, dilandasi dengan ’cinta dan kasih sayang’ dalam peng’asuh’an yang tepat, insya Allah harapan memiliki anak yang shaleh dan shalehah akan terwujud. Namun harus tetap memasrahkan urusan kita pada Allah. Seandainya Ia berkehendak mengambil anak kita atau mendidik anak kita dengan cara-Nya, kita pun harus ikhlas menerimanya. Wallahu a’lam (Tabliod MQ, Juni 2004)